Bupati Menulis

Museum dan Galeri Seni SBY-ANI

DALAM rangkaian HUT Kabupaten Pacitan yang ke-275,  tanggal 22 Februari 2020 telah dilakukan groundbreaking pendirian Museum dan Galeri Seni SBY-ANI di Pacitan. Groundbreaking dilakukan oleh Keluarga besar SBY, juga diikuti beberapa sahabat dekat beliau. Saya sendiri sengaja datang memenuhi undangan tersebut, sekaligus ingin melihat dari dekat maksud dan tujuan dibangunnya Museum dan Galeri Seni ini.

Perjalanan Magetan-Pacitan yang saat ini cukup ditempuh tidak sampai 3 jam tersebut, membuat perjalanan saya tidak terlalu tergesa-gesa. Jam 09.30 saya sudah sampai di tempat acara. Tanah yang cukup luas untuk calon sebuah Museum dan Galeri Seni tersebut, telah diratakan dengan tanah. Mesin-mesin pemancang tiang beton juga telah siap ditempat masing-masing. Demikian juga tenda undangan pagi itu telah dipenuhi dengan tamu yang datang.

Tamu undangan saya lihat dari berbagai kalangan. Baik dari kalangan Partai Demokrat, tokoh masyarakat, juga tak kalah pentingnya adalah para mantan menteri dari kabinet ketika Pak SBY menjadi presiden selama dua periode. Tentu juga hadir masyarakat Pacitan yang memang menjadi tuan rumah dalam perhelatan ini.

Tepat jam 10.00 sesuai undangan acara dimulai. Sebuah kebiasaan yang bagus dari Pak SBY terhadap waktu. Pada acara apapun selalu tepat waktu. Hal ini saya ketahui karena saya menjadi pejabat tinggi di Kementerian Komunikasi dan Informatika selama dua periode pemerintah Pak SBY. Mulai sebagai Kapala Badan Informasi Publik (kemudian berubah menjadi Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik), kemudian Staf Ahli Menkominfo, Inspektur Jenderal, dan terakhir sebagai Sekretaris Jenderal. Masih berlanjut kemudian satu setengah tahun pada pemerintahan Presiden Jokowi.

Pada awal pemerintahannya, SBY-JK sudah dihadapkan pada peristiwa tsunami Aceh yang demikian dasyat. Namun, dengan adanya tsunami tersebut juga terkandung hikmah tersembunyi yaitu setelah itu kemudian terjadi kesepakatan MoU yang salah satu isinya perdamaian antara pemerintah Indonesia dengan GAM di Helsinki. Yang kemudian diikuti dengan lahirnya UU Pemerintahan Aceh yang kebetulan saya ikut terlibat di dalam pembahasannya dengan DPR.

Tentu selain itu banyak persoalan yang dihadapi selama pemerintahan SBY selama dua periode. Baik ketika bersama JK, maupun lemudian dengan Prof Budiono. Demikian juga prestasi-prestasi selama sepuluh tahun pemerintahan SBY. Tentu kita paham, bahwa tentu setiap jaman persoalan yang dihadapi berbeda-beda. Dan demikian juga cara penyelesaian. Disitulah nanti setiap peristiwa digambarkan di museum dan galeri seni tersebut. Sudah tentu  akan banyak direkam berbagai peristiwa yang nantinya dapat dinikmati oleh masyarakat.

Betapa beruntungnya kita, mulai ada sebuah kesadaran dari salah satu pemimpin bangsa yang ingin berbagi melalui jejak pengalaman hidup. Baik dalam meraih mimpi dan menjalankan amanah rakyat Indonesia. Saya jadi ingat pendapat seorang ahli yang mengatakan,”Kalau ada dua orang masing-masing membawa sebuah apel, kemudian ditukarkan saya yakin masing-masing akan mendapatkan sebuah apel. Akan tetapi apabila ada dua orang atau lebih masing-masing membawa sebuah pengalaman, ilmu pengetahuan kemudian ditikarkan masing-masing akan mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan sebanyak orang yang bertukar itu.” Betapa indahnya kalau yang punya pengalaman dan ilmu pengetahuan kemudian hanya dimiliki sendiri kemudian akhirnya tiada berbekas ketika sudah tidak ada lagi.

Demikian juga tentu dengan Pak SBY. Pengalaman masa kecil sampai remaja ketika meraih mimpi dan kemudian menjadi pemimpin di negeri ini akan diwujudkan dalam sebuah museum yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Baik bagi generasi sekarang maupun generasi pada masa yang akan datang.

