Madiun

Papringan Kalikerto Bukan Wisata Musiman

KEMBALI ZAMAN KERAJAAN MATARAM

MADIUN, Radar Caruban – Wanawisata Grape dan Watu Rumpuk punya saingan. Di ujung Desa Singgahan, Kecamatan Kebonsari tersaji destinasi Pasar Papringan Kalikerto.

Di tengah ladang bambu itu, banyak pedagang menggelar lapak makanan tradisional. Bunyi gesekan bambu dan semilir angin membuat pengunjung rela antre demi menaiki moda transportasi yang digerakkan disel tersebut. Juga, terdapat wahana bermain seperti jungkat-jungkit. ‘’Setiap akhir pekan selalu ke sini bareng keluarga,’’ terang Misbachul Munir.

Dia berharap tempat rekreasi ini tidak berlangsung musiman. Tentu, kenyamanan pengunjung harus dipertahankan. ‘’Warga berdatangan bukan karena penasaran, melainkan berminat,’’ tegas warga Bangunsari, Dolopo, itu.

Pengunjung lainnya, Haifa Zahra Nabila, 13 sekalian hunting foto bersama temannya. Banyak angle dan spot menarik. Mulai aktivitas jual beli di bawah rindang bambu, naik kapal hingga berkuda. ‘’Dengar suara kretek-kretek (gesekan bambu, Red) hati jadi adem,’’ aku remaja asal Lembah, Dolopo, itu.

Ketua Pokdarwis Nyawiji Arif Manasikana mengungkapkan Papringan Kalikerto pertama kali dibuka 22 September lalu. Dua bulan berjalan, peningkatan pengunjung signifikan. Naik 5–10 persen setiap pekan. Jika di hari aktif pengunjung di rentang 50–100 orang, bisa meroket seribuan ketika Minggu. ‘’Pedagang sudah bukan hanya warga sini, tapi juga ada luar desa,’’ ungkapnya seraya menyebut pengunjung ada yang dari Surabaya maupun Solo, Jawa Tengah.

Konsep wisata yang ditonjolkan adalah alam, agro, kuliner, dan budaya. Alam meliputi keberadaan sungai dan pohon bambu. Keberadaan jambu sebagai wisata agro. Kulinernya merupakan makanan tradisional, kendati beberapa belum memenuhi unsurnya. Sedangkan budayanya mewajibkan sekitar 50 pengelola dan pedagangnya mengenakan surjan. ‘’Filosofinya, surjan sesuai sejarah Madiun yang dulunya menjadi bagian Mataraman,’’ ungkapnya.

Ide menciptakan wisata bermula dari keberadaan kebun jambu. Empat pemilik lahan dan warga dusun setempat lantas diajak berkomunikasi membuat wisata papringan. Rencana itu mulai direalisasikan dengan berkunjung ke Kediri. Daerah itu sebagai gambaran terkait wisata yang bakal dibangun. Tak disangka, warga tertarik. Desain dan rencana anggaran biaya (RAB) pun dibuat. ‘’Dananya dikumpulkan dari warga sendiri,’’ ujarnya.

Papringan Kalikerto bakal dikembangkan. Jangka panjangnya membuat objek wisata ini seolah kembali ke zaman kerajaan. ‘’Kami bangun fasilitas penunjangnya,’’ tandasnya. (cor/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button