Pacitan

Nama Poin Agus Pangestu Berkibar di Pacitan sebagai MUA

Beragam pekerjaan dapat dilakoni siapa saja. Seperti menjadi seorang make-up artist (MUA). Profesi yang lazim dilakoni para perempuan. Namun, kini seni merias wajah juga banyak dilakukan kaum Adam.

—————

SUGENG DWI, Pacitan

TANGAN Poin Agus Pangestu luwes memegang kuas. Sapuan jemarinya begitu halus. Telaten. Gerakan menyapu diulang di setiap sudut wajah perempuan itu. Pelan-pelan, anggun dan lugas pun  tergambar dari riasan wajah sang penari. ‘’Kalau make-up karakter itu harus bisa menonjolkan ketokohannya. Penari prajurit yang gagah tapi harus tetap kelihatan cantik,’’ kata Poin.

Menggeluti profesi make-up artist (MUA) terkesan tak lazim bagi seorang pria. Ternyata, warga Dusun Tegalrejo, Nanggungan, Pacitan, ini melakoni dari ketidaksengajaan. Bermula dari kiprahnya di dunia seni tari.  Itu memaksa Poin bolak-balik ke salon jelang pertunjukan. Tak ingin koceknya terkuras, dia pun belajar otodidak sejak 2015 dari YouTube. Dimulai dari foundation dan bedak. ‘’Mulai SMA mungkin, awalnya coba pada wajah sendiri. Lama-kelamaan berlanjut sampai sekarang,’’ ujarnya.

Talenta seni pria kelahiran 4 Agustus 1998 itu kian terasah setelah bergabung dengan Sanggar Maharani. Dibimbing mentornya Triweni Ratna, beragam kesempatan menggambar karakter wajah didapat Poin. Terakhir di Festival Karya Tari Surabaya lalu. Dia membuat karakter Nyai Bang. Membuat sosok bengis berilmu hitam, Poin dituntut mampu mengeluarkan aura seram namun tetap cantik saat menari di atas panggung. ‘’Puas, karena setelah cari ide dan diterapkan, hasilnya pas dengan koreografi tarian,’’ kata laki-laki 21 tahun ini.

Tak sekadar merias, putra pasangan Nurwiyati dan Abdul Amin ini  juga dituntut menyesuaikan keseluruhan olah tari. Riset dan pendalaman karakter getol dilakukan sebelum mulai merias wajah. Berbeda dengan make-up wajah umumnya yang hanya menonjolkan kecantikan. ‘’Lebih senang make-up karakter. Karena lebih menantang,’’ ungkap mahasiswa semester II PGSD STIKIP Pacitan ini.

Beragam kendala sempat dialami Poin saat merias. Sungkan mendandani perempuan berhijab acap dirasakan. Tak jarang cibiran dari orang lain juga diterima. Enggan menyerah, profesionalitas dijunjung tinggi Poin dalam bekerja. Hingga kini, namanya kian berkibar di Pacitan. Tak hanya merias karakter, job rias pengantin dan acara lain pun kerap diterimanya. ‘’Saat ini masih dibagi waktunya, antara kuliah dan make-up,’’ pungkasnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close