Magetan

Operasionalkan Jalur Ganda Madiun-Kedungbanteng

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Penantian panjang itu telah berakhir. Mulai dirintis 2016, Rabu (16/10) Jalur Ganda Madiun–Kedungbanteng (JGMK) akhirnya menyambung. Operasionalisasi JGMK segmen Geneng–Babadan dengan panjang 28,717 kilometer itu diresmikan oleh pihak Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) wilayah Jatim di Stasiun Barat.

Proses pengoperasian ditandai dengan pelaksanaan switch over (perpindahan jalur) yang dimulai pukul 05.30 dan berakhir pukul 08.35. Serta berfungsinya sistem persinyalan dengan elektrik. Kereta api (KA) pertama yang melintas adalah Sancaka relasi Jogjakarta–Surabaya Gubeng.

KA kelas eksekutif-bisnis itu melaju dengan kecepatan 60 km/jam di JGMK. Terpantau KA Sancaka masuk jalur 2 Stasiun Madiun pukul 09.18 dan berangkat pukul 09.21 lepas ke Stasiun Babadan tanpa hambatan. ‘’Semua itu dilakukan untuk memantau kondisi jalur baru dan melindungi pekerjaan purna pengalihan,’’ kata Kasi Prasarana BTP Jatim Prayitno.

Sebelum pengoperasian JGMK segmen Geneng–Babadan, pihaknya bersama Ditjen Perkeretaapian dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah melakukan uji beban jalur baru sebanyak dua kali. Pada uji beban pertama masih ada beberapa temuan yang harus diperbaiki. Sementara, pada uji beban kedua sudah berjalan baik dan hanya ditemukan masalah minor.

Bahkan, sebelum itu KA Sancaka telah melewati JGMK tersebut. Hasilnya, rel tidak bengkok dan kereta tidak goyang. Meski demikian, proses evaluasi dan uji kelaikan tetap akan dilaksanakan. Baru setelah itu akan dilakukan switch over tahap kedua pada November. ‘’Sehingga saat libur natal dan tahun baru sudah bisa beroperasi maksimal,’’ terangnya.

Prayitno menyatakan, proses switch over dari jalur KA lama ke yang baru itu dibutuhkan kehati-hatian. Tahapan tersebut sudah pihaknya lalui sehari sebelum pengoperasian JGMK. Meliputi check list pengalihan jalur sesuai SOP baik dalam kondisi normal maupun darurat, material batu kerikil, bantalan beton maupun kayu, perlengkapan alat kerja, jumlah pekerja, penentuan waktu kerja, dan penanggungjawab bagian. ‘’Dan hari ini (kemarin, Red) juga ada penggantian wesel untuk jalur ganda, pembongkaran dan pemasangan lurusan,’’ jelasnya.

Menurutnya, pekerjaan itu dilakukan serentak di Stasiun Barat, Geneng, dan Madiun. Pemasangan wesel untuk pemindahan jalur bisa rampung tepat waktu dengan bantuan alat berat. ‘’Ada beberapa komponen rel KA yang sebelumnya tak terpakai, ternyata setelah dilakukan kajian masih bisa dipakai. Bahkan, sebagian dipindah untuk digunakan di beberapa titik lain yang membutuhkan,’’ papar Prayitno. (fat/c1/her)

Persingkat Waktu Tempuh KA

PENGOPERASIAN jalur ganda lintas selatan Jawa antara Madiun–Kedungbanteng segmen Geneng–Babadan diyakini mempunyai multiplier effect yang besar bagi perekonomian negara. Hal tersebut diakui oleh Direktur Prasarana Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Heru Wisnu Wibowo di Jakarta Rabu (16/10).

Berdasarkan rilis yang diterima Jawa Pos Radar Madiun, Heru mengungkapkan bahwa jalur ganda kereta api (KA) yang menjadi bagian dari lintas Surabaya–Solo tersebut merupakan proyek strategis nasional. Oleh karena itu, pengoperasiannya sangat dinanti.

‘’Pembangunan jalur ganda atau double track merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kapasitas transportasi di Indonesia. Dengan transportasi yang baik dan efisien, diharapkan bisa menggerakkan roda ekonomi antardaerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,’’ terang Heru.

Sebelum jalur ganda Madiun–Kedungbanteng (JGMK) segmen Geneng–Babadan dengan panjang 28,7 kilometer dioperasionalkan kemarin, Ditjen Perkeretaapian juga telah menyelesaikan pembangunan dan mengoperasikan jalur ganda antara Jombang-Madiun untuk segmen Baron–Nganjuk–Babadan sepanjang 50,9 kilometer. Jalur tersebut sudah beroperasi sejak Maret 2019 lalu.

Selain membangun jalur ganda, pada ruas Madiun–Kedungbanteng, Ditjen Perkeretaapian juga membangun lima stasiun baru, 37 jembatan baru, 39 unit box culvert, serta melakukan pekerjaan persinyalan dan telekomunikasi. Kelima stasiun yang dibangun yakni Stasiun Barat, Stasiun Geneng, Stasiun Paron, Stasiun Kedunggalar, dan Stasiun Walikukun.

‘’Ada banyak manfaat yang bisa diraih dari pembangunan ini, yaitu mempersingkat waktu tempuh, meningkatkan kapasitas operasi kereta api, serta meningkatkan pelayanan mobilitas orang dan barang,’’ sebut Heru.

Selain meningkatkan kapasitas dan frekuensi perjalanan KA menjadi dua kali lipat, jalur ganda juga bisa mengatasi masalah darurat yang bisa muncul setiap saat. ‘’Misalnya terjadi sesuatu di salah satu rel, rusak atau ada kereta anjlok, kereta yang lain masih bisa beroperasi. Selama ini, jika terjadi sesuatu pada rel, kami melakukan pengalihan jalur, sehingga perjalanan lebih jauh,’’ beber Heru.

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) wilayah Jawa Bagian Timur Nur Setiawan Sidik mengatakan, pembangunan jalur ganda lintas selatan Jawa yang berada di wilayah kerjanya terbagi dua paket. Paket pertama Jalur Ganda Jombang Madiun (JGJM) sepanjang 84 kilometer yang sudah dioperasionalkan sejauh 54 kilometer mulai Stasiun Baron sampai Stasiun Babadan. ‘’Sementara untuk Stasiun Jombang sampai Baron akan menyusul berikutnya. Sedangkan, untuk paket kedua adalah Jalur Ganda Madiun–Kedungbanteng sepanjang 57 Kilometer,’’ urainya.

Selama ini, jalur KA Jombang–Madiun termasuk jalur yang padat. Dalam sehari dilalui sekitar 118 KA. Perinciannya, 56 KA melalui jalur Kertosono–Madiun dan 62 KA melalui jalur Jombang–Kertosono.

Di lintas tersebut terdapat sekitar tujuh perlintasan resmi terjaga, sembilan perlintasan tak terjaga tetapi menggunakan early warning system (EWS), empat perlintasan tak terjaga tanpa EWS, satu jalan layang, dan dua terowongan (underpass).

Menurut Nur, pembangunan jalur ganda sangat menguntungkan dari berbagai aspek. Selain perjalanan antardaerah menjadi lebih singkat, penggunaan transportasi masal kereta api juga dapat mengurangi kemacetan. Pun dapat menurunkan angka kecelakaan serta menekan penggunaan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan. Bahkan, proyek ini juga bisa mengurangi pengangguran. ‘’Karena pekerja lapangan dan administrasi berasal dari warga sekitar,’’ ujarnya. (Kemenhub/fat/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button