Mejayan

Objek Wisata di Kanupaten Madiun Harus Rajin Pembaruan Tiga Bulan Sekali

Miskin Inovasi, Destinasi Mati

MEJAYAN, Radar Caruban – Pariwisata itu seperti batu permata. Kilaunya akan terlihat memudar jika tak rajin-rajin diasah. Pengembangan secara berkala mutlak diperlukan agar keberadaannya tidak layu sebelum berkembang. ‘’Berat kalau tidak ada inovasi,’’ kata Kabid Pengembangan Wisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun Isbani Selasa (19/11).

Total ada 61 destinasi wisata sesuai surat keputusan (SK) Bupati Madiun tentang Destinasi Wisata Kabupaten Madiun. Puluhan destinasi itu terbagi enam jenis. Perinciannya, 20 wisata alam, 8 wisata buatan, 13 desa wisata, 5 wisata sejarah, 6 wisata religi, dan 9 wisata budaya. Dokumen yang diteken Juli lalu itu diubah dari tahun lalu. Itu lantaran ada sejumlah objek wisata tidak aktif. ‘’Kalau tidak berkembang, ya dicoret dari daftar,’’ ujarnya.

Isbani mengatakan, sejatinya destinasi wisata di kabupaten ini terus bermunculan. Namun, tidak banyak yang sanggup bertahan. Dalam setahun, ditaksir lima hingga 10 persen objek wisata tak bisa berkembang. Ditengarai pengelola tidak bisa berinovasi. Tiadanya pembaruan membuat pelancong cepat bosan. ‘’Berdasar teori dari biro pariwisata, tiga bulan sekali harus ada yang baru dari sebuah destinasi wisata,’’ ungkapnya.

Menurut dia, inovasi bukan hanya berbicara penambahan fasilitas atau wahana permainan. Melainkan bisa lewat menyelenggarakan sebuah event. Hal tersebut belum banyak dilakukan oleh para pengelola wisata. Tidak heran membuat jumlah pengunjung menurun secara bertahap. Di sisi lain, perlu ada kesinambungan dengan pihak terkait lainnya. Desa wisata, misalnya. Pengelolanya perlu melakukan sinkronisasi dengan pemerintahan desa (pemdes). ‘’Termasuk kami yang harus bersinergi dengan 11 OPD (organisasi perangkat daerah, Red). DPUPR, misalnya, untuk peningkatan jalan dan disperta untuk pengadaan bibit tanaman atau buah-buahan,’’ papar Isbani.

Disparpora sendiri tak bisa banyak terlibat dalam pengembangan desa wisata. Kontribusi sebatas insidental dengan mempertimbangkan sejauh mana berkembangnya wisata tersebut. Pasar Papringan Kalikerto, Desa Singgahan, Jiwan, misalnya. Pihaknya bisa memfasilitasi penambahan sebuah perahu sesuai pengajuan pengelola. Dengan catatan, wisatanya memang potensial dan bisa mengerek kunjungan. ‘’Selebihnya, peran dari pemdes. Pengembangan bisa dilakukan lewat APBDes-nya,’’ pungkasnya. (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button