Magetan

Merasa Dipinggirkan, Seniman Magetan Wadul Dewan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Kalangan pekerja seni merasa dipinggirkan oleh Pemkab Magetan. Tiadanya rancangan standard operating procedure (SOP) untuk kegiatan pertunjukan di masa era normal baru dijadikan alasan. Panduan hidup berdampingan dengan Covid-19 itu hanya dibuat untuk sektor pariwisata dan layanan publik.

Keluhan ketidakadilan itu disampaikan sejumlah seniman kepada anggota komisi B DRPD setempat dalam rapat dengar pendapat (RDP) Kamis (18/6). ‘’Meski tempat kerja kami identik keramaian, tapi bukan berarti tidak disusunkan SOP untuk bekerja lagi,’’ kata Putut Pudji Agusseno, salah seorang seniman mewakili pedalang.

Putut mengatakan, pihaknya tidak manggung hampir empat bulan. Tidak ada pemasukan karena acara hajatan atau yang mengundang kerumunan tidak diperbolehkan. Derita serupa juga dirasakan sinden, penabuh gamelan, master of ceremonies (MC), dan penyedia jasa sound system. Bahkan, ada yang banting setir jadi pedagang cilok atau berjualan lainnya.  ‘’Kami tidak ingin kebudayaan di Magetan mati suri. Semoga bupati (Suprawoto, Red) mengerti,’’ tuturnya.

Ketua Komisi B DPRD Magetan Hari Gitoyo berharap kegiatan berkesenian bisa difasilitasi kembali oleh pemkab. Bila sektor pariwisata diberi panduan protokol kesehatan, seyogianya hal serupa diberlakukan untuk seni dan budaya. Menimbang aktivitasnya yang sama-sama mengundang kerumunan. ‘’Dinas terkait perlu memberikan solusi. Kami harap bupati bisa memahami keadaan seniman saat ini,’’ ujarnya.

Hari menyebut, pihaknya akan bersurat ke bupati dan kapolres Magetan. Polisi perlu mengetahui harapan seniman itu berkaitan wewenang menerbitkan izin keramaian. Setidaknya, institusi itu bisa melonggarkan izin hajatan. ‘’Tapi, kami akan tetap tunggu keputusannya nanti seperti apa,’’ ucapnya. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button