Madiun

Pameran Lukisan Super Keren di Indigo Art Space Madiun

DEFORMASI DUA DIMENSI ASRI

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun 3 Master of Mind. Lukisan itu merangkum wajah Affandi, George Soros, dan Rembrandt van Rijn. Tiga tokoh dunia yang menjadi poros utama di bidangnya masing-masing itu disatukan dalam bingkai 2,4×1,2 meter. Ciri khas metal dan kaca semu di setiap goresan wajah menegaskan karakter lukisan Asri Nugroho Nus Pakurimba.

Affandi menjadi contoh pelukis yang konsisten dengan karakternya hingga akhir riwayatnya. Karya dari maestro pelukis tanah air ini pun begitu diapresiasi dunia. Rembrandt van Rijn yang hadir beberapa abad sebelumnya juga memberi warna penting dalam dunia seni rupa Eropa. Pelukis kelahiran Leiden, Belanda, itu telah membukukan ribuan lukisan sebelum tutup usia pada 1669. Nug –sapaan Asri Nugroho Nus Pakurimba– juga mengagumi George Soros. Miliader Amerika Serikat yang moncer dalam dunia investasi. ‘’Sejak dulu hingga kini, saya mengenal beliau (Asri Nugroho Nus Pakurimba, Red) dengan karakter yang sama,’’ kata Heri Kris, kurator seni rupa dari Jogjakarta.

Di tengah krisis konsistensi, Nug setia melukis tokoh yang dideformasi seolah menjadi robot dengan metal dan kaca semu. Menyajikan potret tokoh dalam lukisan dua dimensi. ‘’Karakter semi-abstrak kuat di setiap karyanya dari dulu hingga sekarang,’’ ujar pelukis lulusan ISI Jogjakarta itu.

Menurut Heri, saat ini banyak pelukis tergoda dengan tren yang berkembang. Padahal, tren itu hanya sanggup bertahan dalam kurun 3-5 tahunan. Lambat laun berubah setelah kolektor jenuh dan pangsa pasar bergeser. ‘’Biasanya tren itu akan diikuti banyak follower. Dan mengikuti jejak ekonomi. Itu yang salah dalam dunia seni rupa,’’ bebernya.

Tetapi, kata Heri, Nug tidak terpengaruh. Dia tidak peduli dengan pasar dan tetap konsisten merawat ideologi dan misi seni rupa yang diembannya. Heri pun mengingatkan pelukis muda agar konsisten dalam menempa diri sebelum menemukan jati diri. Harus bijak menyikapi perkembangan tren hari ini yang memunculkan berbagai gaya lukisan sehingga tidak ada kecenderungan kuat terhadap satu karakter. ‘’Itu menjadi tantangan bagi pelukis muda. Sebaiknya ketika menemukan jati dirinya, harus kuat mengelola. Harus memperbaiki teknis, bereksperimen, mencari inovasi, dan selalu mencari pembaruan. Jangan jalan di tempat dan tidak keluar jalur,’’ pesannya.

Direktur Indigo Art Space Madiun Fransisca Lusiana menaruh apresiasi tinggi terhadap karya Asri Nugroho. Pameran tunggal 19 lukisan itu dibuka Irmina Silas, pencinta sastra dan seni rupa dari Surabaya, Minggu (17/11). ‘’Masyarakat Madiun layak mendapat suguhan karya lukis yang bagus. Ini kesempatan emas untuk mendapatkan tambahan ilmu dari pelukis tenar,’’ kata Siane, sapaan Fransisca Lusiana. (kid/c1/fin) 

Menjadi Manusia lewat Seni Rupa

Pameran di Kota Madiun dan Amerika Sama Saja

Kehadiran Asri Nugroho Nus Pakurimba di Kota Madiun sayang dilewatkan begitu saja. Pelukis semi-abstrak ini puluhan tahun menyelami dunia seni rupa. Mulai berkarya menjadi pelukis reklame bioskop era 80-an. Tiga tahun dikontrak galeri lukisan di Singapura. Juga kerap mengikuti pameran di Jepang, Korea, dan Amerika.

===============================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

ALBERT Einstein, Mahatma Ghandi, Bunda Theresia, Affandi, George Soros, Rembrandt, Dalai Lama, Hitler, hingga Martin Luther King terpajang di dinding galeri Indigo Art Space Madiun.

