Madiun

New Normal Pendidikan Belum Kantongi Izin TGTPP dan Orang Tua

Zona Hijau Sembilan Hari, Dua Syarat Belum Terpenuhi

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Senin (29/6), tepat sembilan hari Kota Madiun ditetapkan sebagai satu-satunya daerah di Jatim yang berstatus zona hijau. Hampir seluruh keran aktivitas di berbagai sektor telah dibuka. Menyisakan sektor pendidikan yang sampai kini persiapannya terus dimatangkan.

Orang tua, siswa, dan guru punya pandangan masing-masing tentang wacana pembukaan kembali pembelajaran tatap muka. Rafi Aziz Firmansyah, siswa SDN 2 Pandean, mengaku rindu kembali bersekolah. Selama pembelajaran online, dia sulit berkomunikasi dengan guru dan memahami setiap materi yang dipelajari. Problem kuota internet memang bisa disiasati dengan memanfaatkan spot wifi gratis yang difasilitasi Pemkot Madiun. Namun, kerinduan bertatap dengan guru dan teman sesama murid tak terbendung lagi. ‘’Rindu sekali. Belajar di rumah itu kadang internetnya susah. Komunikasinya dengan guru juga susah lewat online,’’ kata Rafi.

Ida Hayati, guru kelas II, mengutarakan pendapat senada. Baginya, pembelajaran bagi siswa kelas I, II, dan III kurang optimal jika hanya dilangsungkan online. ‘’Belajar baca tulis kurang optimal jika lewat online,’’ ujarnya. Dia setuju jika pemkot kembali membuka kesempatan KBM tatap muka di sekolah. ‘’Kami setuju jika sekolah dibuka lagi. Tapi harus tetap mematuhi protokol kesehatan,’’ lanjutnya.

Desianti Dyah, wali siswa, mendukung jika opsi sekolah dibuka kembali. Selama masih mematuhi aturan, baginya tidak menjadi persoalan. ‘’Nggak apa-apa, asalkan protokol kesehatan terpenuhi,’’ kata Dyah.

Siti Aisyah, wali murid asal Kelurahan Oro-oro Ombo, Kartoharjo, masih keberatan untuk melepaskan anaknya ke sekolah lagi di masa pandemi. Kebetulan dua anaknya, masing-masing akan masuk SMP dan SD. ‘’Kalau SMP mungkin dimasukkan dulu, saya setuju. Tapi kalau SD mending di-pending dulu. Karena anak-anak ini sangat rentan,’’ tuturnya.

Siti lebih sepaham jika opsi pembukaan KBM di sekolah dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan pembukaan jenjang sekolah menengah. Barulah dilanjutkan pembukaan di jenjang SD, selanjutnya TK. ‘’Kalau seperti itu saya setuju,’’ ucapnya.

Dua Syarat Belum Terpenuhi

JAUH hari, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun telah melakukan persiapan. Dari empat poin yang dipersyaratkan Kemekdikbud RI, baru dua poin yang telah memenuhi.

Pertama, daerah yang akan membuka kembali aktivitas pendidikan telah ditetapkan sebagai zona hijau. Kedua, sarana-prasarana, sumber daya manusia (SDM) telah memenuhi protokol kesehatan. ‘’Protokol kesehatan sudah 95 persen siap,’’ kata Sekretaris Dindik Kota Madiun Sri Marhaendra Datta.

Adapun dua syarat yang belum terpenuhi yakni mendapat izin dari Pemkot Madiun atau rekomendasi dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19 Kota Madiun. Syarat terakhir yakni persetujuan dari orang tua. ‘’Jadi, ada empat syarat dari pusat, kami tinggal poin ketiga dan keempat,’’ ujarnya.

Saat ini yang terpenting memastikan kesiapan protokol kesehatan di setiap sekolah. Termasuk memikirkan sistem berjalannya sektor pendidikan di masa tatanan normal baru. ‘’Kami tidak bisa berandai-andai kapan pastinya. Yang jelas semuanya disiapkan dulu,’’ ungkapnya.

