Magetan

Olah Sampah Pasar, DLH Gandeng IPB

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Rumah composting Pasar Sayur Magetan akhirnya difungsikan. Pengelolaan rumah kompos yang sempat diusut polisi itu digunakan untuk mengolah sampah organik dari Pasar Sayur I dan II.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan Saif Muchlissun mengatakan, dalam sehari kedua pasar itu menghasilkan sampah sekitar 6 ton atau dua kontainer. Jumlah tersebut seperlima dari total sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) Milangasri. ‘’Agar sampah yang dibuang ke TPA tidak terlalu banyak, harus diolah pada hulu,’’ ujarnya Selasa (22/10).

Muchlis –sapaan akrab Saif Muchlissun- mengatakan, dua kontainer sampah setiap hari itu terdiri jenis organik dan anorganik. Karena itu, harus dipilah terlebih dahulu lantaran hanya sampah organik yang bisa diolah.

Pihaknya telah menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengolahnya menggunakan larva black soldier fly (BSF). Hasil pengolahan sampah itu di antaranya berupa pelet dan kompos. ‘’Semuanya bernilai ekonomi. Padahal, dari sampah,’’ tuturnya.

Sebagai pilot project, hanya sampah Pasar Sayur yang akan diolah. Dalam jangka panjang, teknologi tersebut bakal diterapkan ke seluruh pasar di Magetan. ‘’Dimulai dari sini (Pasar Sayur, Red) yang paling banyak sampahnya,’’ kata Muchlis.

Sayangnya, kesadaran pedagang memilah sampah masih rendah. Selama ini mereka biasa membuang sampah organik maupun anorganik ke satu tempat yang sama. ‘’Padahal, yang dapat diolah dengan bantuan larva BSF hanya jenis organik, kecuali sampah kubis,’’ sebutnya.

Muchlis menambahkan, DLH sudah menyiapkan dua personel untuk mengelola rumah composting tersebut. Mereka telah menjalani pelatihan oleh guru besar teknik lingkungan ITB Prof Arief Sabdo Yuwono. Pihaknya juga sudah menyiapkan tiga bak besar –satu di antaranya setinggi 1 meter- untuk menampung sampah organik dari Pasar Sayur. ‘’Cukup untuk menampung sampah setiap hari,’’ tuturnya.

Dia memastikan tidak akan ada sampah yang meluber. Sebab, jika pagi dimasukkan ke bak, sorenya sudah habis dimakan larva BSF. Pun, pihaknya telah menyiapkan ruangan untuk menetaskan larva yang sudah bermetamorfosis menjadi lalat. ‘’Lalat ini lalat ’’elite’’. Tidak akan sembarangan hinggap. Tidak akan terbang jauh sampai masuk ke rumah warga maupun menghinggapi makanan di warung dekat rumah composting,’’ jelasnya.

Kabid Pengelola Sampah dan limbah B3 DLH Magetan Sumarwidi menambahkan, pengelolaan sampah itu juga menyasar limbah rumah tangga. Hanya dibutuhkan bak berukuran 70×70 sentimeter untuk menampung sampah dari tiga rumah. ‘’Kalau dari hulu sudah diolah, permasalahan sampah pasti akan terselesaikan,’’ ucapnya. (bel/c1/isd)

Praktis dan Bernilai Ekonomi

PENGOLAHAN sampah organik dengan bantuan larva black soldier fly (BSF) terbilang teknologi baru di Magetan. Pun, di sejumlah daerah terbukti efektif mengurai problem sampah perkotaan. ‘’Larva ini akan memakan sampah organik sampai berumur 21 hari,’’ ujar guru besar teknik lingkungan ITB Prof Arief Sabdo Yuwono Selasa (22/10).

Arief mengatakan, pengolahan sampah dengan larva BSF harus melalui beberapa tahapan. Mula-mula, sampah dipilah terlebih dahulu. Hanya jenis organik yang bisa diolah. Sampah organik yang sudah dimasukkan bak khusus lantas diberi telur BSF. ‘’Dalam tiga hari, telur itu akan menetas menjadi larva,’’ tuturnya.

Setelah berumur 21 hari, lanjut Arief, larva bisa dipanen. Kadar proteinnya mencapai 40 persen. Harga jualnya sekitar Rp 10 ribu per kilogram. Larva itu bisa digunakan untuk pakan burung, ikan, bebek, ayam, hingga komoditas ekspor ke Eropa. ‘’Nah, daripada sampah dibuang begitu saja dan jadi masalah, bisa dimanfaatkan untuk pakan larva,’’ kata Arief.

Sisa makanan larva itu bisa diolah menjadi pelet untuk pakan ternak dengan kadar proteinnya mencapai 50 persen. Hasil bernilai ekonomi lainnya yaitu kompos. ‘’Sudah banyak yang cari. Tidak susah menjualnya,’’ ujar Arief sembari menyebut pengolahannya juga tak rumit. Tidak perlu membolak-balik sampah yang sudah dimasukkan bak.

Meski makanan larva itu sampah, Arief memastikan tidak menimbulkan bau tak sedap. Lalat hasil metamorsosis juga tak akan hinggap di sembarang tempat. ‘’Makanya, lalat ini disebut lalat ’’elite’’. Hinggap di makanan saja tidak mau,’’ terangnya.

Menurut dia, siklus hidup lalat itu terbilang pendek. Yakni, hanya 28 hari. Setelah masa kawin, lalat jantan akan mati. Sedangkan yang betina mati usai bertelur. ‘’Jadi, sangat praktis untuk mengurai sampah organik. Tak hanya oleh instansi pemerintahan, tapi juga masyarakat skala rumahan,’’ sebutnya.

Arief menambahkan, telur BSF sudah diperdagangkan. Harga di pasaran saat ini hanya Rp 10 ribu per gram. Satu gram bisa berisi ribuan telur. ‘’Setiap sampah organik tinggal ditaruh begitu saja. Tidak perlu diapa-apakan karena akan dimakan larva,’’ jelasnya.

Menurut dia, pengolahan sampah dengan bantuan larva BSF cocok diterapkan di Magetan. Sebab, temperatur udara daerah setempat tidak panas dan tidak dingin. ‘’Kelemahannya hanya dari warga. Masih banyak yang jijik memilah sampah organik dan anorganik,’’ pungkasnya. (bel/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close