Magetan

Pantang Abai Reklamasi Untuk Lokasi Tambang yang Tak Beroperasi

MAGETAN – Lima lokasi tambang di Kecamatan Karas, Magetan kini menjadi atensi pemerintah Magetan. Bukan karena lokasi galian C tersebut tidak mengantongi izin operasi dari pemprov Jatim. Melainkan sudah tidak lagi beroperasi. Tak ada kegiatan pengerukan tanah dan jual-beli material tanah uruk. ’’Lahan yang diolah sudah tidak ada lagi. Makanya berhenti,’’ jelas Kabag Sumber Daya Alam Setdakab Magetan Yayuk Sri Rahayu.

Yayuk menambahkan, izin operasional kelima lokasi tambang itu sejatinya masih berlaku. Namun, karena material tanah sudah tidak memungkinkan untuk diolah, maka pengusaha terpaksa menghentikan kegiatannya. Biarpun demikian, pengusaha tak bisa seenaknya pergi meninggalkan lokasi tambang. Masih ada kewajiban yang harus dijalankan terhadap lahan yang sudah dikeruk tersebut. ’’Harus reklamasi. Tanahnya dikembalikan seperti semula,’’ katanya.

Yayuk sudah memerintahkan anak buahnya untuk keliling lapangan mengecek kondisi tambang yang sudah off tersebut. Disini, Bagian SDA tidak bekerja seorang diri. Melainkan bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan. Namun, kewenangan mereka terbatas. Mengingat izin operasional tambang galian C diterbitkan oleh Pemprov Jatim. ’’Yang bisa mengambil kebijakan, ya yang memberikan izin,’’ terangnya.

Kepala DLH Kabupaten Magetan Saif Muchlissun mengaku sudah memantau lokasi tambang yang tak lagi beroperasi tersebut. Dari lima lokasi, belum semuanya yang menjalakankan kewajiban reklamasi. Pun, yang sudah menjalankan reklamasi, masih belum sepenuhnya sempurna. Sehingga kini, pihaknya terus mengecek perkembangan kelima lokasi tambang tersebut. ’’Ada yang belum, ada yang sudah,’’ jelasnya.

Penambang yang hingga kini belum menjalankan reklamasi, diakui Muchlis sudah mendapatkan teguran. Mereka dalam pemantauan intens. Sejauh mana, teguran yang dilayangkan itu dijalankan. Jika tidak, teguran kedua bakal dilayangkan. Hal itu menunjukkan sikap pengusaha yang tidak kooperatif dan lari dari tanggung jawab. ’’Akan segera kami cek lagi. Karena (reklamasi, red) ini kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan pasca penambangan,’’ ungkapnya.

Bagi penambang yang sudah menjalankan reklamasi, bukan berarti aman dari pantauan Muchlis. Lahan tersebut harus kembali bisa ditanami seperti semula. Karena sebelum menambang, top soil lahan tersebut tidak dijual. Melainkan disingkirkan untuk kemudian ditimbun lagi pasca penambangan selesai dilakukan. Sehingga, dapat ditanami seperti semula. ’’Reklamasi itu salah satu kontribusi yang diberikan penambang,’’ pungkasnya. (bel/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close