Ngawi

Ngawi Darurat Air Bersih

Kekeringan Meluas, Pemprov Turun Gunung

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Jumlah wilayah yang terdampak bencana kekeringan di Ngawi terus bertambah. Krisis air bersih terjadi dimana-mana. ’’Ada potensi semakin bertambah (wilayah terdampak, Red), kalau hujan tidak segera turun,’’ kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Ngawi Prila Yudha Putra, Senin (4/11).

Hingga sejauh ini, Yudha mengatakan jumlah desa yang terdampak bencana kekeringan ada sebanyak 50 desa. Padahal, dari hasil pemetaan awal BPBD wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih dulu ada sebanyak 45 desa. Artinya sudah ada penambahan kasus baru di lima desa. ’’Kami juga baru saja menerima satu pengajuan bantuan lagi dari desa yang mengalami kekeringan,’’ ungkapnya.

Yudha menyebut desa yang baru saja mengajukan surat itu yakni Desa Karangbanyu, Widodaren. Jika hasil survei nanti desa tersebut dinyatakan kekeringan, berarti total hingga saat ini sudah ada sebanyak 51 desa yang mengalami krisis air bersih. Makanya, dengan kondisi cuaca di Ngawi saat ini, diprediksi wilayah terdampak kekeringan masih akan terus meningkat. ’’Sebagian sudah ada yang turun hujan, tapi belum ada dampaknya,’’ ujarnya.

Sejak pekan lalu memang cuaca di Ngawi sering mendung gelap. Bahkan ada sebagian wilayah di Ngawi timur dan utara yang sudah turun hujan. Tapi, hujan yang turun tersebut belum membawa dampak positif terhadap kondisi kekeringan yang melanda sebagian wilayah Ngawi. ’’Makanya untuk bantuan air bersih kami pastikan tetap jalan terus, sampai wilayah yang mengalami kekeringan tidak ada lagi,’’ janjinya.

Yudha mengaku juga telah koordinasi dengan pihak BPBD Jawa Timur. Selama masih ada wilayah yang mengalami krisis air bersih, meski sudah turun hujan masih akan mendapatkan bantuan. Bupati Ngawi Budi “Kanang” Sulistyono juga meminta BPBD supaya tetap melakukan pelayanan bantuan air bersih secara optimal selama masih ada warga yang membutuhkan. ’’Sampai kapannya kami juga tidak tahu, tergantung alam,’’ ujarnya.

Yudha menambahkan sejauh ini, jumlah air bersih yang sudah didistribusikannya ke wilayah yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 500 truk tangki. Satu truk tangki, dia menyebut kapasitasnya kurang lebih 8.000 liter. Itu berarti total air bersih yang sudah dikirim untuk mengatasi krisis air di Ngawi mencapai sekitar 4 juta liter. Belum termasuk sumbangan dari pihak swasta dan lainnya. ‘’Kalau anggarannya kami kurang tahu, karena semua bantuan dari pemerintah provinsi,’’ ungkapnya.

Pemprov Jatim langsung kerjasama dengan pihak ketiga untuk melakukan droping air bersih itu. Sehingga, berapa banyak jumlah anggaran yang sudah dikeluarkan untuk bencana kekeringan itu yang lebih tahu pihak pemprov. Sedangkan untuk anggaran di daerah, Yudha mengaku BPBD tidak memiliki anggaran khusus untuk bencana kekeringan. Kecuali dari dana bantuan tidak terduga (BTT) yang sudah dianggarkan Rp 1 miliar selama setahun. ’’Kami belum menggunakan (dana BTT), kecuali kalau nanti sudah benar-benar terpaksa,’’ jelasnya. (tif/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button