Magetan

Musykil Tender Ulang jika Lelang Gagal

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Ada sederet konsekuensi buntut mepetnya waktu pengerjaan 22 proyek dengan leading sector Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan. Sebagian atau seluruh paket pekerjaan senilai total Rp 13,827 miliar itu terancam gagal direalisasikan tahun ini jika tidak muncul pemenang dalam proses lelang.  ‘’Kalau mau lelang ulang apakah nutut. Proses lelang paling singkat membutuhkan waktu kurang lebih sebulan,’’ kata Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Magetan Sudiro Kamis (5/11).

Pun, risiko terendah dari proyek dengan sistem kebut sebulan itu adalah molornya waktu pengerjaan. Padahal, pembiayaan pengadaan barang dan jasa pemerintah musykil dibayarkan loncat tahun anggaran. Pelanggaran administrasi keuangan seperti ini rentan berdampak pada konsekuensi hukum. Menilik laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Magetan, teken kontrak kerja 22 proyek kepunyaan DPUPR itu mayoritas dijadwalkan akhir November ini. Praktis hanya tersisa 25 hari efektif jika alur keluar masuk kas daerah biasa ditutup setiap tanggal 20 Desember.

Menurut Sudiro, pihaknya tidak memberikan batas waktu pengajuan lelang. Tender di akhir tahun pun bakal dilayani. Namun, pejabat pembuat komitmen (PPK) pasti berhitung ulang soal waktu.’’Apakah bisa menyelesaikan lelang dan pekerjaan dengan sisa waktu yang ada. PPK pasti akan berhitung cermat,’’ jelasnya.

Seperti diberitakan, sebanyak 22 paket pekerjaan dengan leading sector DPUPR masih berkutat dalam proses lelang hingga pekan pertama November ini. Pekerjaan didominasi pemeliharaan (rehabilitasi) jalan, peningkatan, dan pembangunan talut jalan. Padahal, tutup tahun anggaran tinggal menyisakan waktu tidak genap dua bulan. Total jenderal 22 paket pekerjaan di DPUPR itu senilai Rp 13,827 miliar sesuai harga perkiraan sendiri (HPS). Nilai paling gede adalah pemeliharaan Jalan Takeran-Madigondo seharga Rp 1,1 miliar.

Kabid Bina Marga DPUPR Magetan Didik Budiman menegaskan tetap mematok standar tinggi atas kualitas pekerjaan. Dia mengingatkan agar rekanan tidak asal-asalan menjadi peserta lelang. Konsekuensi mengikuti atas penyelesaian proyek fisik yang hanya dalam hitungan hari itu. ‘’Mampukah menyelesaikan pekerjaan dengan sisa waktu yang ada. Jangan masuk (ikut lelang, Red) kalau tidak mampu,’’ tegas Didik.

Dia mafhum dengan proses dan tahapan lelang yang kejar tayang di akhir tahun. Toh ada lelang yang gagal, pihaknya siap lempar handuk. Paket pekerjaan yang ada bakal ditunda dan diajukan pembiayaannya di tahun depan. Anggaran yang sudah tersedia masuk lagi ke kasda hingga tercatat sebagai sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa). ‘’Kalau tidak laku ya sudah. Dimasukkan tahun berikutnya karena sudah tidak memungkinkan,’’ ungkapnya.

Didik tetap berharap puluhan paket pekerjaan itu mampu dirampungkan tahun ini. Dalihnya, 22 paket pekerjaan itu bersentuhan erat dengan kesejahteraan dan perekonomian warga. Namun, Didik meminta rekanan tanggap kondisi dengan menambah peralatan dan personel. ‘’Idealnya tiga kali lipat dari kondisi normal. Biasanya waktu pengerjaan kan tiga  bulan, berarti jumlah pekerja harus tiga kali lipat,’’ paparnya. (odi/c1/hw)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button