Pacitan

Ngabuburit ala Remaja Masjid Miftahul Huda, Gayuhan, Arjosari

PACITAN – Beragam cara dilakukan warga untuk mengisi Ramadan. Mulai mengaji, bersedekah, berlibur hingga berjualan takjil. Remaja Masjid Miftahul Huda, Gayuhan, Arjosari, punh tak mau ketinggalan. Mereka menggelar bazar Ramadan.

Ada yang berbeda dari kerumunan aktivitas jual beli. Musik religi mengalun merdu. Beragam aksesoris menghiasi lapak-lapak. Para pedagangnya masih belia. Itulah pemandangan bazar Ramadan di Desa Sedayu, Arjosari, Pacitan. ‘’Ini semua merupakan karya remaja masjid,’’ ujar Ilham Akbar, pencetus bazar Ramadan itu.

Meski baru kali pertama, namun animo pembeli ke bazar Lembayung Senja itu cukup tinggi. Tak hanya warga sekitar, dari desa tetangga pun banyak. Dibuka sebelum ashar hingga usai magrib. Beragam takjil hingga mukena dijajakan para remaja tersebut. Ada 10 stan untuk menampung para penjual. ‘’Semua diisi remaja masjid, ada satu stan untuk warga yang ingin menitipkan dagangannya,’’ terang warga Dusun Sidorejo, Gayuhan, Arjosari, ini.

Bagai mahasiswa jurusan manajemen Universitas Tekonologi Jogjakarta tersebut, bazar ini untuk melatih jiwa wirausaha para remaja masjid. Mereka bermodal kas kelompok masing-masing. Satu stan, dikenai “pajak” Rp 5.000 per hari. Hasilnya bakal dimasukan ke kas kembali. Sebagain disumbangkan ke Masjid Miftahul Huda tempat biasa mereka berkumpul. ‘’Itung-itung untuk kemakmuran masjid. Walaupun tak banyak, tapi bisa membantu meringkankan beban,’’ tambah remaja kelahiran 22 November 1997 itu.

Rencananya, bazar tersebut bakal dibuka hingga Ramadan usai. Agar para pengunjung tak bosan, tiap minggu para penjual diminta berinovasi barang dagangannya. Pada akhir Ramadan, dagangan bakal berganti pakaian Lebaran. ‘’Kami sesuaikan pangsa pasarnya. Agar tak jenuh stan kami hias dan kami sajikan musik akustik dari remaja masjid,’’ ungkap Ilham.

Ilham berharap kegiatan ini berlanjut setiap tahun. Selain menambah kas, juga sebagai wadah penyampaian ilmu bisnis pada pemuda lainnya. Pun mengisi hal positif sembari menunggu waktu berbuka. ‘’Bisa berdagang dan memakmurkan desa itu lebih bagus. Daripada haru ke luar desa,’’ pungkasnya.*** (sugeng dwi/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close