Madiun

Pabrik Rokok Kelobot ’’Mengepul’’ hingga Daerah Tetangga

PR Tebu merupakan satu-satunya pabrik rokok kelobot di Kota Madiun yang masih bertahan. Di tengah gempuran rokok brand besar, pabrik itu masih sanggup menghidupi puluhan pekerjanya.

———-

ROKOK kelobot ternyata masih memiliki segmen pasar tersendiri. Setidaknya, Pabrik Rokok (PR) Tebu hingga kini tetap eksis. Aktivitas produksi pabrik rokok kelobot satu-satunya di Kota Madiun yang masih bertahan itu hingga kini masih berjalan. ‘’Sejarahnya panjang, dulu tidak sebesar ini,’’ kata Aman Winarto, owner PR Tebu, Rabu (4/12).

Aman merupakan generasi kedua penerus bisnis tembakau mediang Kam Yauw Yam ayahnya. ‘’Join dengan temannya, tapi saya kurang begitu paham,’’ ujar sulung dari lima bersaudara kelahiran 1954 silam itu.

Sejak masih belia Aman telah berkeliling ke berbagai daerah untuk berburu dan mempelajari tembakau. Akhirnya, pada 1980-an silam ayahnya mendirikan PR Tebu. Ketika itu industri rumahan tersebut hanya mempekerjakan lima orang. Seorang di antaranya Kasitun.

Pria 81 tahun itu masih ingat betul kala itu saban hari bekerja mulai pukul 07.00 hingga 17.00. Bersama empat pekerja lain, Kasitun menyelesaikan seribu linting rokok kelobot. Ketika itu dia mendapatkan upah Rp 17,5 ribu per hari. ‘’Berat ketika itu. Enak kalau memandang sekarang. Orang kebanyakan tidak menengok perjalanannya,’’ tuturnya.

PR Tebu semakin berkembang setelah diwariskan kepada Aman. Tembakau didatangkan dari berbagai daerah. Mulai Madiun dan sekitarnya, Lamongan, hingga Malang. Sementara, kelobot dipasok dari kawasan Somoroto, Ponorogo.

Pasar rokok kelobot produksi PR Tebu tidak hanya wilayah Madiun Raya. Melainkan hingga Nganjuk dan pinggiran Bojonegoro. Itu tidak terlepas dari kiat Aman menjaga kualitas racikan produk pabriknya. ‘’Ibarat restoran, kalau orang cocok dengan bumbu masakan yang dijual, otomatis terus dicari dan nggak mau pindah ke restoran lain,’’ kata pria asli Tulungagung yang kini menetap di Jalan Kampar itu.

Tak hanya itu, Aman kerap turun langsung meracik saus rokok produksinya. Resep itu didapatkan dari warisan keluarga secara turun-temurun. Saat ini, PR Tebu memiliki sekitar 60 pekerja yang mayoritas perempuan. ‘’Kebanyakan sudah tua. Kerja mulai pukul 07.00 sampai 12.00. Masing-masing bisa melinting seribu batang rokok,’’ terangnya. (kid/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close