Mejayan

Pasar Muneng Tunda Rebuilding

Anggaran DAK Fisik Dialihkan Penanganan Korona

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Pasar Muneng, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, tidak jadi dipersolek tahun ini. Pembangunan ulang bekas puluhan lapak yang disalahgunakan untuk hunian dan praktik prostitusi itu batal terlaksana. Buntut rasionalisasi anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19.

Sekretaris Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Agus Suyudi mengatakan, anggaran rebuilding telah disiapkan dari dana alokasi khusus (DAK) fisik pasar. Nominalnya Rp 2,8 miliar dibagi untuk dua pasar. ‘’Selain Pasar Muneng, ada Pasar Sukolilo, Jiwan,’’ katanya Minggu (6/9).

Agus menerangkan, jatah Pasar Wage, nama lain Pasar Muneng, lebih besar ketimbang Sukolilo. Duitnya untuk membangun ulang kios dan los di lahan bekas pembongkaran. ‘’Kalau Pasar Sukolilo sekadar wajah depan,’’ ujarnya.

Pembangunan ulang Pasar Muneng diklaim penting oleh disperdakop-UM. Sebab diyakini bisa meningkatkan roda perekonomian warga setempat. ‘’Kami akan ajukan kembali DAK tahun depan,’’ ucap Agus.

Agus memastikan lahan bekas warung remang belum bisa disentuh pembangunan tahun ini. Fokus usulan anggaran pada perubahan APBD (P-APBD) 2020 bukan untuk Pasar Wage. Melainkan pemeliharaan rutin berskala kecil sejumlah pasar rakyat. Antara lain, Pasar Sayur Caruban, Saradan, Dolopo, dan Dungus. ‘’Kami mengajukan PAK (perubahan anggaran keuangan, Red) Rp 1 miliar, tapi belum deal,’’ tandasnya. (den/c1/cor)

Pasar Muneng Makin Sepi

LANGKAH pemkab memberangus praktik prostitusi terselubung di Pasar Muneng tidak serta merta membuat transaksi perdagangan di lokasi tersebut menggeliat. Alih-alih ramai, pasar itu justru semakin sepi pembeli. ‘’Sampai siang begini belum ada yang beli,’’ kata Retno, salah seorang pedagang, Minggu (6/9).

Menurut Retno, langkah pemkab membongkar warung esek-esek di Pasar Muneng tahun lalu merupakan tindakan yang tepat. Namun, yang terjadi pengunjung justru semakin sepi. ‘’Dulu cukup ramai, sekarang seperti pasar mati,’’ ungkapnya sembari menyebut kondisi pasar yang sepi juga disebabkan pandemi Covid-19.

Puji Astuti, pedagang lainnya, menyatakan pekerja seks komersial (PSK) yang biasa menjajakan diri di Pasar Muneng bukan warga desa setempat. Melainkan pendatang dari luar desa. Bahkan, ada yang dari luar daerah. ‘’Sudah semestinya pasar untuk jualan barang kebutuhan sehari-hari, bukan tempat prostitusi,’’ ujarnya. (mg4/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close