Ponorogo

Parbo Hadi Tetap Setia Menjadi Relawan Bencana

Tak Patah Arang setelah Crash Landing di Malang

Menjadi relawan bencana harus siap dengan segala konsekuensi yang dihadapi. Parbo Hadi membuktikannya. Tiga belas tahun menjadi relawan, Parbo akhirnya harus tumbang sejenak lantaran patah tulang paha kiri usai parasutnya diempas angin di ketinggian 30 meter di Pantai Modangan, Malang, Kamis lalu (23/12). Saat itu Parbo ditugaskan mempelajari paramotor supaya bisa mendokumentasi visual bencana dari udara.

======================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SEMILIR angin di Pantai Modangan, Malang, Kamis lalu (23/12) membawa Parbo Hadi melayang di udara. Kecepatan angin berkisar 10 hingga 15 knot. Masih relatif halus. Untuk bisa mendarat, Parbo lantas melakukan manuver memutar. Satu kali belum cukup. Dua kali dilakukan. Ketinggiannya tinggal 30 meter dari atas titik pendaratan. Tiba-tiba saja angin mengempas parasutnya ke belakang. Membuat dia terpelanting ke atas. ‘’Refleks saya tarik parasut untuk mengembalikan posisi parasut kembali ke atas,’’ kata Parbo Kamis (2/1).

Usai menarik kait pada parasutnya, Parbo seharusnya melepas supaya parasut kembali ke posisi semula. Namun, gagal dia lakukan. Sebab, pandangannya mulai kabur. Parbo kolaps saat belum sempat mengembalikan posisi parasutnya. Dia baru terbangun usai tergeletak dan dikerumuni banyak orang. Parbo mengalami crash landing. ‘’Mendarat 23 meter dari titik landing, di kerukan tanah bekas tambak,’’ ceritanya.

Begitu sadar, rasa sakit membuatnya menjerit. Sakitnya begitu kuat hingga menusuk paha kiri. Relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang sudah aktif sejak 2006 itu dilarikan ke rumah sakit terdekat. Lalu dirujuk ke RSU Muhammadiyah, Ponorogo. Tulang paha kirinya patah cukup parah. Usai dioperasi, kemarin Parbo diperbolehkan pulang. Dia tak ingin melupakan nahas yang menimpanya itu. ‘’Bagian dari pengalaman,’’ ucapnya.

Kala itu Parbo ditugaskan belajar paramotor di Malang. Supaya kelak mampu mendokumentasikan visual bencana dari udara. Sayangnya, belum sempat dia terbang menggunakan paramotor, Parbo harus pulang dengan pen terpasang di tulang paha kirinya. Baru kali ini Parbo cedera saat bertugas. Padahal, tak terhitung lokasi bencana beserta bahayanya yang telah dijelajahi. ‘’Meletusnya Gunung Kelud dan Gunung Merapi, banjir Trenggalek dan Pacitan, tsunami Banten. Itu semua saya yang berangkat,’’ tutur bapak tiga anak itu.

Pria yang juga pengurus organisasi Pramuka di Bumi Reyog itu kini harus diam sejenak di ranjangnya. Sampai pemulihan selesai tiga bulan ke depan. Setelah itu, barulah Parbo diperbolehkan beraktivitas sembari terus dikontrol dokter. Dia tidak menyesal mengalami cedera. Justru dia merasa tugasnya belum usai untuk mempelajari paramotor. Menurutnya, dokumentasi visual kebencanaan penting untuk memetakan kondisi di suatu bencana. ‘’Istilahnya tumbang untuk bangkit,’’ kata pria yang juga atlet paralayang itu lantas terkekeh. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button