Di antara wajah para pesohor itu, terdapat lukisan yang menggambarkan dua orang sedang berpelukan. Sulit rasanya mencari kaitan tema dengan sebagian besar karya lain yang dipamerkan Asri Nugroho Nus Pakurimba. Sebingkai lukisan 1,45×1,7 meter berjudul Kemesraan Abad Digital itu wajahnya tidak kentara. ‘’Tokoh yang saya angkat itu untuk mengingatkan kita semua,’’ kata Nug.

Nug tidak kaku mendefinisikan tokoh. Selain manusia, hewan sekalipun bisa disebut tokoh. Asal ada tambahan nama, maka layak menjadi perbincangan. Seperti lukisan kuda tunggangan Pangeran Diponegoro itu bernama Turangga Seta atau Kiai Gentayu. ‘’Ketokohannya diangkat untuk memberikan pelajaran,’’ ujarnya.

Termasuk lukisan Kemesraan Abad Digital yang menurutnya fenomenal. Lukisan yang diluncurkannya 2017 lalu itu berangkat dari ide dan proses kreatif yang berkelindan. Karenanya, temanya tidak mengangkat siapa tokoh yang sedang berpelukan. Namun, menyiratkan makna yang terkandung di balik adegan pelukan. Idiom pelukan identik dengan kemesraan. ‘’Orang bermesraan dengan orang yang paling dekat yaitu istri. Nah, di sinilah saya ingin berbicara,’’ terang putra (alm) Sanusi Parto Sudiro, pemain sepak bola legendaris Madiun yang berjaya di masanya, ini.

Saat ini, lanjut Nug, orang justru bermesraan bukan dengan istrinya. Melainkan dengan handphone. Siapa pun kini seolah terjajah gawai. Ide itu didapatkannya saat mengunjungi pasar loak di Surabaya. Ketika itu, dia melihat para pedagang menunggui dagangannya berupa besi bekas dengan memegang gawai. Imajinasinya melayang pada kondisi manusia yang dijajah teknologi. ‘’Tidak ada hubungan antarsesama manusia seperti dulu. Kata halo sekarang tidak harus diucapkan dengan bertatap muka. Tidak sadar bahwa kita semua sedang dijajah,’’ sambungnya.

Dari situlah Nug mulai menggambar lukisan itu selama dua pekan. Dia banyak menemukan ide saat berkunjung ke pasar loak. Banyak barang-barang bekas menjadi bahan dasar kreativitasnya. Tak heran jika dalam lukisannya selalu menghadirkan cuilan metal, kaca semu, hingga kawat. ‘’Sekarang ini teknologi menempati urutan pertama dalam peradaban manusia. Ketika belum terjadi revolusi teknologi, nilai kemanusiaan masih menjadi yang utama,’’ bebernya.

Nug belajar melukis secara otodidak. Dia mengawali karir sebagai pelukis reklame bioskop era 80-an di Surabaya. Dia masih ingat betul, kala itu setiap karyanya dibayar Rp 35 ribu. Dia pun belajar tentang detail melukis tokoh sesuai jadwal film bioskop yang hendak ditampilkan di masa itu. Dari sana pula, dia banyak belajar tentang perpaduan warna. Karirnya sebagai pelukis reklame bioskop meredup bersamaan tenggelamnya dunia sinema seiring membanjirnya VCD di era 90-an. Sejak saat itu, Nug beralih ke dunia seni lukis dengan lebih serius. Dengan tetap menghadirkan karakter semi-abstrak yang sering dihadirkan dalam lukisan reklame bioskop. Konsistensinya berbuah beragam apresiasi. Mulai penghargaan perupa muda 1984, Philip Morris Awards 1994, dan segudang penghargaan lainnya. ‘’Mendapatkan pengalaman hidup di luar negeri,’’ sebutnya.

Setelah mendapatkan penghargaan bergengsi Philip Morris Awards 1994 silam, Nug dikontrak galeri lukisan di Singapura sejak 1995-1998. Selama tiga tahun dia menjadi pelukis untuk studio Laurent and Chrystie Galery. Hal itu menjadi pengalaman tersendiri dalam hidupnya. Nug juga kerap mengikuti pameran tingkat internasional. Seperti di Jepang, Korea, Singapura, bahkan Amerika. ‘’Pameran di Kota Madiun dan Amerika sama saja. Pesan saya, jadilah manusia yang seperti manusia,’’ ucapnya sembari menyebut pameran kali ini merupakan pameran tunggal kedelapan kalinya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button