Pacitan

Pasien Pertama Covid-19 Pacitan, Huda: Kalau Punya Komorbid Mungkin Saya Nggak Akan Kuat

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Tak terasa pandemi korona sudah genap satu tahun. Paling berat dari wabah ini bukan semata serangan virusnya hingga merenggut nyawa. Selain berupaya menggapai kesembuhan, para penderitanya juga berjuang melawan stigma.

Di Pacitan, pasien pertama korona jatuh kepada Muhammad Nurul Huda. Siapa nyana keberangkatannya ke Asrama Haji Sukolilo berbuah Covid-19. Tepat 9 April tahun lalu, dia yang masih menjabat kepala Kantor Kemenag Pacitan itu menjadi satu-satunya orang yang terkonfirmasi di kabupaten ini. Seusai bertolak dari Surabaya.

Menyandang status pasien pertama seusai bertolak dari Surabaya bukan perkara ringan bagi siapa saja, termasuk Huda. Apalagi saat itu wabah dari Wuhan, Tiongkok, itu masih hangat-hangatnya. Tidak banyak yang tahu harus berbuat apa. Semua orang ketakutan. Belum ada istilah protokol kesehatan. Stigma negatif tersemat kepadanya. Cibiran hingga dijauhi rekan sempat didapatinya saat menyandang predikat pembawa virus kali pertama. ‘’Kalau punya komorbid, mungkin saya juga nggak akan kuat,’’ katanya.

Karantina yang dijalaninya bukan hitungan pekan. Dua bulan setengah lamanya Huda menjalani masa keterkurungan itu. Total 74 hari. ‘’Semula saya dirawat di rumah sakit. Setelah kondisi berangsur membaik dipindah ke wisma atlet,’’ ujar pria yang kini menjabat kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Provinsi Jatim itu.

Hebatnya stigma yang melekat sempat membuatnya mengalami tekanan mental. Nyaris depresi hingga sempat diisukan meninggal dunia. Huda terus menata hati dan memahami situasi. Karena virus yang mendunia kala itu memang baru menjangkiti negeri ini. Lambat laun, masyarakat mulai teredukasi sehingga pandangannya tak seheboh dulu. ‘’Kalau penderitanya masih diperlakukan seperti dulu, hanya orang-orang tabah saja yang bisa lolos dari korona,’’ ungkapnya.

Puluhan hari karantina hingga keluar dari Wisma Atlet 15 Juni 2020, Huda tercatat menjalani swab test hingga 11 kali. Belasan bulan berlalu, Huda mengamini stigma yang ada tak lagi melekat kepadanya. Sebagai pejabat pemprov, Huda kini tetap leluasa saat anjangsana ke beberapa daerah di Jatim. Meski menyandang status penyintas korona. ‘’Jauhi penyakitnya jangan orangnya itu masih jadi slogan saja. Saya harapkan tak ada lagi penderita yang dikucilkan atau mendapatkan penolakan,’’ tuturnya. (gen/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button