Pacitan

Pasien Positif Korona Menikah

Orang Tua Karantina Mandiri, Kasun Jadi Wali Nikah

Pasien terkonfirmasi Ardian Febrianto tak menyangka bisa tetap mempersunting Megi Rita Angelina. Sepasang kekasih beda kecamatan itu Kamis (23/7) melangsungkan akad nikah di wisma atlet tempat Ardian diisolasi.

SUGENG DWI NURCAHYO, Kota, Jawa Pos Radar Pacitan

SUASANA taman di depan wisma atlet menjadi tidak biasa. Lokasi isolasi pasien positif Covid-19 itu dihadiri banyak orang. Beberapa di antaranya berpakaian alat pelindung diri (APD) level tiga. Mereka menunggu.

Tak berselang lama seorang pria berbaju batik dan memakai masker keluar dari balik pintu gerbang wisma atlet. Dia adalah Ardian Febrianto. Didampingi sejumlah tenaga medis, pasien terkonfirmasi asal Desa Sepang, Kecamatan Tulakan, itu berjalan menuju terop yang sudah disiapkan sejak pagi oleh TGTP Covid-19 Pacitan.

Seorang perempuan yang berbusana kebaya oranye menunggu di tenda seberang yang berjarak sekitar lima meter. Dia adalah Megi Rita Angelina, calon istri Ardian. Seorang penghulu kemudian datang. Ber-APD.  Buku hijau dan merah dikeluarkan. Kalimat sakral ijab kabul diucapkan. ‘’Sah ya?’’ kata penghulu. ‘’Sah!’’ teriak kepala dusun (kasun) yang menjadi wali nikah. Beberapa orang lainnya kompak menimpali. ‘’Tetap sah sekalipun ada jarak saat ijab kabul tadi,’’ kata M. Yasin, penghulu tersebut.

Seusai akad, suasana semakin haru. Tangis Ardian dan Megi pecah begitu penghulu mengakhiri acara. Air mata sepasang pengantin itu makin menjadi. Terlebih Megi. Perempuan asal Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo itu sesenggukan ketika melihat suaminya digiring kembali ke ruang isolasi.

Ardian berharap istrinya tabah. Baginya, ini merupakan cobaan. Ardian sempat memberikan keterangan kepada awak media melalui pengeras suara. Bahwasanya pernikahan di tempat isolasi benar-benar di luar rencana.

Ardian dan Megi awalnya berencana menikah di Dusun Mukus, Desa Nogosaro, Kecamatan Ngadirojo. Rencana tersebut sudah matang. Bahkan, undangan telah disebar ke sejumlah kerabat. Namun, masalah muncul. Tiga hari lalu, Ardian dinyatakan positif Covid-19. Dia dijemput petugas kesehatan dan diisolasi di wisma atlet. ‘’Mendapati hal itu saya panik dan bingung. Menjelang hari pernikahan saya harus (menjalani) karantina di wisma atlet,’’ ujarnya.

Ardian diduga tertular virus SARS-CoV-2 dari rekannya sekuriti perusahaan pembangkit listrik di Sudimoro. Dia pun meminta solusi kepada para tenaga medis. Dia bertanya apakah pernikahannya bisa tetap terlaksana. Sebab, tanggal baik sudah ditentukan sejak lama.

Beruntung curhatannya itu direspons. Tim medis yang tergabung dalam TGTP Covid-19 Pacitan bersedia memfasilitasi akad nikah. Sekalipun kedua orang tua tidak bisa hadir karena harus menjalani karantina mandiri. ‘’Pastinya senang karena sudah nikah. Tapi, emosi juga. Karena saat akad nikah nggak bisa kumpul dan disaksikan keluarga,’’ ucap pemuda 20 tahun itu. ****(her/c1)

Dua Hari Sulit Tidur sebelum Pimpin Akad Nikah

JANTUNG M. Yasin berdegup kencang. Kucuran keringat membasahi pakaian batik yang dikenakannya saat itu. ‘’Karena terasa pengap saat memakai alat pelindung diri (APD) lengkap,’’ katanya Kamis (23/7).

Yasin adalah penghulu yang menikahkan pasien terkonfirmasi Ardian Febrianto dengan Megi Rita Angelina. Dia begitu gugup. Sebelumnya tak pernah sekalipun dia mengijabkan warga yang sudah diketahui positif Covid-19. ‘’Baru kali ini,’’ ujarnya.

Penghulu KUA Ngadirojo itu mengaku diberi tahu dua hari sebelumnya bahwa calon pengantin pria yang akan dinikahkannya telah terpapar virus korona. Mendengar hal itu, Yasin seperti disambar petir di siang bolong. Dia tidak tahu harus bagaimana. ‘’Yang jelas, dua hari sebelum hari pernikahan saya tidak bisa tidur,’’ ungkap Yasin.

Berkas pernikahan Ardian-Megi masuk ke KUA Ngadirojo pada 6 Juni lalu. Sesuai rencana, akan nikah berlangsung Kamis pagi (23/7). Berhubung calon mempelai pria terkonfirmasi positif, rencana berubah. Akad nikah digelar sore. ‘’Sehari sebelumnya saya sempat ke rumah calon pengantin untuk mengambil dari walinya. Tapi, karena mereka sudah tua dan tidak mungkin datang, saya dipasrahi untuk menjadi wali,’’ jelasnya. (gen/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close