News

Orang Yang Tidak Menuntut Ilmu Maka Akan Mendapat

×

Orang Yang Tidak Menuntut Ilmu Maka Akan Mendapat

Share this article

Orang Yang Tidak Menuntut Ilmu Maka Akan Mendapat – , merupakan salah satu karya klasik dalam bidang pendidikan yang banyak dikaji, dikaji, direnungkan dan digunakan oleh para santri ilmu khususnya di lingkungan pesantren. Materi dalam buku ini dikemas dengan muatan pendidikan moral dan spiritual.

Saya kutipkan sebuah puisi indah tentang enam syarat memperoleh ilmu yang bermanfaat menurut Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Karramaallahu Wajhah sebagai berikut, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, uang, bimbingan guru dan waktu yang lama.

Orang Yang Tidak Menuntut Ilmu Maka Akan Mendapat

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat mengantarkan pemiliknya kepada ketaqwaan kepada Allah SWT. Ilmu bermanfaat ini tidak mungkin diperoleh kecuali ada enam syarat yang harus dipenuhi oleh pemburu. 6 kondisi tersebut adalah:

Urgensi Belajar Adab Sebelum Ilmu Agama

Artinya, kemampuan menangkap ilmu bukan berarti pencari ilmu harus memiliki IQ yang tinggi, padahal IQ yang tinggi sangat menentukan dalam mencari ilmu. Selama akal seseorang mampu menangkap ilmu, berarti ia telah memenuhi syarat tersebut. Bagi penulis sendiri, kecerdasan merupakan sesuatu yang dapat ditingkatkan. Orang tua sering mengatakan itu

“Pikiran kita ibarat pedang, semakin banyak kita melakukan kesalahan, maka semakin tajam pula. Sedangkan jika dibiarkan maka akan menjadi berkarat dan tumpul. Demikian pula bila kita sering berpikir, sering berdiskusi, sering melafalkan sesuatu yang Alquran, sering lantunan, sering takroran (mempertahankan hafalan dengan cara mengulang-ulang)

Kecerdasan juga bisa diasah dengan melakukan beberapa hal positif, antara lain: banyak membaca, mengubah gaya rutinitas, membuat ulasan pelajaran, menjalani hidup dan makan sehat, rajin berolahraga, dan bergaul dengan orang yang lebih pintar.

Artinya dengan bukti ketekunan, mencari ilmu tanpa semangat dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa; Ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama, merupakan sesuatu yang mulia dan penuh penderitaan. Oleh karena itu, banyak yang mencari ilmu, namun sedikit sekali yang berhasil dibandingkan yang tidak. Mengapa? Karena mencari ilmu itu susah, yang dihafal kemarin belum tentu perlu dihafal sekarang, kalaupun yang dihafal kemarin masih berkaitan dengan pelajaran hari ini, akhirnya pelajaran hari ini berantakan karena hilangnya pemahaman kemarin, jadi tidak semangat. dan kegigihan rasanya sangat sulit untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan untuk masuk

Keutamaan Orang Yang Menyebarkan Ilmu

Arinya tabah menghadapi cobaan dan ujian dalam menuntut ilmu. Orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan menuju penciptanya, itulah sebabnya setan sangat membencinya. Yang dikehendaki setan adalah jangan ada orang yang mencari ilmu, tidak ada orang yang mengajarkan kebaikan, tidak ada orang yang merenungkan keutamaannya, tidak ada orang yang mengajari manusia cara beribadah, dan tidak ada orang yang menasihati mereka dengan hikmah.

Baca Juga  Motivasi Masuk Paskibra

Ujian bagi santri khususnya santri di pesantren sangat bervariasi. Misalnya penyakit kulit, sampai-sampai ada siswa yang tangannya tidak bisa bergerak leluasa seperti biasanya, terasa perih dan pegal, bahkan sulit makan.

Atau ada juga cerita seorang pelajar yang harus membeli sandal sebulan sekali karena sandalnya hilang entah kemana. Itu hanya sebagian kecil dari proses yang ada di pesantren. Menghadapi cobaan memang tidak mudah. Tetapi jika Anda ingin mencapai tujuan Anda, Anda harus berkorban. Kabar baiknya, sesungguhnya cobaan itu merupakan wujud rasa cinta Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya besar kecilnya pahala itu tergantung besar kecilnya cobaan itu, dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah menguji mereka, siapa yang senang akan mendapat keridhaan Allah, dan siapa yang marah akan mendapat murka Allah.” (HR. Tirmidzi).

