Madiun

Nikmatnya Berbuka Bersama Berjuta Jamaah di Pelataran Nabawi

Selama Ramadan pengusaha Arab berlomba-lomba bersedekah di Masjid Nabawi. Berlimpahnya makanan ini memicu banyak jamaah umrah dengan paket tanpa makan. Berikut catatan umrah akhir Ramadan dan Lebaran Pimpinan Ladima Tour & Travel H SOENARWOTO.

————————–

SALAT Ashar berjamaah di Masjid Nabawi baru rampung. Hampir semua jamaah belum beranjak dari duduknya. Masih berzikir dan berdoa. Demikian juga saya. Tapi, tiba-tiba sejumlah pemuda Arab bergamis putih menggelar tikar plastik di atas karpet sajadah Masjid Nabawi, persis di depan saya dan jamaah lain yang sedang berzikir dan berdoa.

Tikar plastik sepanjang mencapai sekitar 5 meter dan lebar 80 centimeter itu digelar memanjang sebaris dengan saf salat. Untuk alas untuk makanan dan minuman iftar (berbuka puasa). Ini agar karpet sajadah Masjid Nabawi tetap bersih dan suci.

Setelah tikar plastik tergelar, para pemuda dan anak-anak itu meletakkan aneka makanan dan minuman. Umumnya kurma ajwa dan sukari. Khubz dan tamis, roti khas Arab. Selain itu ada biskuit, buah apel dan pisang. Teh panas dan ghahwa, kopi khas Arab. Juga ada aneka jus, susu, yoghurt, dan tidak ketinggalan air zamzam. Menu iftar itu disajikan lebih awal atau jauh sebelum adzan Maghrib berkumandang.

‘’Ini menghindari bersamaan jamaah datang ke masjid untuk Salat Maghrib. Sehingga, sajian berbukanya disiapkan lebih awal. Penataan aneka makanan dan minuman itu juga jadi pesona tersendiri menjelang berbuka di Masjid Nabawi bagi jamaah umrah Ramadan,’’ kata H Abdullah, seorang petugas Masjid Nabawi asal Nusa Tenggara Barat (NTB).

Selain di dalam Masjid Nabawi, selepas Salat Ashar itu persiapan iftar lebih riuh di pelataran Masjid Nabawi yang luasnya mencapai 4.000 meter persegi. Malah, digelar terpal besar. Berpetak-petak dan berlarik-larik memenuhi pelataran Masjid Nabawi. Menunya lebih komplet. Ada nasi mandi dan nasi biryani dengan daging kambing dan ayam goreng. Ada pula kentang, burger, dan shawarna. Ada pula albaik, fried chicken yang fenomenal di Arab itu.

Setelah semua makanan dan minuman tersaji, para pemuda dan anak-anak itu lalu sibuk mencari jamaah untuk diajak duduk di petak iftar miliknya. ‘’Tafadhol.. tafadhol. Silakan.. silakan,’’ ajak seorang pemuda kepada jamaah yang berjalan di pelataran Masjid Nabawi. ‘’Hina.. hina. Di sini.. di sini,’’ ajak pemuda di petak sebelah mengajak jamaah. Bersamaan itu juga ada pemuda lain yang meminta, ‘’Taal.. taal. Ke sinilah.. ke sinilah.’’

Dan, sore menjelang Adzan Maghrib itu pelataran Masjid Nabawi pun menjadi riuh. Bukan berjuta jamaah datang ke masjid, tapi juga riuhnya sejumlah pemuda Arab sedang mencari penerima sedekah makanan untuk berbuka puasa. Para pemuda itu adalah relawan dari para pengusaha Arab yang bersedekah makanan dan minuman untuk jamaah umrah berbuka puasa.

Nuansa ini sungguh punya daya tarik tersendiri bagi jamaah umrah. Khususnya pendatang seperti jamaah Indonesia. Sebab, mereka bisa melihat ramainya umrah Ramadan yang melebihi haji. Mengasyikkan. Dan, paling mengesankan  berlimpahnya makananan dan minuman di dalam dan pelataran Masjid Nabawai menjelang berbuka. Apalagi, hamparan makanan tersebut dikerumuni berjuta jamaah menikmati berlimpahnya menu berbuka. Subhanallah.

‘’Berbuka puasa bersama berjuta jamaah dari berbagai mancanegara itu sangat menyenangkan. Penuh doa dan berkah. Inilah yang menambah nikmat umrah Ramadan. Bisa melihat tradisi berbuka masal di pelataran Masjid Nabawi yang luas ini,’’ ucap sejumlah jamaah asal Indonesia. Allahu Akbar.

Makanan dan minuman untuk berbuka itu juga melimpah sampai di halaman hotel-hotel dan trotoar jalanan Kota Madinah. Di mana-mana orang bersedekah. Momen ini membuat saya ingin jalan-jalan melihatnya. Alih-alih juga sebagai bentuk ngabuburit di Kota Nabi.

Saya mencoba mengitari Hotel Rawdah Royal, tempat enam hari saya menginap di Kota Madinah. Oh, di halaman belakang terdapat dua petak besar tempat berbuka. Hidangannya sudah dikerumuni ratusan jamaah dan para pekerja imigran. Di trotoar depan Hotel Arac Taiba Madinah juga terlihat pemandangan serupa. Puluhan jamaah sedang bersiap-siap menikmati aneka makanan dan minuman dari sedekah pengusaha Arab. Demikian di halaman hotel-hotel lainnya.

‘’Pada bulan Ramadan, para pengusaha Arab suka berlomba-lomba bersedekah di Masjid Nabawi dan sekitarnya. Sehingga, makanan sangat berlimpah saat berbuka puasa. Karena itu banyak jamaah berangkat umrah Ramadan paketnya tanpa makan. Karena menggantungkan makannya dari sedekah pengusaha Arab itu,’’ jelas Abdullah.

Pengusaha Arab meyakini amalnya secara spiritual akan bisa meningkatkan rezekinya. Membersihkan diri dari berbagai marabahaya di dunia dan meningkatkan kesadaran beragama. Mereka sangat bangga bisa memberi berbuka gratis. Karena, amalnya itu diberikan kepada orang-orang dari berbagai penjuru dunia yang sedang mengejar kemuliaan di Tanah Suci. ‘’Kemuliaan itulah yang juga diyakini akan mendatangkan ribuan kemuliaan bagi para dermawan Arab. Dengan gemar bersedekah itu pengusaha Arab rejekinya tambah berlimpah,’’ pungkas Abdullah.*** (sat/bersambung)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button