AdvertorialNgawi

Ngawi Kembali Zero Covid-19

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Kabar gembira datang dari pasien positif Covid-19 asal Desa Banyubiru, Widodaren. Sejak 3 Mei lalu, pasien laki-laki berusia 48 tahun tersebut sudah dinyatakan sembuh oleh pihak RSUD dr Moewardi, Solo. Itu setelah pemeriksaan swab ketiga dan keempatnya menunjukkan hasil negatif Covid-19. ‘’Sudah dibolehkan pulang, tapi tetap harus melakukan isolasi mandiri selama tujuh hari,’’ kata Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono Senin (4/5).

Berdasarkan hasil tracing yang dilakukan dinas kesehatan (dinkes) setempat, pasien tersebut diketahui merupakan seorang petani. Kontak erat dalam satu rumah hanya dengan istri dan anaknya. Selama dua tahun terakhir, pasien dalam pengawasan (PDP) nomor 15 tersebut mengeluh sakit pinggang dan rutin berobat ke Rumah Sakit Sarila Husada, Sragen, Jawa Tengah. ‘’Karena tidak ada perubahan, akhirnya pindah berobat ke RSUD dr Moewardi, Solo,’’ sebutnya.

Awal Januari lalu, pihak keluarga mendaftarkan pasien tersebut untuk menjalani magnetic resonance imaging (MRI) di RSUD dr Moewardi, Solo. Namun, baru mendapatkan jadwal tanggal 8 April lalu. Sekitar akhir Maret lalu, pasien tersebut mengalami gejala batuk. Meski demikian, pihak keluarga memastikan pasien tidak ada riwayat bepergian ke luar kota selama dua pekan terakhir. ‘’Selama mengalami batuk, pasien berobat ke dokter dua kali. Pertama di Widodaren dan kedua di Sragen,’’ terangnya.

Kemudian, tanggal 8 April lalu pasien tersebut berangkat ke RSUD dr Moewardi, Solo, untuk melakukan MRI dengan naik bus bersama putrinya. Namun, karena sering batuk, pasien tersebut dibawa ke posko Covid-19 RSUD setempat. Pasien sempat mengeluh sakit, lemas, pusing, dan sesak napas. ‘’Saat di IGD (instalasi gawat darurat, Red) sempat di-rapid test. Hasilnya nonreaktif. Lalu dirujuk ke spesialis paru,’’ jelasnya.

Sejak dirawat di RSUD dr Moewardi, Solo, tersebut sudah dilakukan empat kali uji swab polymerase chain reaction (PCR). Pengambilan swab pertama tanggal 10 April. Lalu disusul yang kedua hingga keempat mulai tanggal 22, 25, dan 28 April. Pada 29 April lalu, pihak Dinkes Ngawi mendapat informasi melalui WhatsApp bahwa hasil swab pertama dan kedua pasien tersebut positif Covid-19. ‘’Tim tracing dinkes dan puskesmas langsung lakukan rapid test terhadap tiga anggota keluarganya. Semua (hasilnya)) nonreaktif,’’ ungkapnya.

Sehari setelah menerima informasi itu, Kanang menyebut tim tracing dinkes setempat langsung ke RSUD dr Moewardi, Solo, untuk memastikan hasil swab PCR pasien tersebut. Dari data laboratorium, hasilnya menyatakan terkonfirmasi positif. Kemudian tanggal 3 Mei lalu, pihak RSUD dr Moewardi kembali menyampaikan informasi bahwa berdasarkan swab PCR ketiga dan keempat hasilnya negatif. Pihak rumah sakit juga mengizinkan pasien tersebut pulang ke rumah. ‘’Berarti sekarang sudah tidak ada lagi pasien positif Covid-19 di Ngawi, karena sudah sembuh,’’ klaimnya.

Meski demikian, Kanang masih belum mengetahui pasien tersebut berasal dari klaster mana. Yang jelas, penularan di rumah kemungkinannya sangat kecil. Sebab, tidak ada tamu dari zona merah yang ke rumah pasien sebelum tanggal 27 Maret. Selain itu, dari dua kali rapid test kontak erat pasien, hasilnya menyatakan nonreaktif semua. ‘’Artinya di rumah itu tidak terjadi penularan,’’ tegasnya.

Sebaliknya, bila pasien tersebut mengalami gejala sesak napas saat mengantre untuk MRI di RSUD dr Moewardi, Solo, tanggal 8 April lalu, kemungkinan pasien tersebut tertular dengan kontak erat tanggal 30 Maret lalu. Itu sesuai hitung-hitungan masa inkubasi rata-rata virus selama delapan hari. Berdasarkan rekam jejak tersebut, diketahui pasien sedang berobat ke dokter di zona merah Covid-19 pada waktu itu. ‘’Saat berobat ke Sragen, pasien diketahui hanya naik sepeda motor bersama anaknya,’’ terangnya.

Belajar dari kasus tersebut, Kanang menuturkan bahwa penularan virus Covid-19 bisa terjadi di mana-mana. Bisa di angkutan umum, di rumah sakit, di pasar, bahkan di sekolah. Pasien positif yang sekarang dinyatakan sembuh itu memiliki gejala berbeda dengan klaster Temboro. PDP 15 itu langsung diketahui karena ada gejala klinis menyertai. Sedangkan klaster Temboro rata-rata tanpa gejala. Tapi, keduanya sama-sama membawa virus. Karena itu, Kanang berpesan untuk menjaga hidup bersih dan cuci tangan pakai sabun di air yang mengalir. Memakai masker dan jaga jarak. ‘’Jangan lupa istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, dan hindari pegang mata, hidung, maupun mulut terlalu sering,’’ pungkasnya. (tif/c1/odi/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close