Dalam perencanaan yang dapat kami tangkap, museum dan geleri seni itu akan berisi nantinya seperti, di main hall akan ada lukisan mural perjalanan hidup Pak SBY selama di Pacitan. Dan juga pemerintahan SBY selama 10 tahun sebagai presiden. Kemudian disambung diberbagai ruangan mulai replika ketika SBY kecil dan aktivitasnya serta menempa diri sebagai taruna Akmil di Lembah Tidar Magelang. Dilanjutkan mengemban tugas di Tim-tim, Brigif Linud Kostrad, tugas perdamaian di Bosnia, Danrem Yogya dan Pangdam Sriwijaya, krisis dan reformasi nasional 1998 dan masih banyak lagi.

Dan sebagaimana museum, sesuai namanya juga merupakan galeri seni, maka pada ruangan tersendiri akan dipamerkan koleksi benda seni (alm) Ibu Ani mulai dari seni patung, kerajinan tangan, kain, dan lain-lain. Harganya juga tidak harus mahal. Malahan ada yang sangat murah. Dan hampir semua produk dari koleksi yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia.

Melihat maket yang dipajang didepan tamu undangan, saya melihat sebuah miniatur gedung yang sangat indah. Apalagi kemudian direktur museum melaporkan dan menjelaskan bagaimana dan apa saja isinya dengan sangat jelas dan rinci. Tentu gedung ini nantinya akan menjadi ikon bangunan yang ada di Pacitan. Mengalahkan semua gedung yang telah ada saat ini. Wajar kemudian kalau gedung ini sangat dinantikan oleh semua kalangan khususnya warga Pacitan.

Yang menjadi pertanyaan saya kemudian siapa yang memiliki gagasan yang sangat bagus dan indah ini. Siapa yang mempunyai ide awalnya. Pertanyaan saya itu kemudian terjawab ketika Pak SBY memberikan kata sambutan, dan menjelaskan, bahwa ide awal dimulai ketika Pak SBY melihat dan telah ada museum Sukarno di Blitar. Kemudian ada museum Pak Harto di Yogya. Mengapa kemudian tidak ada museum SBY.

Oleh sebab itulah kemudian ide itu disampaikan kepada (alm) Ibu Ani. Tentu Ibu Ani sangat mendukung gagasan tersebut. Sambil terbata dan menahan air mata, Pak SBY menjelaskan ketika Ibu Ani sakit dan dirawat selama empat bulan di Singapura pada suatu saat mengingat kepada Pak SBY, ”Pepo (panggilan sayang Ibu Ani kepada Pak SBY, Red), kalau saya sudah sembuh nanti, kita segera bangun bersama-sama museum yang sudah kita rencanakan. Sebelum dibangun museum, kita bangun dahulu rumah kecil di belakang museum.”

Itulah pesan Ibu Ani kepada Pak SBY. Dan museum itu nantinya dipersembahkan kepada rakyat Indonesia juga merealisasikan amanah Ibu Ani. Juga menurut Pak SBY,”Museum dan Galeri Seni ini merupakan tanda cinta saya yang abadi kepada istri tercinta.” Siapa yang tidak terharu mendengar penjelasan dan ungkapan perasaan ketika Pak SBY menyampaikan itu semua.

Agar museum dan galeri seni tersebut bagus, dan sesuai perkembangan jaman kemudian Pak SBY melakukan kunjungan sekaligus melihat museum yang ada di Ameika Serikat, khususnya museum presiden. Oleh sebab itu kemudian beliau mengunjungi museum Harry S. Truman, Eisenhower, Clinton dan Bush. Semua dibangun di tanah kelahirannya. Dari melihat museum tersebut kemudian lahir konsep bangunan gedung Museum dan Galeri Seni SBY-Ani.

 Sedang letaknya di Pacitan sebagaimana museum presiden Amerika serikat juga berada di tanah kelahiran masing-masing. Oleh sebab itulah tidak salah kalau kemudian museum tersebut dibangun di Pacitan. Dan saya yakin kalau sudah jadi akan menambah destinasi atau tempat kunjungan yang baru dan paling menarik di Pacitan.

Beruntunglah Pacitan telah melahirkan salah satu putra terbaik bangsa. Beruntunglah Pacitan nantinya memiliki Museum dan galeri Seni SBY-Ani. Dan beruntunglah warga Pawitandirogo (eks Karesidenan Madiun), Jawa Timur, Indonesia, yang mempunyai salah satu pemimpin bangsa yang bersedia berbagi. Mudah-mudahan Museum dan Galeri Seni SBY-Ani segera terwujud. Sehat selalu Pak SBY, sehingga tetap bisa memberikan sumbangan pemikiran terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Amin

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button