features

Meski Punya Keterbatasan Fisik, Mulyono Tetap Semangat Hidupi Keluarga

Memiliki keterbatasan fisik tidak membuat Mulyono bergantung orang lain. Sebaliknya, pria 50 tahun itu berusaha mandiri. Termasuk dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Loper koran menjadi ladangnya mengais rupiah agar asap dapur tetap mengepul.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

HARI masih gelap. Sekitar pukul 03.00. Namun, Mulyono sudah bangun dari tidurnya. Di tengah hawa dingin menusuk tulang yang masuk lewat celah-celah kamarnya, pria 50 tahun itu menyibakkan selimut. Lalu, menuju kamar mandi untuk cuci muka sambil menahan kantuk yang masih bergelayut di pelupuk matanya.

Setelah berganti pakaian, Mulyono bergegas mengambil sepeda tuanya menuju sebuah agen koran di Jalan MT Haryono, Kota Madiun. Usai koran ditata di sepeda, dia lantas berkeliling ke alamat pelanggan. Termasuk beberapa sekolah dan kantor desa.

‘’Wilayah saya mulai Desa Sidorejo, Munggut, Tempursari, Bantengan, Jatimungal, Nglanduk, Nglambangan, sampai Sobrah (Kabupaten Madiun). Untuk kota meliputi Jalan Salak dan Raya Munggut,’’ ungkap Mulyono.

Sudah enam tahun Mulyono menjadi loper koran. Meski memiliki keterbatasan fisik, bapak dua anak itu tetap semangat mengayuh sepeda hingga jarak puluhan kilometer dari pelanggan satu ke pelanggan lainnya. ”Saya suka dengan pekerjaan ini. Daripada menganggur dan merepotkan orang lain,” katanya.

Bahkan, suami Umiana itu tak jarang bersepeda menempuh jarak antarkota seperti Madiun-Kediri, Madiun-Magetan, dan Madiun-Kertosono. ”Kadang menjenguk saudara, kadang sekadar cari keringat sekaligus refreshing,” tutur Mulyono.

Sejak 1985 silam tangan kanan Mulyono tidak utuh lagi. Organ itu harus diamputasi usai tubuhnya kesetrum saat memasang isolator. Tingginya tegangan listrik yang menyengat tubuhnya mengakibatkan pria tersebut mengalami koma selama sepekan dan menjalani opname tiga bulan. ‘’Saya sempat shock (mengetahui harus diamputasi),’’ kenangnya. ‘’Waktu itu masih kerja di jasa instalasi jaringan PLN,’’ imbuhnya.

Tuntas menjalani operasi, Mulyono sempat menganggur sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan dan belakangan jalan hidup membawanya menjadi loper koran. ”Tiap hari bawa sekitar 30 koran. Selesai ngantar sekitar jam 12 siang biasanya langsung ke pasar cari sarapan,’’ kata warga Perumahan Asabri itu sembari menyebut dari pekerjaannya mengantar koran mendapat fee Rp 200 ribu per bulan.

Bapak tiga anak itu bersyukur masih bisa bekerja dalam situasi pandemi Covid-19. Pun, saban hari dia menerapkan protokol kesehatan agar terhindar dari paparan virus tersebut. * (dilengkapi Elit AS-Friska OF/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button