features

Modal Awal Rp 300 Ribu, Azenk Kembangkan Sayuran Hidroponik

Tinggal di kawasan perumahan dengan lahan terbatas tidak menjadi kendala Azenk Ardianto bercocok tanam. Pria 39 tahun itu tetap dapat menyalurkan hobinya berkebun dengan mengembangkan sayuran hidroponik.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

BERBAGAI jenis sayuran terhampar di lantai atas rumah Azenk Ardianto di Jalan Sari Mulyo, Kelurahan Rejomulyo, Kartoharjo. Ada kangkung, pakcoy, sawi hijau, selada, hingga daun mint. Semuanya terlihat fresh dan tumbuh nyaris sempurna. Suara gemercik air yang mengalir ke media tanam membuat serasa sedang berada di pedesaan.

Sementara, si empunya rumah pagi itu tampak sedang menyemai benih salah satu jenis sayuran dengan ekspresi serius. ‘’Nanti setelah semingguan dipindahkan ke media tanam,’’ ujar Azenk sekilas menjelaskan proses pembibitan sayuran hidroponik.

Azenk menggeluti budi daya sayuran dengan teknik hidroponik sejak enam tahun lalu. Berawal saat melihat mailing list dan media sosial sejumlah temannya yang terlebih dahulu menekuni usaha tersebut. Pria itu lantas getol berburu referensi, kemudian mempraktikkannya. ‘’Bahannya dari bekas botol air mineral dan boks stirofoam buah. Modalnya cuma Rp 300 ribu waktu itu,” kenangnya.

Kini, Azenk sudah memiliki banyak pelanggan sayuran hidroponik yang dibudidayakannya. Termasuk sejumlah resto dan coffee shop. Bahkan, sejak pandemi korona, permintaan meningkat dua kali lipat. ‘’Masa panennya lumayan cepat. Pakcoy 25-30 hari, kangkung 15 hari, selada 35 hari. Kalau daun mint sebulan sudah siap panen,” paparnya.

Para pelanggan itu memilih sayuran hidroponik lantaran tanpa pestisida. Selain itu, tidak mudah layu dan rasanya lebih crunchy. Pun, dari segi harga tidak berselisih jauh dengan sayuran yang ditanam dengan metode konvensional. ‘’Bisa tahan sampai satu bulan jika disimpan dalam freezer,’’ sebut bapak dua anak itu.

Memang sayuran hidroponik juga tidak luput dari serangan hama. Namun, Azenk memilih menggunakan pestisida nabati. Untuk membasmi kutu daun, misalnya, dia menggunakan formula rendaman tembakau dan bawang putih. Sedangkan untuk mengatasi serangan belalang memakai rendaman daun sirsak atau pepaya.

”Kelemahannya, kalau pakai pestisida organik, penyemprotan harus dilakukan secara rutin. Biasanya kalau parah dua hari sekali,” ujarnya. * (dilengkapi Elit AS-Friska OF/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button