Ngawi

Pancaroba, Petani Mulai Tanam Padi

PERALIHAN musim kemarau ke penghujan ditandai para petani dengan mulai bercocok tanam. Bahkan, sebagian dari mereka beramai-ramai berburu pupuk. ‘’Nekat saja, yakin setelah ini langsung penghujan terus karena sudah bulan November,’’ kata Kardimin, salah seorang petani asal Dusun Wates, Desa Kuwu, Kecamatan Kedunggalar, Kamis (7/11). Sebelumnya, kemarau membuat sebagian sawahnya mengering. Bahkan, untuk mengaliri lahan pertaniannya yang lain harus memanfaatkan sumur sibel. Kondisi itu membuat pengeluaran makin membengkak. ‘’Awal musim ini air irigasi harus beli. Tapi, diperkirakan itu hanya terjadi 10–15 hari ke depan,’’ ujarnya.

Kardimin punya alasan mengapa memutuskan bercocok tanam lebih awal. Salah satunya kemudahan mendapatkan buruh tani saat ini. Selain itu, meminimalkan penggunaan mesin tanam padi. ‘’Kalau pakai mesin tanam, kadang benihnya rusak atau jumlah bibitnya kebanyakan. Jadi, lebih enak pakai tangan,’’ terangnya.

Suprapti, petani lainnya, juga memilih bercocok tanam lebih awal. Dia memanfaatkan air Bengawan Solo untuk mengairi sawahnya sementara. ‘’Nggak perlu beli, pakai diesel sendiri jadi murah daripada pakai sibel,’’ ungkapnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan di Jatim wilayah barat terjadi pada Desember. Sedangkan, saat ini masuk pada siklus pancaroba. (gen/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button