Madiun

Pasar Pon Segera Tamat, Jadi Parkiran Peceland

Bulan depan, tak ada lagi riak keramaian di Pasar Pon. Riwayat tempat pertemuan belantik dan pembeli hewan itu segera tamat. Tiada lagi geliat transaksi sedari pukul 05.30 hingga 11.00 di hari pasaran Jawa tersebut.

…………….

APRIL menjadi tenggat akhir Pasar Pon harus berakhir. Pemkot Madiun harus menutup pasar hewan itu karena keberadaannya selama ini minim kontribusi. Selama setahun, diperkirakan hanya menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 26,5 juta.

Perkiraan itu mendasar retribusi mingguan yang dikalikan jumlahnya dalam setahun.

Catatan Dinas Perdagangan (Disperindag) Kota Madiun, retribusi setiap minggu berkisar Rp 500 ribu, tinggal dikalikan 53 pekan. Sebagai catatan, pasar hanya beroperasi setiap pasaran Pon. ‘’Dulu masih banyak orang dari Jakarta dan Bogor yang cari sapi dan kambing ke Pasar Pon. Sekarang sudah nyebar ke sekitaran karesidenan,’’ kata Kepala Disperindag Kota Madiun Gaguk Hariyono.

Gaguk melanjutkan, hampir 100 persen pedagang yang memenuhi Pasar Pon merupakan warga dari luar kota. Baik dari Kabupaten Madiun, Ponorogo, Magetan, maupun Ngawi. Itu juga menjadi alasan penutupan. ‘’Penurunannya cukup signifikan seiring menjamurnya pasar hewan di daerah tetangga. Sangat sepi sekali,’’ ujarnya.

Dampak lingkungan tak luput menjadi perhatian. Pemkot menyoroti limbah udara dari kotoran ternak yang menyebar ke area sekitar. Dampaknya tidak setimpal dengan permasalahan lingkungan yang kerap dikeluhkan warga. ‘’Sudah yang jualan bukan orang kota, imbasnya (bau tak sedap) ke warga kota,’’ tuturnya.

Dari sisi transportasi, aktivitas niaga Pasar Pon cukup mengganggu lalu lintas di sepanjang jalur tersebut. Sebab, saat tiba hari pasaran, sepanjang jalan mulai masuk Jalan Tirta Jaya hingga selatan pasar dipenuhi pedagang yang berjualan selain ternak. ‘’Macet. Banyak kendaraan besar keluar-masuk mengangkut hewan,’’ sebutnya.

Alih Fungsi Jadi Parkir Peceland

SEBELUM diputuskan tutup selamanya, pemkot sempat menjajaki opsi memindah lokasi. Semula ada dua tempat yang dibidik. Di Kelurahan Kelun dan Tawangrejo. Pun anggaran yang disiapkan mencapai Rp 10 miliar dengan asumsi luas lahan mencapai dua hektare. ‘’Setelah dikaji mayoritas pedagangnya bukan orang sini. Selain minim sumbangsih retribusi dan dampak lingkungannya,’’ ungkap Gaguk.

Wali Kota Madiun Maidi memastikan, penutupan pasar sudah sesuai dengan rencana penataan kota setempat. Salah satunya Peceland yang pembangunannya dimulai tahun ini. Pasar tersebut nantinya digunakan untuk tempat parkir Peceland yang digadang-gadang menjadi ikon baru. ‘’Tempat lama akan kita gunakan sebagai tempat parkir bus wisata di Peceland,’’ kata Maidi.

Dalam berbagai kesempatan, Maidi menggadang-gadang pembangunan Peceland. Sebagai magnet wisatawan, Peceland dijadikan window display Jatim bagian barat. Di dalamnya dilengkapi sentra kuliner dan kerajinan dari Madiun Raya. Itu dipandang lebih efektif menggerakkan roda perekonomian warga setempat. Dikonsep semimodern, Peceland mengadopsi Legoland di Johor Bahru, Malaysia. Bedanya, Peceland menyuguhkan kampung pecel dengan desain modern, dibangun di atas lahan seluas 15 hektare. ‘’Nah, di Dolopo sudah ada pasar hewan. Di Caruban, Karangjati, Maospati, dan Gorang-gareng juga sudah ada pasar hewan semua,’’ ungkapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button