Artinya, orang yang mempelajari sains membutuhkan biaya, sama seperti semua orang yang membutuhkannya. Namun jangan salah paham bahwa belajar membutuhkan biaya yang besar dan harus kaya terlebih dahulu, biaya disini hanya untuk sandang, pangan dan papan. Adat istiadat masyarakat zaman dahulu, jika mencari ilmu harus melakukan perjalanan menemui guru atau pergi ke madrasah. Hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana situasinya. Seseorang yang ingin bersekolah tidak hanya cukup memiliki niat, tetapi juga membutuhkan seragam, buku, alat tulis dan lain-lain. Mengejar ilmu pengetahuan, berapapun jumlahnya, tentu membutuhkan uang, sebagai bentuk pengorbanan dan perjuangan. Orang yang beriman kuat tidak akan khawatir dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkannya, karena ia menyadari bahwa semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang ingin diraihnya, yaitu ilmu dan derajat yang tinggi di sisi Tuhannya.

Adab Dan Akhlak Dalam Menuntut Ilmu

Artinya orang yang mencari ilmu harus mempunyai guru dan tidak bisa belajar mandiri. Ilmu agama merupakan warisan para nabi dan tidak jatuh begitu saja dari pohon. Kita bisa melihat sejarah turunnya wahyu dan penyampaiannya kepada para sahabat, bagaimana masing-masing nabi menerima wahyu dari malaikat Jibril, kemudian nabi menyampaikannya kepada para sahabat, para sahabat menyampaikannya kepada para sahabat.

Dan seterusnya untuk masyarakat masa kini. Jadi ilmu yang kita terima sekarang adalah ilmu yang turun kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Allah SWT. Jelas sekali bahwa orang yang belajar perlu dibimbing oleh seorang guru.

Artinya masyarakat harus belajar dalam waktu yang lama. Tidak cukup hanya bersekolah di pesantren yang ramai dan merasa cukup memahami agama. Kita bisa mengambil contoh Imam Bukhari yang mempelajari ilmu hadis sejak usia enam belas tahun. Ia keluar masuk desa, berkeliling ratusan kota, berkenalan dari satu negara ke negara lain untuk belajar sekaligus mengumpulkan sejarah Nabi Muhammad SAW. Perjalanan paling spektakuler yang dilakukannya adalah antara Mesir dan Khurasan. Sebuah perjalanan yang melelahkan, namun membahagiakan. Perjalanan panjangnya membuahkan hasil. Kegigihannya membuahkan hasil. Ia berhasil mengumpulkan tidak kurang dari enam ratus ribu hadis, tujuh ribu di antaranya dimuat dalam kitab yang ia susun.

Baca Juga  1 Juta Dollar Berapa Rupiah

. Semangat juang dan waktu singkat yang diwarisi para ulama terdahulu patut kita amalkan saat ini. Semoga kita mendapat ilmu yang membawa keberkahan dan manfaat di akhirat.

Apakah Orang Tua Mendapatkan Pahala Amal Shalih Anaknya?

Oleh : Fitri Hiidayatullah Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu mengumumkan; “Jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan memberimu lebih banyak (nikmat), dan jika kamu menolak (nikmat-Ku), maka siksa-Ku sungguh pedih.” (QS. Ibrahim : 7) Baca selengkapnya…

Oleh: Moh. Taufiq Anas: “Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah tidak dapat menopang kamu; Maka carilah rezeki dari Allah, sembahlah Dia dan syukuri Dia. Hanya kepada-Nyalah kamu kembali” Baca selengkapnya…

Manusia diciptakan Allah SWT berbeda dengan makhluk lainnya. Orang punya pikiran untuk berpikir. Namun dengan pemikiran tersebut, masyarakat masih belum bisa menggunakannya secara individu secara sempurna karena keterbatasannya. Orang butuh orang lain Baca selengkapnya…Ulama adalah pewaris para nabi. Keberadaan mereka bagaikan bulan purnama yang menerangi kegelapan malam. Keharuman namanya akan selalu dikenang sepanjang zaman. Nasehat dan bimbingannya ibarat hujan yang menghidupkan tanaman yang layu dan mati. Nasehat dan bimbingannya membuat hati yang mati menjadi hidup dan putih bersih.

Diantara ulama tersebut adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas ash-Shafii Rahimahullah (150-204 H/767-820 M). Seorang ulama besar pada masanya yang berpengetahuan luas, beriman ikhlas, berakhlak mulia, berakhlak mulia; nasehat dan bimbingannya menjadi acuan bagi umat.

