Ponorogo

Pasar Sulit, Batik Ponoragan Susah Melejit

PONOROGO – Kerajinan batik Ponoragan sejatinya telah bergeliat sejak 1950 silam. Sejak itu pula, ratusan usaha kecil dan menengah (UKM) batik lukis tradisional terlahir. Tidak banyak dari UKM yang sanggup bertahan didera problem permodalan dan pemasaran. Membuat UKM yang bisa dibilang benar-benar berkembang sampai kini tak lebih dari sepuluh kelompok.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni tak tinggal diam melihat kenyataan itu. Sejak menjabat 2016 lalu, dia getol menstimulus perkembangan batik khas kabupaten ini. Sampai mewajibkan PNS dan pelajar mengenakan batik Ponoragan demi terciptanya pasar baru bagi UKM batik. ‘’Tapi, dalam praktiknya para perajin atau pengusaha batik yang ada nggak kompak. Malah gaduh jadinya,’’ kata Ipong, Senin (1/10).

Kondisi itu yang kemudian membuat pelestarian batik Ponoragan berjalan seret. Sebab, menurut Ipong, faktor kunci berkembangnya sebuah kerajinan batik di suatu daerah itu dipengaruhi oleh ketersediaan pasar. ‘’Pasar ini yang sulit. Karena hampir semua daerah sekarang ini juga mengembangkan batik,’’ ujarnya.

Disandingkan batik dari daerah lain, sebenarnya batik Ponoragan tidak kalah pamor. Seperti motif adepan, kembang soko, serat aji, serta senjang jenduk. Bahkan, beberapa UKM mulai mengejar kreasi motif bercorak daerah khas dengan motif lebih modern. Batik khas Ponorogo yang identik dengan bulu merak, kini dikombinasikan berbagai gambar aksesori yang biasa dipakai saat pertunjukan reyog. Tetapi, itu tak sanggup membuat pamor batik Ponoragan meroket. Pemkab terus berusaha memberikan solusi agar pelestarian dan kualitas produksi batik Ponoragan tetap terjaga. Salah satunya dengan mendirikan kampung batik dan reyog di Tambak Bayan. ‘’Itu (pembangunan kampung batik, Red) juga solusi. Tapi, kuncinya tetap di pasar. Biarpun produksinya bagus dan banyak, kalau yang beli tidak ada bagaimana?’’ ucap Ipong.

Bagi Ipong, mematenkan motif batik belum mendesak saat ini. Sebaliknya, Ipong mencoba mendorong agar para perajin batik makin kreatif. Sebagai pemicu, pemkab rutin memberikan insentif kepada UKM untuk mengembangkan produknya. Misalnya, mengadakan pelatihan rutin dan sebagai modal untuk produksi. ‘’Yang jelas, saya berharap semua orang terutama warga Ponorogo cinta dengan batik Ponoragan. Kami sendiri akan terus memberikan insentif agar batik berkembang lebih cepat,’’ jelasnya. (her/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button