Ponorogo

Pasien Positif Tambah Satu, Anak dari Pasutri Klaster Sukolilo 

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Ponorogo bertambah satu orang dari klaster Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Pasien tersebut merupakan anak pasangan suami istri (pasutri) yang telah terkonfirmasi positif sebelumnya.

Kondisinya terus membaik. Sudah 15 hari diisolasi di RSUD dr Harjono. ‘’Dengan penuh keprihatinan, kami sampaikan bahwa salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) anak-anak ini dinyatakan positif,’’ kata Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni Kamis (23/4).

Pasien positif nomor urut 7 tersebut anak pasien nomor urut 1 (ayah) dan nomor 5 (ibu). Hasil uji swab sekitar dua pekan lalu keluar Rabu sore (22/4). Saat dinyatakan positif, anak tersebut sudah diisolasi bersama ayah dan ibunya di RSUD. ‘’Swab kedua tujuh hari yang lalu belum keluar hasilnya,’’ lanjut bupati.

Secara kumulatif, total tujuh pasien positif Covid-19 di Bumi Reyog. Satu di antaranya sudah sembuh. Sehingga, tinggal enam orang yang masih menjalani perawatan. Ipong menyebut, pasien positif nomor urut 7 juga dalam kondisi baik. ‘’Bahkan bisa dikatakan relatif baik dibandingkan saat masuk RSUD 15 hari lalu,’’ terangnya.

Sementara hingga kemarin siang, ada 27 PDP di Ponorogo. Sebanyak 12 di antaranya menjalani isolasi mandiri dan yang lulus sepuluh orang. Sementara yang diisolasi di rumah sakit lima orang. Dari 27 PDP, tiga orang hasil rapid test-nya reaktif. Seorang di antaranya naik status positif (pasien anak nomor urut 7). ‘’Mudah-mudahan hasil uji swab untuk dua PDP tersebut negatif. Sehingga, jumlah pasien positif korona tidak bertambah,’’ harapnya.

Sedangkan orang dalam pemantauan (ODP) secara kumulatif 374 orang. Sebanyak 294 orang sudah lulus isolasi, sementara empat orang diisolasi di rumah sakit dan 76 lainnya isolasi mandiri. Demi menekan potensi penyebaran, Ipong mengimbau masyarakat salat Tarawih di rumah. ‘’Kalau memang ingin berjamaah di masjid wajib mematuhi protokol kesehatan. Cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak. Masjid dan musala hanya untuk warga di lingkungannya saja,’’ jelas Ipong. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close