Keutamaan Menuntut Ilmu Di Bulan Ramadhan

Jadi mari kita lihat beberapa saran dan sarannya. Nasehat ini diambil dari sabda Imam Syafii tentang mencari ilmu. Di bawah ini beberapa sabda Imam Syafii tentang mencari ilmu;

Cara terbaik untuk melakukan ini di لْمِ. Jawaban: وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ? Nama:

“Tidak ada amalan yang lebih utama setelah menyelesaikan amal wajib selain mencari ilmu. Lalu beliau ditanya: Bahkan jihad di jalan Allah pun tidak? Beliau menjawab: Jihad juga tidak di jalan Allah.”1

Para ulama menjelaskan bahwa amalan sunnah yang paling afdhalic (paling penting) di zaman ini adalah pencarian ilmu. Mengapa? Karena saat ini kebodohan merajalela dimana-mana dan banyak orang yang mengucapkan fatwa tanpa dasar ilmu apapun

Adab Dan Etika Dalam Menuntut Ilmu Agar Berkah Dan Bermanfaat

Ilmu yang diperoleh dengan amalan adalah ilmu yang bermanfaat. Tidaklah cukup seseorang hanya sekedar mengetahui dan mengingat ilmu. Pengetahuan dipelajari untuk dipraktikkan. Jika tidak, ilmu ini akan menjadi bukti yang memberatkannya di kemudian hari yang akan membinasakan dirinya.

Baca Juga  Kerjasama Asean Di Bidang Ketenagakerjaan Adalah

Para ulama memandang ilmu dan amal ibarat pohon dan buah. Praktek adalah buah dari pengetahuan. Jadi ilmu tanpa amalan ibarat pohon yang tidak berbuah, maka pohon itu tidak ada gunanya. Oleh karena itu, Imam Syafii rahimahullah berkata:

Di antara sabda Imam Syafii tentang mencari ilmu ada enam kriteria mencari ilmu. Imam Syafii rahimahullah SAW berkata:

Pengetahuan itu mudah. Sedangkan dosa dan kemaksiatan adalah kegelapan yang akan memadamkan cahaya ilmu. Karena tidak mungkin bisa mendamaikan terang dan gelap di dalam hati. Maka wajib bagi pembelajar ilmu untuk menjauhi dosa dan maksiat. Dengan demikian Allah akan memberikan cahaya ilmu ke dalam hatinya.

Akhlak Menuntut Ilmu

Diantara sabda Imam Syafi’i tentang mencari ilmu adalah perkataan beliau saat memberikan nasehat berharga dari seorang guru yang berwibawa, Waki’ bin al-Jarrah Rahimahullah (129-197 H/746-812 M). Imam Syafii rahimahullah berkata dalam ayatnya:

Diantara perkataan Imam Syafi’i tentang belajar, beliau mengatakan hendaknya semangat belajar di waktu senggang. Imam Syafii rahimahullah SAW berkata:

“Belajarlah sebelum menjadi pemimpin, karena sekali kamu menjadi pemimpin, kamu tidak bisa belajar.”

Imam an-Nawawi Rahimullah (631-676 H/1234-1278 M) menjelaskan bahwa maksud dari perkataan Imam Syafii di atas adalah anda harus bersungguh-sungguh untuk menyempurnakan keterampilan (yaitu ilmu) anda jika anda masih menjadi pengikutnya. namun bukan pemimpin. Ketika menjadi seorang pemimpin, Anda mengurungkan niat untuk mencari ilmu karena pangkat yang tinggi dan jadwal yang padat

Syarat Penting Dalam Menuntut Ilmu

Demikianlah artikel tentang memperoleh manfaat dari sabda Imam Syafii tentang mencari ilmu. Semoga Allah Ta’ala menjadikan nasehat ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita semua untuk semangat mempelajari agama Allah dan selalu mengamalkannya. Amin. MPS/JFR Marhaban ya Ramadhan. Kita tidak bisa merasakan memasuki bulan ketiga Ramadhan di tengah pandemi Covid-19. Meski masih terasa berbeda dengan Ramadhan sebelum pandemi, dimana tidak ada batasan bagi kita

Surat perjanjian damai tidak akan menuntut, kelebihan orang menuntut ilmu, orang yang menuntut ilmu, bila mesin tidak ada sistem pendingin maka mesin akan mempercepat, ayat alkitab carilah maka kamu akan mendapat, doa menuntut ilmu yang bermanfaat, ayat yang menjelaskan tentang menuntut ilmu, orang yang membaca alquran akan mendapat, seseorang yang terinfeksi oleh hiv maka virus ini akan menyerang, contoh surat pernyataan tidak akan menuntut, keutamaan orang yang menuntut ilmu, pidato yang berjudul menuntut ilmu