Ponorogo

Omzet Jutaan, Setia Loper Koran meski Bisnis Terus Berkembang

Pantang bagi Putri Deska Prastika Sari berpangku tangan. Setiap harinya, ibu rumah tangga ini mengampu dua pekerjaan tambahan. Loper koran sekaligus menjajakan jilbab di Desa Pulung Merdiko, Kecamatan Pulung.

————–

NUR WACHID, Ponorogo

SIANG itu, Putri mengobrol dengan seseorang. Dengan telaten dia meladeni pelanggannya yang mayoritas remaja itu. Tak jarang dia menjadi tempat curhatan. Di kios jilbab samping rumahnya itu, dia duduk lesehan di lantai. Kios berukuran sedang itu dipenuhi jilbab berbagai motif dan ukuran. Mulai etalase, lemari, hingga tiang gantungan. Di bagian belakang, berjajar manekin yang juga dijilbabi. Di sebelahnya, tumpukan jilbab baru dikeluarkan dari karung. Rencananya Putri akan menata barang dagangan yang baru sampai itu. ‘’Setiap pagi mengantarkan koran sekalian bawa jilbab,’’ kata Putri.

Sebagai perempuan, pantang baginya berpangku tangan. Selain menjadi ibu rumah tangga, dia tetap membantu suami dengan bekerja sebagai loper koran dan jualan jilbab. Meloper koran telah dilakoninya setahun terakhir. Ketika itu, suaminya yang juga seorang loper koran mendapat tugas tambahan mengantar koran di Kecamatan Sooko. Demi meringankan beban pekerjaan suami, bakda subuh dia rajin berangkat mengambil koran dari biro Radar Ponorogo. Usai mengambil koran dari di wilayah kota, Putri harus kembali menyusuri jalan naik turun menuju Sooko. Dia bertugas mengantarkan koran ke kantor desa dan gereja di kecamatan tersebut. Pukul 09.00 barulah tugasnya selesai dan harus cepat-cepat kembali ke rumah. Sebab, dia juga harus merawat anaknya yang masih tiga tahun. Selang beberapa bulan, dia kepikiran sambil mengantarkan koran membawa barang dagangan lain. Dia memutuskan membawa jilbab untuk dijual kepada pelanggan koran. ‘’Lumayan hasilnya bisa buat bantu suami,’’ ungkapnya.

Dalam sehari, Putri selalu menempuh perjalanan lebih dari 20 kilometer. Selang beberapa bulan, dia mulai mendirikan kios jilbab di rumahnya. Awalnya memanfaatkan bekas warung berdinding bambu milik ibunya yang sudah tidak dipakai. Usai mengantarkan koran dan menjual jilbab, Putri menunggu kios jilbab sambil momong. ‘’Awalnya, seminggu hanya laku satu jilbab. Alhamdulillah semakin lama semain banyak peminatnya,’’ ucapnya.

Hanya dua bulan bisnis jilbabnya semakin berkembang. Berkat usahanya itu pula, kini dia dapat membangun kios di samping rumahnya. Kini, omzetnya tembus Rp 4 juta sebulan. Di bulan puasa, pendapatan itu bisa berlipat ganda hingga Rp 20 juta. ‘’Sampai sekarang tetap meloper koran karena semua berawal dari sana. Jilbabnya saya pasarkan via Instagram @putrihijabponorogo,’’ katanya. ***(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close