Advertorial

Optimalisasi Pusat Inkubasi Bisnis di Lingkungan Kampus

JAKARTA – Semua negara berupaya untuk bangkit dari pandemi dan ini mendorong pemulihan ekonomi terjadi di berbagai negara. Di Indonesia, indikator utama perekonomian mengonfirmasi kinerja pemulihan yang terus menunjukkan prospek perbaikan. Diperkirakan keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 bisa mencapai 3,7–4,5 persen.

‘’Dampak pengetatan PPKM di bulan Juli 2021 bersifat sementara. Ini terlihat dari kembalinya ekspansi aktivitas PMI manufaktur bulan September di angka 52,2,’’ ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Sosialiasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) Goes to Campus, secara virtual pada Selasa (12/10).

Di masa pandemi, UMKM terbukti menjadi critical engine yang berperan besar dalam pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, pemerintah terus berupaya merumuskan kebijakan strategis bagi UMKM untuk mewujudkan kesejahteraan dan pemerataan yang salah satunya meningkatkan akses pembiayaan dengan menerbitkan rasio pembiayaan inklusif makroprudensial atau rasio kredit UMKM bagi perbankan.

Pemerintah melalui ketentuan ini memperluas cakupan pembiayaan kredit UMKM dengan memperhatikan keahlian dan model bisnis bank. Di antaranya, pembiayaan yang dapat dilakukan langsung melalui rantai pasok, lembaga jasa keuangan, pembelian surat berharga, dan pembiayaan lainnya yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Guna mempercepat pemulihan UMKM di masa pandemi, pemerintah meningkatkan plafon KUR sebanyak dua kali di tahun 2021. Semula sebesar Rp 220 triliun menjadi Rp 253 triliun. Kemudian, ditingkatkan menjadi Rp 285 triliun rupiah.

‘’Besarnya perhatian terhadap UMKM tidak hanya terwujud dalam pemberian suku bunga KUR yang rendah, tetapi juga ada tambahan subsidi bunga dari 6 persen menjadi 3 persen di tahun 2021. Ini juga diikuti dengan persyaratan yang dipermudah dan kredit tanpa agunan dinaikkan dari Rp 50 juta menjadi Rp 100 juta,’’ jelas Airlangga.

Di samping itu, pemerintah juga melakukan relaksasi KUR. Seperti penundaan angsuran pokok KUR, perpanjangan jangka waktu dan tambahan limit plafon KUR serta relaksasi persayaratan administrasi.

Sejalan dengan penerapan stimulus terhadap UMKM melalui KUR untuk menguatkan ekonomi nasional di masa pandemi, Airlangga mengatakan diperlukan juga dorongan dari berbagai stakeholders. Di antaranya, dengan melibatkan akademisi. ‘’Kegiatan sosialiasi KUR kepada universitas atau perguruan tinggi diharapkan dapat mengoptimalisasi pusat-pusat pengembangan inkubasi bisnis di lingkungan kampus yang dapat didukung melalui pembiayaan KUR,’’ katanya.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, untuk menyerap tenaga kerja dan dalam jangka panjang menjadikan Indonesia menjadi negara maju, pemerintah harus bisa menciptakan para wirausahawan muda.

‘’Untuk mendukung mahasiswa berwirausaha, pemerintah mendukung dengan cara menyediakan modal kerja. KUR ini perlu dikenalkan kepada mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa yang berwirausaha memulai usahanya dari skala UMKM,’’ terang Iskandar.

Pemerintah mengharapkan pemuda yang sebagian besar berasal dari mahasiswa di kampus bisa menjadi wirausahawan baru. Pemerintah menargetkan di tahun 2024 bisa mencapai 3,9 persen wirausahawan baru yang berasal dari pemuda.

‘’Sosialisasi KUR kepada akademisi hari ini diharapkan bisa dilakukan sebagai perwujudan kolaborasi antara pemerintah dengan lembaga penyalur KUR. Semoga UMKM dapat naik kelas. Dan, upaya ini utamanya diharapkan dapat membangkitkan UMKM di pasca pandemi Covid-19,’’ jelas Menko Airlangga kembali. (don/her/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button