Mejayan

Mereka Bertahan Melawan Talasemia

DEMAM TINGGI AWAL TRANSFUSI

Hidup penderita talasemia tak pernah jauh-jauh dari rumah sakit. Terlebih bagi mereka yang mengidap talasemia mayor. Sebulan sekali harus menjalani transfusi guna menambah sel darah merah dan menaikkan kadar hemoglobin.

============================

Asep Syaeful Bachri, Caruban, Jawa Pos Radar Caruban

JEMITIN tak pernah menyangka jika demam Muhammad Fitra Al-Khoiri, putranya, sembilan tahun lalu bukan sembarang demam. Ketika diperiksakan, kadar hemoglobinnya susut hingga 5 dari normalnya 12. Khoiri yang saat itu baru berusia setahun langsung menjalani rawat inap. ‘’Dokter menyatakan anak saya terkena talasemia mayor,’’ kenang warga Kresek, Wungu, itu.

Sejak saat itu pula, Khoiri yang kini mancik usia sepuluh tahun itu wajib transfusi darah setiap bulannya. Jika terlalu banyak beraktivitas, Khoiri bakal didera kecapekan tak biasa. Kepalanya pusing dan wajahnya memucat. ‘’Itu berarti Hb-nya turun. Jika sudah begitu, langsung saya periksakan ke puskesmas atau langsung rumah sakit untuk transfusi,’’ terangnya.

Begitu tahu anak semata wayangnya divonis talasemia, Jemitin langsung mendaftarkan putranya ke BPJS Kesehatan. Untuk meng-cover biaya transfusi dan pembelian obat. ‘’Khoiri butuh 2-3 kantong darah setiap bulannya,’’ imbuh sang ibu.

Nur Safinah senasib dengan Khoiri. Bocah perempuan 7 tahun itu dinyatakan mengidap talasemia mayor sejak usianya 3 tahun. Sebagaimana Khoiri, gejala awal yang dirasakannya berupa demam tinggi. Setelah diperiksakan, Hb-nya turun sampai 6. ‘’Setiap bulan harus transfusi. Kalau Hb-nya 9-8 butuh satu kantong, kalau turun sampai 7 butuh 2 kantong,’’ ujar Markah Matus Zahro, ibu Nur Safinah.

Masa transfusi menyesuaikan jumlah asupan darah yang dibutuhkan. Untuk satu kantong, transfusinya cukup satu hari. Jika lebih, bisa dua hari bahkan sampai rawat inap. ‘’Pernah suatu kali nggak mau ditransfusi, katanya sakit. Mau nggak mau, harus dirayu dulu. Minta apa, dibelikan dulu,’’ ucapnya.

Zahro cukup terbantu dengan kehadiran POPTI Cabang Madiun. Setahun tergabung perhimpunan ini, pembiayaan bagi anaknya ter-cover anggaran negara. Dia tak lagi terbebani dengan premi BPJS Kesehatan mandiri. POPTI juga memudahkannya berkomunikasi dengan sesama orang tua penderita talasemia. ‘’Setiap masuk rumah sakit pasti sharing ke grup WhatsApp,’’ terang warga Kartoharjo, Magetan, ini. *** (fin/c1)

Empati, Saling Berbagi Informasi

JANGAN MENYERAH: Suasana haru mengiringi pertemuan para penderita talasemia di Eathouse, Caruban.

PENDERITA talasemia di Kabupaten Madiun mencapai 15 jiwa. Dari total 33 penderita se-eks Karesidenan Madiun (kecuali Ngawi). Jalinan komunikasi sangat penting bagi pengidap kelainan darah bawaan yang ditandai kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh kurang dari normal itu. Mereka membutuhkan transfusi darah untuk menambah sel darah merah. ’’Bahkan penderita talasemia mayor harus melakukan transfusi darah sebulan sekali,’’ kata Ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Madiun Cahyono Eko Budi Setiwan.

Itu pula yang mendasari pembentukan POPTI Cabang Madiun, 2016 silam. Sebagai salah satu media silaturahmi bagi para penderita talasemia. Mewadahi berbagai keluhan dan meringankan beban penderitanya. ’’Ketika bank darah di rumah sakit habis, kami segera mencarikan pendonornya,” ujar Cahyono saat acara Thalassaemia Ghatering 2019 di Eathouse, Caruban, Minggu (15/12).

Dia menerangkan, talasemia adalah kelainan darah bawaan yang ditandai kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh kurang dari normal. Sehingga membutuhkan transfusi darah untuk menambah sel darah merah.’’Bahkan penderita talasemia mayor harus melakukan transfusi darah setiap bulan sekali,’’ tuturnya.

Untuk pembiayaan transfusi darah setiap bulannya itu, orang tua harus merogoh kocek sekitar Rp 8 juta. Namun, sejak 2017, POPTI mendorong agar penderita talasemia mendapatkan penjaminan asuransi dari negara. ‘’33 penderita di usia rentan (2-37 tahun) telah di-cover KIS (kartu Indonesia sehat, Red). Sebelumnya BPJS Kesehatan mandiri kelas III,’’ terangnya.

Sejatinya, efek dari transfusi darah secara terus-menerus bisa mengakibatkan penumpukan zat besi. Sehingga, penderitanya perlu mengonsumsi obat untuk mengeluarkan zat besi dari darahnya. ’’Ketika hemoglobinnya kurang, wajahnya akan menjadi pucat, daya tahan tubuhnya menurun, lemas, dan sering marah,’’ ungkapnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close