Ponorogo

Meris Hinsons Galearry, Atlet Biliar Berprestasi Asli Ponorogo

Pilih Perkuat POBSI Kota Madiun karena di Ponorogo Sarpras Minim

Olahraga biliar banyak digemari kaum pria. Salah satunya adalah Meris Hinsons Galearry. Dia merupakan atlet biliar asal Ponorogo yang sempat tergabung dalam POBSI Kota Madiun. Selain ulet, dia juga punya segudang prestasi membanggakan.

====================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

RAUT muka Meris Hinsons Galearry terlihat serius. Pandangan matanya lurus ke arah bola berwarna putih dengan penuh konsentrasi. Sesekali pria 34 tahun itu melirik ke arah bola hitam nomor delapan yang akan ditujunya.

Setelah dirasa sesuai target, kemudian dia langsung mengayunkan stik yang digenggamnya menyodok bola putih. Bless bola tersebut mengenai bola nomor delapan dan masuk ke dalam pocket.

Senyum Meris langsung mengembang. Raut mukanya berubah ceria. Karena pukulan itu berhasil mengantarkannya menjadi juara dalam Galaxy Cup National Open Champions yang digelar di Galaxy Pool, Surabaya, pada 3—8 November lalu. Dia menyudahi perlawanan Hendra, pebiliar dari Bali, dengan skor 5-2 di partai puncak. “Tidak menyangka bisa jadi juara karena pesaingnya luar biasa dari berbagai daerah,” kenang Meris Selasa (12/11).

Keberhasilannya menjadi kampiun itu sekaligus menambah deretan prestasi Meris di cabang olahraga (cabor) biliar. Sebelumnya, warga Jalan Petruk, lingkungan Krajan, Kelurahan Brotonegaran, tersebut pernah meraih juara di kejuaraan biliar tingkat nasional di Batu dan Surabaya.
Meris mengaku seluruh prestasi itu tidak didapatnya secara instan. Dia mengenal biliar sejak usia enam tahun. Sejak itu, dia tidak bisa lepas dari dunia bola sodok. “Awalnya hanya coba-coba main karena penasaran. Tapi, makin ke sini terus diajarin oleh banyak orang,” katanya.

Kemampuannya bermain bola sodok itu dipoles secara otodidak. Biasanya Meris bermain biliar di rumah biliar belakang kantor DPRD. Tapi, proses tersebut dijalaninya tidak lama. Karena tempat biasanya dia berlatih itu tutup.

Meris sempat merasa putus asa. Khawatir bakatnya tersebut bakal sia-sia. Sebab, tempat latihan biliar yang ada di Ponorogo terbilang minim. Kesempatan bagi Meris mengembangkan bakatnya tiba sekitar tiga tahun lalu.

Saat itu, seorang temannya menyarankan untuk berlatih intensif di Kota Madiun. Alasannya, karena sarana prasarananya lebih lengkap. “Saya memang berniat untuk mengembangkan kemampuan biliar. Jadi, tepatnya pada tahun 2017, saya memutuskan untuk terus berlatih di Kota Madiun,” ungkapnya.

Kerja keras dan ketekunannya dalam berlatih saat itu membuahkan hasil. Meris keluar sebagai runner-up di sebuah turnamen biliar di Batu. Tapi, ada rasa risih dalam benaknya. Karena hampir semua atlet yang turun ada pendampingan dari pelatih dan ofisial. Sedangkan, dirinya datang secara pribadi.

Dibutuhkan perjuangan ekstra baginya untuk mengikuti sebuah turnamen. Karena dirinya harus merogoh kocek pribadi. Seperti saat dia mengikuti turnamen biliar di Batu tersebut.

Meris mengaku sempat terkatung-katung di Terminal Jombang. Bahkan, harus bermalam di terminal tersebut karena ketinggalan bus saat akan bertolak ke Malang. “Karena memang dananya minim, saya nggak punya uang cukup menginap di hotel. Sementara, (waktu penyelenggaraan) turnamen biliar itu cukup lama, sekitar satu minggu,” terang suami Titis Krisna Wardhany tersebut.

Sejak itu namanya makin berkibar. Hingga akhirnya direkrut oleh POBSI Kota Madiun untuk mengikuti berbagai kejuaraan biliar. Tapi, kebersamaan tersebut tidak berjalan lama. Dia sempat tergabung dalam POBSI Kota Surabaya saat mengikuti Galaxy Cup National Open Champions lalu.

Bahkan, setelah berhasil keluar sebagai juara dalam turnamen tersebut, POBSI Bali kepincut dengan Meris. Tapi, tawaran itu masih dipertimbangkan. Alasannya karena keluarga.

Sekalipun banyak mendapatkan tawaran bergabung di beberapa POBSI, tapi Meris sebenarnya ingin memperkuat kontingen Ponorogo di sejumlah turnamen maupuan kejuaraan biliar. Hanya, kevakuman POBSI Ponorogo menjadi penghambat. Belum lagi minimnya fasilitas untuk berlatih. “Dua tahun lalu pernah ingin ikut kejurda. Tapi, saat mengurus, surat rekomendasinya cukup rumit. Meskipun rekom turun dan hanya masuk delapan besar,” beber Meris. ***(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button