Opini

Pacitan setelah In(i)

PACITAN Bumi Kelahiran SBY. Dulu, tulisan besar itu terpampang di perbatasan Pacitan-Ponorogo. Monumental. Salah satu bukti, betapa masyarakat Pacitan sangat cinta dan bangga pada SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Mafhum, dialah putra daerah asli Pacitan yang mampu menduduki jabatan tertinggi di negeri ini. Dua periode lagi.

Tidak hanya kepada sosoknya. Tapi juga pada partai politik (parpol) yang dibidani kelahirannya. Partai Demokrat. SBY sama dengan Demokrat. Begitu kira-kira masyarakat setempat terideologikan. Tak heran jika Demokrat sangat digdaya di Pacitan selama periode SBY menjabat Presiden RI.

Di DPRD Pacitan, Demokrat menguasai mayoritas kursi. Nyaris mayoritas tunggal. Tak tertandingi. Tidak hanya berkuasa di legislatif. Eksekutif (bupati) pun dua periode jadi milik Demokrat. Indartato (Pak In), bupati dua periode itu. Tak lama lagi, Pak In segera lengser. Patut disimak dinamika politik Pacitan setelah In(i).

Keputusan Demokrat bak sabda pandita ratu SBY. Siapa pun yang direkomendasi Demokrat adalah pemegang titah SBY. Wajar jika masyarakat Pacitan ngugemi sabda pandita ratu itu. Sehingga, siapa pun calon bupati yang direkom Demokrat dipastikan jadi pemimpin Pacitan. Sebab, ”wajib” didukung (baca: dipilih).

Tak dimungkiri, selama SBY menjabat (presiden) percepatan pembangunan Pacitan begitu luar biasa. Terutama yang kasatmata. Infrastruktur contohnya. Bisa diibaratkan, Pacitan anak yang merengek minta kepada bapaknya (SBY). Hampir semua permintaan dituruti. Pun si bapak begitu ”memanjakan” anaknya.

Kini. Tulisan monumental di perbatasan Pacitan-Ponorogo itu tak ada lagi. Konon, karena rusak terdampak bencana banjir bandang 2017 silam. Pun seiring lengsernya SBY dari RI-1, kedigdayaan Demokrat sedikit goyah. Lihat saja perolehan kursi legislatif di Pacitan. Apakah pertanda peta politik di Kota 1.001 Gua akan berubah setelah In(i)?

Jelang Pilkada Pacitan 2020, begitu banyak politisi yang ingin menumpang Mercy sebagai kendaraan politiknya. Mereka berebut rekomendasi Demokrat. Berlomba-lomba mendapat restu SBY. Bahkan, Indrata Nur Bayuaji ”berani” mengklaim 99 persen direkom untuk bertarung dalam kontestasi. Dia kerabat dekat SBY.

Masalahnya, apakah sabda pandita ratu SBY masih diugemi masyarakat Pacitan? Sekali lagi, fakta politik di Pacitan saat ini patut disimak dinamikanya. Munculnya nama Gagarin boleh dibilang sebagai penantang serius siapa pun calon yang diusung Demokrat nanti. Apalagi, jika parpol selain Demokrat berkongsi nyengkuyung politikus Golkar ini.

Statemen Gagarin saat menerima rekomendasi dari Partai Nasdem patut dicermati. ‘’Kita tahu kalau Nasdem ada (mendapatkan jatah, Red) menteri. Begitu juga dengan PDIP, Golkar, PKB juga ada. Diharapkan lewat kementerian itu bisa mendongkrak pembangunan di Pacitan.’’ (Jawa Pos Radar Pacitan, 4 Agustus 2020).

Sebuah isyarat, sekaligus mengingatkan. Bahwa, kini, Demokrat tidak lagi punya ”channel” di Istana Negara Jakarta yang diharapkan bisa membantu proses percepatan pembangunan di Pacitan. Benarkah demikian? Jangan ndisiki kersa. Sekali lagi, lebih baik menyimak fakta politik Pacitan terkini yang semakin dinamis. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button