Bupati Menulis

Oksigen

SEMUA terkejut. Oksigen langka di mana-mana. Kebutuhan lebih banyak dari supply. Dalam ilmu ekonomi, ada barang ekonomi yang pemerolehannya memerlukan pengorbanan karena jumlahnya terbatas. Dengan membeli. Sedangkan ada barang bebas yang memperolehnya tidak perlu pengorbanan. Seperti oksigen yang disediakan alam.

Nyatanya saat ini oksigen juga menjadi barang langka di tengah pandemi Covid-19. Karena yang terpapar Covid-19 dan mengalami sesak napas memerlukan bantuan oksigen medis yang mengandung oksigen murni. Mereka perlu mendapat oksigen lebih banyak dari yang tersedia di udara. Untuk menstabilkan pernapasan, sehingga oksigen dalam tubuh sesuai batas normal.

Saat ini begitu banyak yang dirawat di rumah sakit (RS). Semua RS penuh. IGD kewalahan. Pasien sampai dirawat di teras. Selasar RS juga digunakan. Situasi di Mataraman hampir sama. RSUD dr Sayidiman di Magetan juga. RS Darurat (RSD) Ki Mageti bahkan langsung terisi.

Alhasil, puskesmas, RSUD, dan RSD perlu oksigen. Belum termasuk RS swasta. Perusahaan yang selama ini menyuplai oksigen jumlahnya terbatas. Dan, kita belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Kok tiba-tiba semua rumah sakit membutuhkan oksigen.

Kelangkaan merembet di mana-mana. Termasuk di RSUD. Sepekan lalu kita pernah tinggal sepuluh tabung oksigen. Oksigen liquid habis. Gara-gara pasokan terlambat. Selain jarak yang cukup jauh, permintaan begitu banyak. Bagaimana tidak. Pabrik oksigen ada di Sidoarjo dan Gresik. Sedang Mataraman paling ujung.

Biasanya oksigen liquid dipasok sepekan sekali. Tidak pernah mengalami kekurangan. Pasokan tidak pernah terlambat. Saat darurat, operator sekali mengisi hanya sekitar 2.000-3.000 liter. Sedang kebutuhan sehari 1.500 liter. Dua hari habis. Setiap dua hari sekali dibuat jantungan memikirkan oksigen.

Belum lagi keperluan oksigen tabung. Bagi yang sesak napas berat, sehari memerlukan dua tabung. Kebutuhan di RSUD sekitar 100 tabung. Itu belum untuk RSD dan puskesmas. RSD ada 47 tempat tidur. Perlu sekitar 100 tabung. Baik liquid maupun tabung, kita kesulitan mencukupi.

Dalam kondisi darurat seperti ini, untung ada Lanud Iswahjudi. Di Lanud Iswahjudi ada Pazam (Pabrik Zat Azam) 732. Selain melayani pesawat tempur Lanud Iswahjudi, juga Lanud Abdul Rachman Saleh dan Lanud Adi Sucipto.

Ada peluang. Segera saya menghadap komandan Lanud. Gayung bersambut. Lanud sudah mendapat perintah dari panglima untuk membantu. Semua potensi yang dibutuhkan agar bisa dikerahkan. Termasuk pemenuhan oksigen. Potensi bantuan ini segera saya laporkan kepada ibu gubernur dan juga bapak Wagub.

Pada 16 Juli 2021 lalu, bapak Wagub Jatim mengunjungi Pazam 732. Dalam kunjungan tersebut, muncul solusi untuk mengurai kendala pemenuhan oksigen di wilayah Mataraman, khususnya Magetan, yang membuat semua jantungan. Setiap saat, selain memikirkan penanganan Covid-19, juga memikirkan pasokan oksigen. Hanya satu kata, jangan sampai terlambat.

Pazam 732 juga memproduksi oksigen liquid. Persoalannya, tidak memiliki lorry tank. Semacam mobil tangki minyak, tapi khusus oksigen liquid. Di Magetan, ada perusahaan refill station oksigen. Semacam air isi ulang. Namun, bahannya oksigen liquid dari pabrik.

Ada jalan keluar. Menggunakan lorry tank operator yang biasa mengirim oksigen liquid ke RSUD. Untuk memenuhi kapasitas 4.000 meter kubik, sisanya mengambil dari Pazam 732. Namun masalahnya, mobil operator terbatas.

Kebetulan di Pazam 732 ada tangki kecil untuk menyimpan oksigen liquid. Tangki itulah yang dibawa truk ke refill station. Kemudian diolah menjadi oksigen. Guna mengisi tabung-tabung yang demikian banyak dibutuhkan. Pihak refill station berkomitmen memproduksi oksigen khusus untuk Magetan. Tidak boleh digunakan atau dijual untuk keperluan lain.

Yang terpapar terus bertambah. Yang harus dirawat terus meningkat. Semua bergerak untuk menyelamatkan rakyat. Rakyat perlu perlindungan. Rakyat perlu pertolongan. Rakyat perlu pelayanan.

Dalam situasi seperti ini, kebaikan dan kemuliaan harus menjadi nilai bersama. Bukan sebaliknya. Inilah ujian kita sebagai bangsa. Kita ingat sumpah Hippokrates yang kemudian diadopsi menjadi sumpah dokter Indonesia. ‘’Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya berikhtiar dengan sungguh-sungguh, supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial’’. Dalam situasi PPKM, sumpah ini akhirnya bukan hanya milik dokter semata. (*/naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button