Laka LantasMadiun

Mira v Pesepeda Belum Ada Tersangka, Sopir Bus Masih Berstatus Saksi

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) antara pesepeda dengan bus Mira nopol S 7823 US terus didalami polisi. Penyidik Unit Laka Satlantas Polres Madiun intens memeriksa awak bus antarkota antarprovinsi (AKAP) itu. Namun, hingga kini polisi belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas insiden yang menewaskan Hanifa Ramadanti, 13, warga Desa Jerukgulung, Balerejo, Senin lalu (29/7). ‘’Saat ini belum mengarah ke tersangka,’’ kata Kanit Laka Satlantas Polres Madiun Iptu Nanang Cahyono Selasa (30/7).

Penyidik tidak terburu-buru menarik kesimpulan ada unsur kelalaian dilakukan sopir. Hingga mengerucut keputusan penetapan tersangka. Meskipun dalam kasus laka lantas ini, posisi bus tidak menguntungkan. Sesuai pasal 106 Undang-Undang (UU) 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. ‘’Dan itu sudah mutlak. Tapi, kami masih menunggu selesainya penyelidikan sampai nanti melakukan gelar perkara,’’ ujarnya.

Nanang menyebut, sopir bus Rudi Nur Hadi, 42, dan kondekturnya masih diperiksa sebagai saksi. Dimintai keterangan ihwal kronologi tabrakan di Jalan Raya Madiun–Surabaya di Km 155-156 masuk Desa/Kecamatan Balerejo. Sopir warga Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah, itu yang paling mengetahui detik-detik laka lantas pukul 06.30. ‘’Keterangan saksi akan dicocokkan dengan hasil olah TKP (tempat kejadian perkara, Red),’’ jelasnya.

Kepada penyidik, Rudi mengaku mengetahui Hanifa hendak menyeberang dari utara ke selatan. Remaja 13 tahun itu menuntun sepeda hingga ke tengah badan jalan. Belum sempat dikayuh, jarak bus sudah semakin dekat. Rudi langsung menginjak pedal remnya dalam-dalam sekaligus banting setir ke kanan. Klakson sengaja tidak dibunyikan dengan alasan khawatir bocah itu kaget dan malah putar balik. Namun, manuver tersebut gagal. Bodi kiri bus mengenai roda belakang sepeda.  ‘’Keterangan sopir, korban tidak sampai putar balik,’’ katanya.

Nanang mengungkapkan, hasil olah TKP sementara, bekas pengereman roda bus cukup panjang. Titik pertamanya berjarak 25 meter dari posisi terakhir badan bus yang tersangkut pagar pengaman jembatan ruas jalan nasional itu. Sedangkan korban terpental sejauh 10 meter ke barat. Berdasar temuan lapangan, pihaknya menduga kecepatan bus di rentang 70–80 kilometer per jam. ‘’Bus tidak dalam posisi hendak menyalip kendaraan lain,’’ ungkapnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close