Pacitan

Pandu Sadeka dan Rani Iswinedar Serasi dalam Berkesenian

Keserasian Pandu Sadeka dan Rani Iswinedar tidak hanya mengarungi bahtera rumah tangga, melainkan juga berkesenian. Pasangan suami istri itu sama-sama concern terhadap seni pertunjukan. Karya drama tari banyak diciptakan keduanya.

=========================

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

PASANGAN suami istri (pasutri) Desa Arjowinangun, Pacitan, ini kompak terhadap jalan hidup. Pandu Sadeka dan Rani Iswinedar sama-sama menggeluti dunia seni pertunjukan.  ‘’Kalau saya aktif di dunia teater, istri tari,’’ kata Pandu.

Dua tahun lalu, Pandu dan Rani dipercaya menjadi pelatih wakil Pacitan dalam acara Duta Seni Nusantara di Surabaya. Keduanya menggarap Sekartaji Murco. Drama tari adaptasi wayang beber Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji, itu diajarkan kepada 10 penari. ‘’Saya jadi produser, istri koreografernya,’’ ujar pria 34 tahun tersebut.

Pasutri ini totalitas dalam berkesenian. Riset mesti dilakukan sebelum menciptakan sebuah karya. Prinsip tersebut dijadikan kiblat karena tidak mau ada nilai seni yang hilang atau terputus. Di sisi lain, soul sebuah karya bakal terus muncul dan berkesinambungan. ‘’Akhirnya, Sekartaji Murco juara I dan mewakili Jawa Timur untuk tampil tingkat nasional,’’ lanjutnya.

Panji Mbarang Jantur adalah drama-tari ciptaan Pandu dan Rani lainnya yang diadaptasi kisah wayang beber. Banyak karya lain yang diciptakan dengan proses tidak gampang. Keduanya kerap adu argumen karena memiliki penilaian dan rasa seni yang berbeda. Saling debat dan bersitegang menjadi hal lumrah. ‘’Jalan keluarnya dicoba satu per satu. Mana yang paling bagus,’’ papar Pandu.

Pandu dan Rani mendirikan sanggar Pradnya beberapa tahun lalu. Kini ada puluhan orang yang belajar di sana. Sejumlah sekolah menggunakan jasa pasutri itu untuk mengisi ekstrakurikuler tari. ‘’Kenal teater sejak SMA, kemudian lanjut ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta ambil tata rupa pentas dan ikut teater. Tapi, tidak lulus kuliah,’’ ungkap bapak tiga anak itu.

Di Kota Bengawan itu lah Pandu kenal Rani. Tidak sengaja ketika mengerjakan artistik, lighting, dan pernik panggung di ujian praktik bakal istrinya itu. Pada 2013, keduanya sepakat menetap di kampung halaman Pandu di Pacitan. Awalnya, Pandu dan Rani sempat kebingungan memulai berkesenian. Sebab, perbedaan lingkungan seni antara Solo dengan Pacitan sangat kentara. Sampai akhirnya membuka kelas tari gratis kepada anak-anak. ‘’Jalan mulai terang setelah berkolaborasi dengan seniman-seniman di Pacitan untuk membangun iklim kesenian,’’ terang Pandu.

Rani sempat patah semangat. Terbesit niatan kembali ke Solo. Aktivitas seni yang kerap dibenturkan religi membuat perempuan 32 tahun itu tidak nyaman. ‘’Dua tahun sekali mengadakan seni pertunjukan,’’ katanya. ***(cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button