Bupati Menulis

Minat WA dan Baca

NOMOR telepon seluler yang saya miliki sejak awal 1990-an sampai sekarang hanya satu. Karena saya sadar bahwa nomor telepon itu sebenarnya sumber daya alam. Oleh sebab itu harus dijaga, dalam arti hemat penggunaannya, sehingga nomor yang lain bisa digunakan oleh orang lain.

Selain itu, kesadaran ini akan memudahkan pemerintah dalam mengelola. Tidak seperti saat ini yang relatif bebas hingga menyebabkan pemerintah sulit mengontrol. Utamanya ketika ada yang menggunakannya tidak pada semestinya.

Ketika awal-awal telepon seluler (ponsel) mulai masif digunakan masyarakat, kita tidak terlalu ribet dalam urusan penggunaan sarana ini. Sebab, umumnya orang yang akan menelepon harus berpikir dua kali karena pulsa masih mahal. Kebanyakan sekadar baca SMS yang relatif tidak menyita waktu.

Namun, sejak bermacam aplikasi bisa diunduh di ponsel atau telepon pintar, betul-betul waktu kita tersita untuk selalu harus membuka dan membacanya. Terutama WhatsApp (WA). Pengiriman pesan, baik secara pribadi maupun grup, sering menggunakan aplikasi tersebut.

Apalagi dengan adanya Covid-19 dan semua aktivitas harus dilakukan di rumah. Belajar, bekerja, maupun beribadah dianjurkan dilakukan di rumah. Hal itu membuat alat komunikasi semacam telepon pintar menjadi sangat penting.

Demikian juga ibu rumah tangga. Anjuran untuk tidak keluar rumah jika tidak sangat perlu menjadikan telepon pintar menjadi kebutuhan sangat krusial. Belanja atau beli apa saja bisa lewat online. Masak menu apa saja bisa belajar lewat online. Aplikasi yang ada di online saat ini menjadi guru atau alat kita. Baik untuk sesuatu yang baik atau malah sebaliknya. Semua tersedia.

Dari penduduk Indonesia saat ini sekitar 262 juta jiwa, pengguna ponsel mencapai 355 juta. Artinya, sekitar 133 persen atau rata-rata satu orang Indonesia memiliki dua ponsel. Tentu data ini menunjukkan bagaimana penetrasi alat komunikasi di Indonesia saat ini.

Berdasarkan laporan terbaru berbagai lembaga, tahun ini ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Artinya, 64 persen penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Mereka berasal dari kalangan usia antara 16 hingga 64 tahun. Sedangkan yang menggunakan telpon pintar sekitar 94 persen.

Dari yang memiliki ponsel maupun telepon pintar tersebut, yang aktif di media sosial mencapai 160 juta orang.  Adapun medsos yang paling banyak digunakan oleh pengguna internet Indonesia adalah YouTube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, FB Messenger, LinkedIn, Pinterest, We Chat, Snapchat, Skype, Tik Tok, Tumblr, Reddit, dan Sina Weibo.

Begitu melonjaknya pengguna media sosial di Indonesia, dan saya yakin dengan adanya Covid-19 ini membuat waktu berselancar di dunia maya semakin bertambah.  Teman-teman saya atau senior saya (usia lebih dari 60 tahun) yang dulunya hanya berkomunikasi lewat telepon atau SMS pun saat ini sudah mampu menggunakan media sosial. Malahan paling aktif di grup.

Tentu hal ini juga akan menambah pengguna maupun lama waktu. Kalau sebelumnya waktu berselancar di dunia maya rata-rata lebih dari tujuh jam sehari, waktu-waktu ini pasti akan melonjak. Mengingat aktivitas yang harus dilakukan di rumah dan mau tidak mau penggunaan sarana komunikasi ini tidak bisa dilepaskan.

Namun, tampaknya peningkatan penetrasi internet tidak berkorelasi dengan minat baca. Menurut data UNESCO 2019, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia pada level literasi baca. Ini tentu merupakan fakta yang sangat menyedihkan.

Oleh sebab itu, tidak salah jika pada 25 Februari 2020 Menteri Dalam Negeri pada rapat koordinasi nasional perpustakaan nasional menyatakan keprihatinannya. Apalagi, dari seluruh gubernur dan bupati/wali kota yang diundang tidak lebih dari 10 orang yang datang.

Ketertinggalan atau rendahnya minat baca di Indonesia salah satu sebabnya adalah akses terhadap perpustakaan atau taman bacaan yang sulit. Walaupun dari segi jumlah perpustakaan di Indonesia jumlahnya terbanyak kedua di dunia.

Kita tahu dan sering baca maupun dengar pepatah “buku adalah jendela dunia. Buku adalah gudang ilmu.” Selain itu membaca buku membuat kita berpikir analitik dan kritis serta banyak manfaat lainnya. Dan itu benar. Tapi kebiasaan ini sulit juga diterapkan di Indonesia. Karena tidak biasa berpikir analitik dan kritis, informasi di media sosial banyak ditelan mentah-mentah saja.

Namun, saya yakin setiap cobaan seberat apapun ada hikmah tersembunyi. Salah satu hikmahnya adalah kita bisa mengenalkan lagi buku. Ya, membaca buku yang saat ini seperti kita lupakan. Agar yang di rumah punya alternatif lain dalam mengisi waktunya.

Oleh sebab itu, Dinas Arsip dan Perpustakaan Magetan melayani peminjaman buku dengan memanfaatkan mobil perpustakaan keliling. Juga sistem online khusus untuk kota dan sekitarnya. Perpustakaan  mobil keliling saat ini terus masuk di desa-desa, utamanya di tempat-tempat isolasi. Tentu operasionalnya menerapkan sesuai protokol kesehatan. Mobil disemprot disinfektan, petugas memakai masker, sarung tangan, dan sebagainya.

Dari data sampai saat ini, perpustakaan keliling sudah merambah 23 desa tempat isolasi. Sedangkan buku yang dipinjam 372 judul. Masih belum banyak, karena memang baru sekitar seminggu ini tempat isolasi di desa diterapkan. Tentu pelayanan ini akan dilakukan terus sampai pandemi berakhir.

Apakah yang dilakukan perpustakaan ini bisa meningkatkan minat baca? Tentu jawabannya sangat relatif. Namun, setidaknya momentum ini harus kita manfaatkan. Walaupun mungkin ini baru langkah kecil, sebenarnya kalau ini dilakukan secara massif ketika terjadi pandemi akan membuat gerakan membaca di rumah yang tidak kalah hebat. Pada gilirannya, meningkatnya minat berselancar di medsos seperti WA mempunyai korelasi yang positif dengan minat baca. Betapa indahnya. Sehingga pandemi Covid-19 tidak semata-mata sebagai bencana semata. Semoga. (*)

Penulis adalah bupati Magetan

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close