Madiun

Mereka yang Bersinar di Madiun Street Activity (1)

Berbagai cerita mengiringi perjuangan peserta Madiun Street Activity sebelum akhirnya terpilih sebagai pemenang ajang bergengsi itu. Tak terkecuali Kevin Ezza Rosian dan Widya Nugraha. Seniman asal Ponorogo yang tergabung dalam tim Philo itu dinobatkan sebagai juara III lomba mural.

—————

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BUNYI alarm membangunkan Kevin Ezza Rosian dari tidurnya. Warga Jalan Natuna, Kelurahan Mangkujayan, Ponorogo, itu pun kaget saat mengetahui jarum jam sudah menunjuk ke angka 12.00.

Kevin lantas bergegas menuju kamar mandi. Sementara, Widya Nugraha, adik iparnya, menunggu di ruang tamu. Seluruh perlengkapan berupa cat dan kuas pun telah dikemas rapi.

Usai mandi, Kevin dan adik iparnya tancap gas ke Kota Madiun. Sepanjang perjalanan, keduanya terus membahas konsep mural yang akan digambar dalam rangkaian event Madiun Street Activity yang digelar pemkot bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Madiun itu. ‘’Akhirnya konsep awal diganti, tapi tidak mengubah esensi pesan yang hendak disampaikan,’’ kata Kevin.

Semula Kevin berencana menggambar mural tentang berbagai ikon Kota Madiun. Mulai pecel, kereta api, hingga kota pendekar. ‘’Jam 14.00 kami baru sampai di lokasi. Sementara, peserta lain telah merampungkan sketsa gambarnya. Tapi, dari situlah kami jadi tahu dan yakin bisa masuk tiga besar,’’ ujarnya.

Selama tiga hari kompetisi, Kevin selalu datang siang hari. Sebab, waktu malamnya dihabiskan untuk menyelesaikan pesanan lukisan. Namun, bukan berarti dia tidak dapat menyelesaikan mural sesuai waktu yang ditentukan.

Usai menyelesaikan lukisan pesanan, waktu subuh dia manfaatkan untuk mengoplos cat. Sampai di Jalan Ahmad Yani -lokasi lomba- Kevin telah siap melanjutkan menggambar muralnya. ‘’Kalau nggak disiasati begitu bisa lama selesainya,’’ tuturnya.

Dalam event kali ini Kevin menggambar kartun punakawan beserta seorang ibu bersanggul mengenakan pakaian khas Jawa. Di atasnya bertuliskan Madiun Kota Pecel dengan background gedung bertingkat khas perkotaan. Konsep itu ternyata mampu merebut hati dewan juri.

‘’Bersyukur bisa dapat juara III,’’ ucapnya. Terima kasih juga untuk Pemkot Madiun dan Jawa Pos Radar Madiun yang telah mewadahi kami untuk berkreativitas dan belajar,’’ imbuh sulung empat bersaudara pasangan Suroso-Yohana itu.

Bagi Kevin, dunia mural bukan hal baru. Pun, gara-gara mural, kuliahnya di Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berantakan. Bahkan, akhirnya dia memutuskan tidak meneruskan kuliah yang telah berjalan 12 semester sejak 2013 lalu itu. Kevin memilih bekerja sebagai seniman lukis dan mural.

Sebelum fokus di dunia mural, Kevin terbiasa melukis di media kanvas sejak kelas X SMA. Kebetulan tempat kosnya di Jogjakarta berdampingan dengan sejumlah seniman. ‘’Waktu pertama buat mural diajak teman. Setelah itu, ketagihan sampai sekarang,’’ katanya.

Untuk menyelesaikan karya pertamanya itu dia butuh waktu lima hari. Namun, kini dengan ukuran mural yang sama, Kevin sanggup menyelesaikan hanya dalam satu hingga dua hari.

Kini waktunya lebih banyak dia habiskan di luar kota untuk merampungkan pesanan mural. Mulai Surabaya, Jogjakarta, hingga Jakarta. Penghasilan yang didapatkan dari mural lebih dari cukup. Kevin pernah mengerjakan mural pesanan salah satu hotel di Jakarta senilai Rp 26 juta.

‘’Pulang ke Ponorogo dua minggu sekali. Kalau sedang kosong (tidak ada pesanan mural, Red), saya garap pesanan lukisan di kanvas,’’ jelasnya.

Kendati namanya semakin dikenal, Kevin tidak berhenti belajar. Termasuk mempelajari anatomi tubuh untuk referensi saat melukis di media kanvas maupun tembok. ‘’Anatomi tubuh itu sangat berpengaruh saat proses melukis. Apalagi, saya juga masih sering bikin pesanan sketsa wajah,’’ ujarnya. ***(isd/c1/bersambung)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button