Nantinya, pembelajaran menerapkan sistem sif. Anak-anak dijadwalkan masuk sekolah sesuai sif per kelas yang hanya diisi 50 persen dari kapasitas ruang. Tempat duduk antarsiswa diatur minimal 1-1,5 meter. ‘’Bisa jadi nanti siswa masuk satu hari,  libur satu hari. Terpenting anak harus sehat dan aman dari virus,’’ tegasnya.

Durasi pembelajaran juga dibatasi. Durasi tatap muka maksimal empat jam. Tidak ada jam istirahat. Kantin ditutup sementara, karenanya siswa disarankan membawa bekal dari rumah. Guru juga tidak diperkenankan berpindah ke kelas lain. ‘’Antar jemput siswa juga dikomunikasikan secara intensif. Yang tidak naik bus sekolah, antar jemputnya harus tepat waktu,’’ terangnya.

Dindik juga masih menantikan kepastian jadwal rapid test untuk seluruh guru SD dan SMP. Tes cepat itu wajib dilakukan sebelum sekolah diizinkan kembali membuka pembelajaran tatap muka. ‘’Ketika seluruh syarat sudah terpenuhi, tatap muka di sekolah dapat dilakukan kembali,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Masa Transisi Paling Cepat Juli

PEMKOT Madiun pilih berhati-hati untuk melangsungkan new normal pendidikan. Meski telah menyandang status zona hijau, pemkot tetap menanti instruksi lanjutan dari pemerintah pusat. Sembari mempersiapkan seluruh sarana-prasarana dan sumber daya manusia (SDM) demi memenuhi protokol kesehatan. ‘’Persiapan sudah, menunggu kesepakatan orang tua dan komite. Ini kami koordinasikan semuanya,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi.

Diperkirakan, pembelajaran tatap muka dibuka secara bertahap. Dimulai dari jenjang sekolah menengah sederajat terlebih dahulu. Selang dua bulan baru jenjang SD. Sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri (Mendikbud, Kemenag, Menkes, Mendagri) tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19. Dalam poin IV disebutkan pemerintah pada zona hijau dapat melakukan pembelajaran tatap muka secara bertahap dalam masa transisi. Asalkan satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan dipastikan siap. Poin berikutnya menjelaskan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan mempertimbangkan kemampuan siswa dalam menerapkan protokol kesehatan. Jenjang SMA/SMK/MA/Paket C sederajat, juga SMP/MTs/Paket B sederajat, dibuka terlebih dahulu. Selanjutnya jenjang SD/MI sederajat paling cepat dua bulan berselang. Sedangkan PAUD/TK paling cepat dibuka selang dua bulan berikutnya. ‘’Hal seperti ini tetap kita patuhi,’’ ungkap Maidi.

Poin VI mengatur pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan di daerah zona hijau dilaksanakan dalam dua fase. Yakni, masa transisi berlangsung dua bulan sejak dimulainya tatap muka di satuan pendidikan. Serta jadwal pembelajaran dalam masa transisi dilakukan dengan pembagian sif yang ditentukan satuan pendidikan. ‘’Satu kelas maksimal 18 siswa, jam dikurangi, kantin sementara ditutup dulu,’’ jelasnya.

Sementara untuk sekolah dan madrasah berasrama tetap dilarang membuka asrama. Meskipun pembelajaran tatap muka telah dibuka dalam masa transisi. Pembukaan asrama dilakukan secara bertahap pada masa kebiasaan baru setelah masa transisi berjalan dua bulan. Pun sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku. Maidi belum dapat memastikan apakah 13 Juli nanti pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dapat dibuka kembali. Jika semua syarat terpenuhi, pembelajaran di jenjang SMA dan SMP sederajat dibuka Juli ini. Namun, bisa mundur sekiranya pemerintah pusat dan orang tua belum memberikan rambu hijau. Sebelum masa itu, tes cepat bakal dilaksanakan bagi seluruh guru jenjang SD dan SMP. ‘’Sebelum 13 Juli seluruh guru akan di-rapid test terlebih dahulu,’’ tuturnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close