Magetan

Objek Wisata Desa Bertahan di Tengah Keterbatasan

Panjang usia objek wisata sangat bergantung dari animo pengunjungnya. Semakin banyak dikunjungi, semakin panjang usia kawasan untuk bertahan. Di Magetan, ada yang masih bertahan dan tinggal kenangan. Terseleksi alam dengan sendirinya.

………………….

AKAR yang menjalar dari sebatang pohon besar menambah kesejukan alam di Kali Sejok. Sungai dengan air berwarna kebiruan itu dikelilingi tebing. Kian mengukuhkan pesona alam di Ngeblak, Krajan, Parang, itu. ‘’Dulu banyak yang foto–foto ke sini,’’ kenang Radimin, warga setempat.

Namun, setahun terakhir pengunjung berkurang. Selepas tebingnya dilanda longsor saat penghujan. Material longsoran itu pun membuat warna air di sungai tak sebening dulu. Warga telah memindahkan bongkahan material tebing akibat guguran longsor tersebut. Sumber air itu pun kembali aman. Namun, pengunjung telanjur takut. ‘’Di musim kemarau ini, airnya banyak dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari,’’ ujarnya.

Kembali bicara pariwisata, sayang bila Kali Sejok dibiarkan begitu saja. Letaknya hanya berjarak 500 meter dari Jalan Raya Magetan-Parang. Jarak tempuh dari Magetan kota hanya 15 menit. Besarnya potensi alam itu belum ditangkap seutuhnya. Terlebih, kini warga ramai mengais air dari sana setiap harinya. Kemarau panjang membuat keberadaannya beralih fungsi. ‘’Mau bagaimana lagi. Kami hidupnya juga dari sumber itu (Kali Sejok, Red),’’ tuturnya.

Kelesuan wisata juga terjadi di Waduk Gonggang. Tempat selfie di tebing dekat waduk itu kini mati. Lokasi wisata di Janggan, Poncol, itu menawarkan keindahan fotografi dengan latar pemandangan waduk. Tebing di sekitaran waduk kerap digunakan berkebun rumput gajah untuk pakan ternak. ‘’Tempatnya kurang terawat. Banyak ditumbuhi rumput liar,’’ kata Putri Suryani, salah seorang pengunjung.

Dari sisi keamanan, spotnya juga berbahaya. Lantaran terdapat bekas longsoran yang memotong jalan ke salah satu spot selfie. Jalan menuju spot bagian atas pun banyak yang rusak. Beberapa spot catnya terlihat usang.’’Berbahaya kalau naik,’’ ujarnya.

Joni Hadi, anggota Pokdarwis Kedung Lesung, memahami kondisi itu. Saat ini, spot selfie mulai dibenahi. Pengelola terus berupaya untuk kembali merebut hati pengunjung. ‘’Sekarang masih perawatan. Belum siap dipakai lagi,’’ terangnya.

Minimnya perawatan diperparah cuaca membuat kawasan indah itu terbengkalai. Kini, beberapa spot tak bisa digunakan lagi. Seperti spot bunga, perahu, dan lingkaran warna-warni yang semuanya berlatar belakang Waduk Gonggang. ‘’Saat ini masih dibersihkan. Nanti diperbaiki kayu-kayunya,’’ tutur Joni.

Objek wisata desa lainnya dapat dijumpai di Puntuk Geneng. Tempat wisata buatan yang cukup hit 2017 silam itu menawarkan pemandangan lembah dengan dua bukit di sekitarnya. Trek menuju lokasi wisata di Gonggang, Poncol, itu cukup menantang. Pemdes berencana membangun punden untuk pelengkap spot wisata. ‘’Kami masih keterbatasan dana karena yang perlu di-support bukan itu saja,’’ ungkap Kusnaini, kades Gonggang. (fat/c1/fin)

Kang Woto: 2-3 Tahun Akan Tampak Perubahannya

HAMPIR semua daerah memiliki city branding sebagai penegas kedaerahannya. Hingga kini, Magetan masih belum memiliki citra tertentu yang dapat merepresentasikan karakter daerahnya. Kabupaten ini kerap disindir sebagai kota pensiunan. Karena ikut tenggelam seiring matahari terbenam. Tak banyak kegiatan saat malam.

Bupati Magetan Suprawoto mantap bakal menjadikan kabupaten ini sebagai kota wisata. Agar kelak ketika disebutkan satu kata bisa langsung merujuk ke kabupaten ini. ‘’Kami akan menjadikan Magetan ini kota wisata. Branding-nya adalah desa wisata,’’ tegasnya.

Untuk menciptakan branding tersebut, Kang Woto –sapaan bupati Magetan– telah berdiskusi dengan Fisipol UGM. Desa wisata dinilai sangat tepat. Geliat desa wisata di Magetan menjadi salah satu pertimbangan. Tak hanya satu-dua. Biarpun tak sedikit pula yang hanya bertahan hitungan bulan. Itu bisa didukung oleh destinasi wisata lainnya. Sebut saja Telaga Sarangan yang melekat erat dengan Magetan. Bahkan, kini Magetan memiliki kebun bunga refugia yang baru saja diresmikan. ‘’Kuncinya ada di desa wisata,’’ katanya.

Ketika pariwisata itu maju, mantan sekjen Kekominfo itu percaya sektor lainnya akan terdongkrak. Dia memang menjadikan sektor pariwisata sebagai kuda penarik. UKM, misalnya, akan ikut terdongkrak. Sebuah destinasi wisata tentu akan menyediakan cenderamata. Pun, dengan kulinernya. Beragam makanan bisa disajikan kepada wisatawan dan dijadikan oleh-oleh pula. ‘’Magetan ini bersih, tapi tidak ada pernik-perniknya. Karena tidak ada keramaian,’’ ungkapnya.

