Opini

Pejuang kala Pandemi

TAK terasa sudah HUT Kemerdekaan lagi. Artinya, sudah dua kali peringatan HUT dengan suasana pandemi seperti ini. Saya masih ingat pernah menulis opini terkait kemerdekaan tepat setahun yang lalu. Kala itu saya menuliskan tentang perang melawan Covid-19. Perang seperti para pejuang dulu. Biarpun musuhnya berbeda, tetapi perangnya masih ada. Intinya saya mengajak semua orang untuk berperang melawan Covid-19.

Saat sekarang pun sama. Bahkan, kondisinya dapat dibilang lebih serius. Agustus 2020 lalu tambahan kasus konfirmasi harian belum sebanyak sekarang. Kasus kematian juga tak sebanyak saat ini. Penambahan signifikan terjadi usai Lebaran lalu. Saya tidak dapat membayangkan jika pemerintah tak melakukan pelarangan mudik Lebaran. Yang sudah dilarang saja, penambahannya seperti ini. Tak salah kemudian muncul berbagai kebijakan. Terbaru pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4. Sebelumnya, mengemuka istilah PPKM darurat.

Jika di medan pertempuran, darurat dapat diartikan kondisi genting-gentingnya. Begitulah kondisi pandemi kita saat ini. Beruntung kita punya aparat yang sigap. Selalu siap bergerak 24 jam. Mulai penyemprotan, memberikan imbauan, melakukan penyekatan, pemeriksaan, dan juga masih menjaga keamanan dan ketertiban. Mereka ini bisa dibilang pejuang. Pejuang melawan Covid-19. Ada juga pejuang urusan pemakaman. Anggotanya gabungan dari berbagai unsur. Mulai BPBD, PMI, petugas puskesmas, dan lain sebagainya. Mereka itu pejuang. Terutama sebulan terakhir ini. Tugas pemakaman dapat menyentuh belasan setiap harinya. Sebab, pemulasaraan jenazah secara protokol kesehatan juga berlaku bagi jenazah yang berstatus suspek.

Mereka istirahat seadanya di area makam. Pernah tak pulang dua hari dua malam. Belum lagi harus pakai APD yang supergerah itu. Beratnya sudah seperti di medan perang. Perjuangannya ibarat perang sungguhan. Mereka itu pejuang. Seperti yang pernah saya tuliskan, perang itu memang belum usai, kawan. Entah sampai kapan. Karenanya, saya minta mereka bersabar. Pemerintah sedang mengupayakan penambahan personel. Alhamdulillah, ada banyak relawan yang mendaftar. Mereka bisa menjadi amunisi tambahan.

Perjuangan tak kalah hebat tentu pada barisan tenaga kesehatan dan medis. Mereka adalah garda terdepan. Mereka bisa dibilang paling berisiko. Sudah berapa banyak dokter dan perawat yang telah gugur di medan pertempuran ini. Mereka adalah pahlawan perang. Perang melawan Covid-19. Perang ini sama bahayanya. Sudah ada ratusan korban di Kota Madiun. Tepatnya, sudah ada 432 warga kita yang meninggal. Juga termasuk dokter dan tenaga kesehatannya. Mereka itu pejuang.

Mereka sudah berjuang 1,5 tahun lamanya. Sudah seharusnya beristirahat. Tapi, kasus malah makin melonjak. Beban yang harusnya sedikit terkurangi, malah semakin menjadi. Pandemi memang bukan urusan pribadi. Ini butuh peran semua pihak. Termasuk masyarakat. Virus ini menular melalui manusia. Karenanya, kitalah yang harus tertib dan disiplin. Saat semua disiplin, kasus dapat semakin ditekan dan tugas para pejuang Covid-19 itu bisa semakin ringan.

Karenanya, masyarakat yang berdisiplin adalah juga pejuang. Setidaknya mereka telah berjuang menahan diri untuk menjalani hari yang tak bebas seperti dulu. Menahan diri untuk selalu menutup mulut dan hidung memakai masker. Menahan diri untuk tidak berkerumun. Menahan diri untuk tidak pergi ke bioskop atau belanja ke mal. Menahan diri untuk lebih banyak di rumah. Menahan diri untuk tidak bepergian ke luar kota. Menahan diri dari semua pembatasan yang diberlakukan. Mereka itu pantas disebut pejuang.

Belum lagi masyarakat yang peduli dengan sesamanya. Saling berbagi meringankan beban warga. Saya paham banyak pengusaha yang mengencangkan ikat pinggang saat ini. Meski begitu, mereka tak pelit berbagi. Sudah ada banyak beras, telur, roti, masker, hand sanitizer, dan lain sebagainya dari para pengusaha. Semua dibagikan untuk meringankan beban mereka. Saya percaya, banyak warga yang rela berbagi untuk membantu sesama. Ada banyak cerita tentang warga membantu makanan sehari-hari warga isoman. Ada juga yang menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu bahan makanan. Mereka itu adalah pejuang.

Pejuang di jalan mereka masing-masing. Pejuang dengan keahlian atau materi masing-masing. Inilah makna perjuangan. Seperti ini harusnya mengisi kemerdekaan. Kita memanfaatkan apa yang ada dengan sebaik-baiknya untuk saling menyempurnakan. Yang memiliki keahlian, berjuang dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Yang berlimpah materi, menyempurnakan melalui harta yang dititipkan. Yang belum memiliki keduanya, tetap bisa berjuang untuk turut menyempurnakan kehidupan melalui doa. Mereka itu adalah pejuang. Pejuang di segala lini di kala pandemi

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button