Madiun

Pecel untuk 42 Negara

MALAM ini hingga besok pagi, Kota Madiun kedatangan tamu istimewa dan luar biasa. Istimewa karena tamu-tamu ini berasal dari berbagai belahan dunia. Luar biasa, karena menurut saya mereka bukan manusia pada umumnya. Mereka manusia-manusia dengan kekuatan otot kaki melebihi manusia biasa. Maklum saja, mereka adalah atlet-atlet bersepeda jempolan dunia.

Senang sekali rasanya. Tour de Indonesia kembali menyapa kota kita tercinta. Kota Madiun kembali dipercaya menjadi salah satu lokasi start dari sejumlah etape event bersepeda internasional di tanah air itu. Informasi yang saya terima, kegiatan diikuti atlet-atlet bersepeda dari 42 negara. Itu baru atletnya. Belum ofisial dan kru lainnya. Jumlahnya lebih dari seratusan. Ini kesempatan langka. Pun, tidak mudah.

Kota Madiun harus bersaing dengan daerah-daerah sekitar yang juga ingin menjadi tuan rumah. Awalnya, tempat start akan di daerah lain. Kawasan wisata Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan salah satu yang mengemuka. Alasan tidak di Kota Madiun juga karena gelaran serupa sudah pernah dilakukan di Kota Pendekar. Tepatnya, Januari 2018 lalu.

Kota Madiun menjadi lokasi start Tour de Indonesia tahun itu. Seperti yang saya bilang tadi, ini kesempatan langka. Kita harus menyakinkan panitia. Kota Madiun lebih siap menjadi tuan rumah. Pengalaman tahun lalu yang awalnya menjadi alasan untuk tidak di Kota Madiun, saya balik menjadi modal dasar untuk menyakinkan panitia. Daerah yang pernah menjadi tuan rumah tentu lebih berpengalaman. Hasilnya, seperti yang sudah dijadwalkan malam nanti.

Ratusan atlet dan ofisial akan berkumpul di Kota Madiun. Ini merupakan satu keuntungan tersendiri bagi Kota Madiun. Menjadi tuan rumah, perekonomian Kota Madiun akan turut terangkat kendati hanya semalam. Akan banyak yang membutuhkan tempat menginap. Baik peserta, panitia, ofisial, hingga wisatawan yang mengikuti gelaran event. Khusus untuk peserta kabarnya akan menginap di Aston Hotel. Keesokan harinya, baru mengikuti perlombaan. Artinya, ada waktu hampir setengah hari untuk menjamu sekaligus mengenalkan Kota Madiun kepada dunia melalui mereka.

Kesempatan ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mereka yang sudah mampir disini setidaknya memiliki cerita dari Kota Madiun untuk teman-teman mereka di negara masing-masing. Terutama soal kulinernya. Saya sudah berencana menjamu mereka dengan Pecel Madiun. Tidak perlu kesana-kesini. Cukup di tempat mereka menginap. Saya sudah menginstruksikan pihak hotel untuk menyiapkan pecel madiun. Benar-benar pecel khas Madiun. Yakni, pecel dengan sambal kacang bercampur jeruk. Bukan kencur seperti di daerah lain. Pembuatan sambel pecelnya juga menggunakan gula merah. Bukan gula putih. Ini memberikan citra rasa tersendiri.

Kenapa itu perlu? Saya ingin Pecel Madiun melekat di benak para atlet luar negeri tersebut. Tatkala mereka juga mendapatkan suguhan nasi pecel di daerah lain, mereka dapat membedakan. Seperti yang kita ketahui, nasi pecel hampir ada di seluruh Jawa Timur. Bahkan di pulau Jawa dan di daerah-daerah lain. Saya ingin ada kata Madiun dalam benak mereka tatkala berbicara soal pecel. Seperti yang terpatri dalam benak masyarakat tanah air. Pecel ya Madiun. Saya ingin atlet-atlet dari 42 negara itu juga seperti itu. Tatkala berbicara tentang Indonesia, mereka langsug teringat kuliner Pecel Madiun. Syukur-syukur mau kembali singgah ke sini. Pecel Madiun kita kenalkan ke dunia melalui perwakilan dari 42 negara tersebut.

Hal itu butuh peran semua pihak. Termasuk masyarakat. Pemerintah tentunya akan berupaya memberikan jamuan yang terbaik. Saya harap masyarakat juga begitu. Paling tidak turut memberikan keramahan. Suasana yang hangat dan nyaman ini pastinya memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan tersebut. Pelayanan yang baik akan menarik mereka untuk datang kembali. Tatkala mereka datang, tentu butuh tempat yang layak dalam menyuguhkan pecel ini. Seperti tulisan saya sebelumnya, saya berangan Kota Madiun memiliki sebuah kampung pecel. PeceLand namanya.

Tempat ini akan bertaraf internasional. Baik restoran maupun kebun-kebun pendukung pecel yang di sekitarnya. Mulai kebun pohon turi, kacang panjang, tebu, ketela dan lain sebagianya. Kebun-kebun tersebut harus berbasis IT. Semuanya harus lebih modern. Disandingkan dengan konsep Smart City yang mulai berjalan di Kota Pendekar. Semua tahapan wajib menggunakan teknologi. PeceLand ini juga sebagai sarana edukasi. Rencananya juga menyuguhkan laboratorium yang memperlihatkan proses pembuatan pecel dan makanan khas lain. Mulai pembuatan sambel pecel, madumongso, tape kambang -minuman tradisional pendamping nasi pecel-, dan pembuatan gula merah dari tebu.

Khusus pemerasan air tebu untuk bahan gula, akan menggunakan cara tradisional. Yakni, menggunakan tenaga sapi. Namun, proses pembuatan gulanya tetap berbasis teknologi modern. Ini sengaja agar teknologi tradisional tidak hilang. Namun, dipadukan. Berbagai suguhan kesenian dan budaya juga ada di dalamnya. Mulai pencak silat hingga seni budaya daerah sekitar. Ini sengaja karena Kota Madiun merupakan window display Jawa Timur wilayah barat. Saya menargetkan rintisan-rintisan PeceLand ini sudah dimulai 2020 mendatang.

*Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, M.Pd.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button