Kegiatan city branding itu, imbuh Kang Woto, bakal dia lombakan. Dia percaya generasi milenial Magetan menguasai teknologi. Brand hasil buatan putra daerah itu bisa diperdagangkan. Kang Woto juga bakal mendatangkan mentor supaya hasilnya maksimal. Tidak ala kadarnya. Sehingga, kegiatan itu akhirnya bisa menjadi salah satu jenis pekerjaan yang bisa dijadikan pilihan generasi muda. ‘’Apa branding yang tepat, akan kami lombakan. Brand-nya dapat, anak-anak jadi pintar,’’ jelasnya.
Kang Woto mengakui, tak mudah mewujudkan mimpi besar itu. APBD Magetan kecil. Sumber daya manusia (SDM) terbatas. Harus putar otak. Dia sudah menggerakkan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk saling bahu-membahu menyokong sektor pariwisata. Bukan hanya tugas dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud). Belum terlalu kelihatan sinergitas antar-OPD itu. ‘’Dua sampai tiga tahun ke depan akan tampak perubahannya. Sekarang ini masih belum, karena mengubah tidak bisa sim salabim,’’ terangnya.

Kang Woto percaya, jika semua OPD saling bersinergi, bukan tak mungkin mewujudkan kegiatan wisata yang maju. Tak hanya bisa memamerkan Magetan dengan Telaga Sarangannya. Melainkan ada wisata lain yang bisa dijadikan alternatif. Seperti kampung susu Singolangu yang kini dikembangkan dinas peternakan dan perikanan (disnakan). ‘’Kalau semua pihak bisa satu misi, saya yakin itu bisa berjalan,’’ ucapnya. (bel/c1/fin)

Tak Bisa Sembarangan Kembangkan Sarangan

DINAS Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan kelimpungan. Di saat Bupati Magetan Suprawoto ingin menjadikan Magetan sebagai kota wisata, anggaran yang diterima disparbud justru disunat. Lebih dari Rp 400 juta dana yang diajukan tak diberikan. Padahal, dari tahun ke tahun, target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata selalu dinaikkan. ‘’Bagaimana kami bisa mengembangkan, dananya saja dipangkas,’’ kata Kadisparbud Magetan Tomi Venly Nicholas.

Padahal, dana itu bisa dijadikan untuk penyelenggaraan event. Banyak potensi daerah yang bisa dikembangkan. Seperti penyelenggaraan event batik atau off-road. Memang, hasilnya tak bisa dirasakan pada tahun itu juga. Melainkan tahun selanjutnya. Tahun pelaksanaan hanya dijadikan sebagai pengenalan kepada masyarakat. ‘’Kalau masyarakat sudah tahu, pasti akan menjadikannya sebagai referensi pada tahun berikutnya,’’ ujarnya.

Sementara, jika hanya mengandalkan objek wisata Telaga Sarangan, sangat tidak memungkinkan. Apalagi target pendapatan tahun ini meningkat lebih dari Rp 16 miliar. Dari tahun sebelumnya Rp 15 miliar lebih.  Pemkab Magetan tak bisa sembarangan menata objek wisata tersebut. Kendalanya, pemkab tak memiliki aset di sana. Tak ada gunanya, pemkab sudah menyiapkan dana Rp 8 miliar untuk mendapatkan aset di sana. ‘’Masalahnya, apakah ada masyarakat yang menjual asetnya,’’ tutur Venly.

Mau tak mau, Venly hanya bisa mengembangkan apa yang ada saat ini. Jika perlu melibatkan pihak sponsorship untuk mengelolanya. Wisata kawah Ijen bisa dijadikan kiblat. Di mana, tak ada campur tangan pemda untuk mengelolanya. Semua murni dari swasta. Namun, justru semakin maju. Telaga Sarangan semestinya bisa diperlakukan seperti itu. ‘’Ibaratnya saya ini mendapatkan bubur. Nah, bagaimana menikmati bubur ini, bisa ditambahi dengan lauk lainnya,’’ terangnya.

Momen surutnya air telaga juga bisa diambil keuntungan. Tak ada yang menyangka jika berfoto di pinggiran telaga itu di Sarangan. Karena penampilannya seperti pantai. Kesempatan itu bisa dijadikan untuk menyelenggarakan voli pantai. Mengingat, masyarakat Magetan sangat menggilai olahraga tersebut. Sayangnya, selama ini tak ada yang kepikiran melakukannya. Panggung di depan patung naga juga tak dimanfaatkan. Padahal, bisa digunakan untuk live musik. Pengunjung bisa makan di atas perahu sambil mendengarkan musik. ‘’Ini kan hal baru. Selama ini, perahu hanya beroperasi saat siang,’’ katanya.

Selama ini, capaian PAD itu bisa 100 persen karena retribusi ke Telaga Sarangan dinaikkan. Jika tetap, hanya akan mencapai setengahnya. Sebab, dari tahun ke tahun jumlah pengunjungnya tak meningkat. Wajar, tak ada perubahan dari objek wisata tersebut. Itu-itu saja. Padahal, Magetan adalah pintu masuk Jatim dari arah barat. ‘’Ini harus dimanfaatkan. Supaya masyarakat mampir,’’ ujarnya.

Untuk mewujudkan city branding, Magetan sebagai kota wisata butuh objek wisata lainnya. Venly perlu mendata ulang potensi wisata yang ada. Mana yang sudah siap dikembangkan, mana yang sudah mati. Brand kota wisata memang tidak akan semaju kota lainnya yang sudah mendeklarasikan diri. ‘’Butuh waktu,’’ pungkasnya. (bel/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button