Madiun

Pasang Surut Zaman Empat Kali Ganti Julukan

KONON, penamaan Jalan Pahlawan disematkan langsung oleh Presiden Soekarno. Menggantikan nama Djalan Raya pascanegeri ini merdeka. Taman Makam Pahlawan (TMP) di ruas jalan itu juga mengingatkan hakikat perjuangan di masa kemerdekaan.

Historia van Madioen (HvM) terus menelusuri sejarah cikal bakal pusat kota itu. Termasuk mengkroscek kebenaran informasi seputar pergantian nama jalan. ‘’Kabarnya langsung diberikan Presiden Soekarno, tapi belum dapat saya pastikan,’’ kata Andrik Suprianto, pegiat HvM.

Nama dua pahlawan yang memiliki kedekatan dengan presiden pertama Indonesia juga diabadikan menjadi Jalan Cokroaminoto dan Agus Salim. Dua jalan itu terletak tak jauh dari Jalan Pahlawan. ‘’Keduanya guru Presiden Soekarno,’’ ujarnya.

Mendasar kajian pustaka 2018 silam, Jalan Pahlawan menjadi pusat pemerintahan sejak kolonial Belanda. Seiring pasang surut zaman, jalan sepanjang 5 kilometer itu mengalami empat kali pergantian julukan. ‘’Dulunya disebut Residentlaan atau Jalan Resident,’’ terangnya.

Penamaan Residentlaan mengacu rumah residen yang kini difungsikan sebagai Kantor Bakorwil I Madiun. Dibangun 1831 silam, rumah berlanggam indische empire itu dihuni kali pertama oleh residen pertama Madiun Loudewijk Launy hingga 1838. ‘’Sejak awal ditata sebagai pusat pemerintahan. Di masa silam, juga dibangun benteng sebagai penanda kekuasaan,’’ imbuh Andrik.

Kemudian, pemerintah kolonial mendirikan fasilitas publik lainnya. Meliputi Gemeente Stadspolitie (Mapolres), Assisten Resident Woning (Makorem), Tennisterrein (lapangan tenis), Staadstuin (Taman Makam Pahlawan), Werksplats Burgelijk Openbare Werken (sekarang UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan Bina Marga). Juga, Vendumeester Kantoor serta Hotel Merdeka. ‘’Semua fasilitas publik berderetan di jalan itu sampai sekarang,’’ urainya.

Pemerintah Belanda juga menjadikannya sebagai jalan penghubung antarprovinsi. Ketika itu, Jalan Resident menjadi bagian dari Groote Postweg –sebutan jalur yang menghubungkan Surabaya-Solo-Jogjakarta yang ditandai pembangunan terminal. ‘’Terminalnya dulu di Jalan Bogowonto,’’ sebutnya.

Jalan itu kemudian berganti menjadi Djalan Showa saat kedudukan Jepang. Nama itu diambilkan dari sebutan zaman Kaisar Hirohito yakni Showa Jidai. Untuk menandai keberadaan Kaisar Hirohito di berbagai wilayah kekuasaannya. ‘’Showa Jidai itu sebutan zaman kekuasaan Kaisar Hirohito,’’ sambung Andrik.

Di masa itu pula rumah resident berganti nama menjadi syuchokan (kepala residen). Pada 1942-1943 dijabat Ryuichi Takemasa, setelahnya dilanjutkan Yoshiaki Yamamoto selama setahun. Setelah merdeka, Djalan Showa menjadi Djalan Raya. Penyematan nama itu mengacu pada fungsi jalan sebagai jalur provinsi. Sebelum akhirnya Djalan Raya diganti Jalan Pahlawan. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button