Ponorogo

Muhammad Nasrullah, Tunanetra yang Jadi Pengajar Alquran

Dengarkan, Rekam, Baca, dan Simak

Keterbatasan tidak membatasi tekat Muhammad Nasrullah mahir membaca Alquran. Meski tidak bisa melihat, dia kini menjadi guru di salah satu panti tunanetra. Seperti apa kisahnya?

=====================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Radar Ponorogo

LANTUNAN ayat Alquran merdu terdengar dari dalam sebuah ruangan. Di sana, belasan anak berbusana muslim duduk lesehan membaca kitab suci tersebut. Merdu suara itu datang dari para santri berkebutuhan khusus di Panti Tunanetra, Jalan Ukel, Ronowijayan, Ponorogo.

Remaja yang punya gangguan penglihatan itu mengikuti kelas seni baca Alquran dengan dibimbing Muhammad Nasrullah. Guru mengaji yang juga tunanetra itu sesekali meminta santrinya mengulang membaca sebuah ayat karena tajwidnya tidak tepat. ‘’Panjang pendek harus diperhatikan. Kalau empat ketuk ya dibaca panjang, sudah beda arti kalau dibaca pendek,’’ katanya.

Nasrul –sapaan akrab Muhammad Nasrullah– menimba ilmu tajwid di panti yang sama sejak usia 12 tahun. Keterbatasan tidak membuatnya patah semangat. Tidak bisa melihat, membuatnya memaksimalkan indra pendengaran. Pria 39 tahun itu mendengarkan saksama gurunya membaca Alquran. Tape recorder pemberian orang tua membantu proses belajarnya. Bacaan gurunya direkam dan didengarkan. ‘’Saya dengarkan, baca, dan simak, sudah sesuai tidaknya dengan tajwid,’’ ujarnya sambil menyebut punya banyak kaset pita hasil rekaman.

Nasrul juga menimba ilmu dari seorang guru di Keniten. Dia ke sana dengan jalan kaki sejauh dua kilometer. Suatu ketika, gurunya itu pindah rumah dengan jarak lebih jauh dua kali lipat. Membuatnya tidak berani sendirian karena hanya bermodal tongkat. ‘’Selain lebih jauh, lalu lintas kendaraan sudah ramai,’’ ucap pria yang pekerjaannya menjadi tukang pijit itu.

Nasrul kerap mewakili Ponorogo lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Jawa Timur. Meski sering mengikuti kompetisi dua tahunan itu, prestasinya juara harapan II. Selain penghargaan, keikutsertaannya untuk mengasah keterampilan bertilawah. Pengalaman yang bisa ditularkan ke anak didiknya. ‘’Dalam lomba pernapasan jadi penilaian. Kalau di tengah-tengah berhenti untuk mengambil napas ada pengurangan dua poin,’’ ungkapnya.

Muridnya juga mengeluhkan persoalan napas. Nasrul mengajarkan untuk memakai suara diafragma. Yakni, suara di antara perut dan dada. Dia pernah bertilawah satu ayat saat dalam satu kali tarikan napas selama 15 detik. ‘’Anak-anak akan menguasai dengan sering latihan dan membaca secara benar,” tuturnya.

Anak didik Nasrul tidak semuanya tunanetra. Salah satu murid non difabelnya ada yang sukses menjadi guru di madrasah ibtidaiyah. ‘’Senang kalau ilmu yang saya berikan bisa bermanfaat,’’ ungkapnya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button