Madiun

Napak Tilas Memoar Gang Puntuk, Awal Jadi Gang Buku Bekas

MADIUNJawa Pos Radar Madiun – Pada era 1970-an usaha jual buku mengalami masa kejayaan. Tidak terkecuali buku bekas yang masih layak dibaca untuk membuka jendela dunia. Di Kota Madiun, sisa-sisa kejayaan itu dapat dilihat di Gang Puntuk, Kelurahan Kejuron, Taman. Saat ini ada 11 pedagang yang mencoba peruntungan dengan menjual buku bekas untuk berperan serta meningkatkan literasi di Kota Gadis. 

Titik Ariani masih ingat betul pada Jayus, warga Ngawi, yang membuka lapak buku bekas di depan rumahnya saban hari. Ketika itu dia masih duduk di bangku kelas XII SMA. Hampir tiap hari Jayus yang selalu mengenakan sarung itu sibuk melayani pembeli. ’’Sekarang Pak Jayus sudah tidak jualan lagi,’’ kata Titik, warga setempat yang berjualan mesin jahit bekas.

Pada masanya, Gang Puntuk selalu menjadi jujukan bagi warga Kota Madiun berburu buku. Meskipun buku bekas, namun warga lebih memilih membeli buku di sana lantaran harganya yang miring. Ada tiga orang yang kali pertama membuka lapak buku bekas di gang tersebut. Yakni, Bu Nardi, Pak Jayus, dan satu orang lagi belum diketahui identitasnya. ’’Tiga orang yang pertama kali membuka itu, Pak Jayus, Bu Nardi, dan satunya lagi lupa namanya,’’ ujarnya.

Ketiga orang tersebut bukanlah warga asli daerah setempat. Pak Jayus berasal dari Ngawi, sementara Bu Nardi berasal dari daerah Boyolali, sementara satu orang lain berasal dari Surakarta. Ketiganya mulai membuka lapak buku bekas sekitar 1978. ’’Sekarang ketiganya sudah tidak jualan lagi karena sudah tua,’’ ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, warga setempat mulai ikut berjualan buku bekas. Termasuk Titik yang mencoba peruntungan pada 1990-an. Namun, harus diakuinya berjualan buku bekas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan manajemen untuk mengelola penjualan. ’’Akhirnya tutup karena barang yang diambil lakunya lama, akhirnya harga turun, jadinya rugi,’’ sambungnya sembari menyebut usaha itu bertahan setahun sebelum akhirnya ganti ke jualan mesin jahit bekas hingga sekarang.

Warga lain juga turut membuka lapak buku bekas. Tepatnya ketika pedagang Pasar Kawak di Jalan Kutai dialihkan. Pedagang dari pasar tersebut boyong ke gang tersebut. Meskipun tidak seluruhnya, namun tidak heran jika sekarang berbagai barang dagangan dapat dijumpai di gang tersebut.

Hal itu juga membuat Sartini, warga asli Kelurahan Nambangan Kidul, Manguharjo, tertarik. Dia mulai ikut jualan buku bekas pada 1985 silam. Awalnya dia membuka lapak di sebelah timur. Sejak 1994, dia pindah ke sisi barat hingga sekarang. Diakuinya, jualan buku bekas sekarang tidak semudah dibandingkan dulu. ‘’Saat ini sulit sekali, dapat uang Rp 25 ribu itu sudah bagus. Kadang sama sekali tidak ada yang beli,’’ kata Sartini.

Dia menjelaskan, dulu dari hasil jualan buku bekas dia sanggup mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp 100 ribu seharinya. Nilai uang yang lebih dari cukup di zaman tersebut. Pembeli semakin berkurang sekitar tahun 1994. ‘’Ambil barang buku sejarah ini misalnya, selang beberapa bulan ternyata sudah ada terbitan baru sesuai kurikulum yang baru. Akhirnya harus dijual kiloan Rp 1.500 per kilogramnya,’’ lanjutnya.

Kendati demikian, bagi pemburu buku bekas, tempat tersebut masih menjadi jujukan. Andri Maulana misalnya. Dia mencari buku pelajaran yang digunakan mengganti buku pinjaman di perpustakaan sekolah yang hilang. Selain harganya miring, menurutnya buku tersebut sudah tidak dijual di toko buku. ‘’Kalau buku barunya sudah tidak ada. Jadi saya cari di sini,’’ kata Andri.

Saat ini sedikitnya ada 11 pedagang buku berdampingan dengan berbagai penjual dagangan lainnya. Kembang kempis dunia percetakan dan pesatnya dunia digital turut berimbas pada mereka. Murtinah, 70, yang mulai berjualan buku bekas sejak 1987 lebih memilih jualan kliping koran dengan berbagai tema pembahasan. ‘’Kalau kliping dicari untuk tugas sekolah atau kuliah. Buku harganya anjlok,’’ kata Murtinah. (mg7/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close