Pacitan

Patri Witoyo, Dalang yang Bertahan di Tengah Perkembangan Zaman

Semakin Berkurang Peminat, Jumlah Penonton Menurun

Seiring perkembangan zaman, semakin banyak orang yang kehilangan minat terhadap wayang. Alih-alih memainkan, menonton saja enggan. Patri Witoyo, pedalang Desa Kalikuning, Tulakan, mencoba bertahan di tengah fenomena itu.

===================== 

SRI MULYANI, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

TATKALA menyadari penonton ngantuk, Patri Witoyo menyelipkan humor dalam babak pewayangan yang dimainkannya. Penonton pun dibuat terpingkal-pingkal dan mengumbar senyum. Setelah suasana kembali hidup, dalang wayang kulit dari Desa Kalikuning, Tulakan, itu melanjutkan cerita pewayangannya. ‘’Bule kakang, bule kakangku, sembahku tampanono,’’ ucapnya mencontohkan salah satu banyolan agar penonton bisa kembali menikmati pertunjukan.

Patri menjadi dalang sejak 1988 silam. Bertahan melestarikan seni pertunjukan itu selama 31 tahun. Di tengah perkembangan zaman dan gempuran teknologi. Juga banyaknya orang yang kehilangan minat menonton wayang. Jumlah penonton dirasakan menurun dalam kurun lima tahun terakhir. ‘’Perlu kreativitas untuk memainkan wayang yang tidak meninggalkan unsur klasik sehingga bisa menyesuaikan zaman,’’ ujarnya.

Pria 45 tahun itu biasa manggung di daerah Tambakrejo, Dadapan, dan Arjosari. Pernah diundang ndalang dua kali di Sumatera. Paling sering menerima job acara khitanan, tasyakuran, dan nikahan. Patri gemar memainkan lakon seperti Sesaji Raja Suya, Ramayana, Wahyu Makutho Romo, dan Bimo Labuh. ‘’Ada perasaan bahagia yang tidak terkira ketika mendapat apresiasi tepuk tangan dari penonton,’’ ucapnya sambil menyebut honor sekali ndalang Rp 7 juta dan Rp 9 juta.

Bakat seni mengalir dalam darah Patri. Anggota keluarganya adalah pedalang. Meski begitu, dia tidak lantas suka dengan wayang. Suatu hari setelah lulus SMP, kakaknya memberi wejangan. Bapak dua anak itu diminta meneruskan pekerjaan turun-temurun itu. Menilik tradisi panjang, sangat disayangkan kalau akhirnya berhenti. ‘’Saya merenung, dan ternyata apa yang dikatakan kakak itu benar sekali. Akhirnya belajar ndalang dan mulai tampil di acara-acara perpisahan sekolah,’’ terangnya.

Sejak tujuh bulan lalu, Patri mengajarkan ilmu pewayangan dan karawitan kepada anak-anak karang taruna. Pria yang memiliki 100 lembar tokoh wayang itu tidak ingin wayang hilang termakan zaman. ‘’Karena wayang tidak sekadar menggerakkan, tapi juga menyampaikan nilai karakter atau pembelajaran lewat cerita yang disampaikan,’’ tutur penyuka tokoh Puntadewa atau Yudistira tersebut. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close