Ponorogo

Muhammad Haris Kritik Milenial Generasi Menunduk

Kata-kata bukan hanya milik mereka yang melihat saja. Muhammad Haris yang tunanetra rajin menuliskan puisi dan membacakannya. Memukau siapa saja yang menyimaknya.

===========

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SAHABAT. Tema itu lancar dituliskan Muhammad Haris saat mengikuti lomba cipta dan baca puisi. Lima bait puisi itu mengisahkan pertemanannya di sekolah. ‘’Dia sahabat baik saya, tapi sekarang sudah pindah sekolah. Dia teman yang baik dan suka menasihati. Dulu dia normal lalu kehilangan penglihatan karena banyak minum-minum. Sekarang sudah insaf,’’ kenang Haris.

Saat membacakan puisi, Haris pun berhasil memukau juri dan peserta lainnya. Dengan sekali tarikan napas, lantang suaranya menggema ke seluruh ruangan. Momen itu terekam saat dirinya mengikuti lomba cipta baca puisi tingkat Jatim di Surabaya beberapa waktu lalu. ‘’Saya bacakan dengan A-I-U-E-O yang jelas,’’ ujarnya.

Sebelum memberikan penampilan terbaiknya, Haris latihan tiga kali sepekan. Dia pun mengikuti seleksi di sekolah sebelum mewakili ke tingkat provinsi. Di tahapan seleksi itu, dia menulis puisi tentang generasi milenial. Rangkaian kata-kata tiga lembar itu dibacakan lalu direkam. Video rekaman itulah yang dikirimkan ke tingkat provinsi. ‘’Puisi ini membicarakan tentang generasi menunduk. Karena banyak remaja yang sibuk dengan gadgetnya, akhirnya kurang komunikasi dengan lingkungan sosialnya,’’ terang Haris.

Juara I tingkat provinsi, Haris pun melenggang ke tingkat nasional. Terbang ke Jakarta menjadi pengalaman berharga siswi kelas VIII SLB-A Aisyiah ini. Sampai di Jakarta, mekanisme lomba tidak jauh berbeda. Bersama perwakilan dari 34 provinsi se-Indonesia. Tema puisi yang hendak ditulis baru disampaikan saat lomba dimulai. ‘’Temanya kreativitas. Mikirnya agak lama waktu itu,’’ ungkapnya.

Belasan menit kemudian, dia putuskan menulis tentang mimpi dalam gelap. Menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Berharap suatu saat nanti bisa menjadi guru. Akankah cita-citanya terwujud? Dia gamang. Selain tunanetra, ayahnya yang juga tunanetra hanyalah seorang tukang pijat. ‘’Jadinya, mimpi dalam gelap. Nulisnya jadi sedikit. Nggak menang,’’ katanya.

Kendati gagal membawa pulang piala, Haris senang bisa menginjakkan kaki di ibu kota. Kesan pertama tentang ibu kota adalah kota yang luas dan ramai. Juga berkesempatan keliling betawi bersama guru pendamping selama lima hari.  ‘’Menambah motivasi ikut lomba cipta baca puisi lagi di tahun mendatang,’’ ujarnya sembari menyebut ingin jadi guru agama atau sejarah.

Haris gemar menulis sedari kelas pertama di SMP.  Kecintaannya menulis berawal dari kegemarannya mendengar paparan budayawan Emha Ainun Najib. Sebab, dalam berdakwah kerap menyelipkan kata-kata puitis. Itu menginspirasinya untuk memperkaya perbendaharaan kata. ’’Saya tahu Cak Nun dari teman sekamar. Suka mendengarkan videonya sebelum tidur,’’ pungkasnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close