Madiun

Menyandang Disabilitas, Rifan Wahyu Pradana Enggan Dikasihani

Aktivitas Jualan Aksesori dan Mainan Bikin Lebih Pede

Perlakuan diskriminatif masih kerap diterima penyandang disabilitas. Termasuk kesempatan mendapatkan pekerjaan. Namun, hal itu tidak mematahkan semangat Rifan Wahyu Pradana untuk mandiri.

________________________

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

HARI mulai menjelang siang, Rifan Wahyu Pradana tampak serius menata mainan bebek di koper berukuran sedang. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Rifan berangkat ke sejumlah lokasi keramaian dan lingkungan sekolah untuk menjajakan mainan itu. ”Saya tak bisa hanya diam di rumah,” ujarnya.

Meski kondisinya serba kekurangan, Elsan -panggilan akrab Rifan Wahyu Pradana- tidak pernah patah semangat. Warga Jalan Banjarwaru Gang IV, Banjarejo, Taman, itu ingin bisa hidup mandiri tanpa dikasihani orang lain.

Sudah hampir delapan bulan dia berjualan gantungan kunci. Belakangan dia merambah mainan bebek lucu yang biasa dipasang di setang motor dan helm. ‘’Coba-coba karena sempat viral,” tutur pemuda 21 tahun itu.

Semenjak lulus SLB dua tahun lalu, Elsan langsung sibuk mencari pekerjaan. Hampir semua dokumen legalitas pencari kerja diurus sendiri. Mulai SKCK hingga surat lamaran. ‘’Sudah disebar ke berbagai perusahaan, tapi ditolak,’’ ungkapnya.

Namun, Elsan tidak menyerah. Tekadnya yang tinggi akhirnya berbuah manis. Dia diterima bekerja di sebuah minimarket Kota Madiun. Namun, Elsan hanya bertahan setahun lantaran upah yang diterima tak penuh. Selain itu, tugasnya terbilang berat baginya. ”Akhirnya jualan aksesori dan mainan,” ucapnya.

Banyak hal positif yang diperoleh Elsan dari berjualan aksesori. Tak hanya membantu secara  finansial, aktivitas itu juga mampu memperluas pergaulannya. Semakin hari semakin banyak teman. Pun, kian pede (percaya diri) dan lebih komunikatif. ”Sejak dulu paling susah cari teman yang mau diajak main atau ngobrol,” tutur Elsan.

Keterbatasan fisik yang dimiliki membuat Elsan sering di-bully. Pun, tak jarang dimanfaatkan dan dipalak orang tak dikenal. Ponselnya pernah dirampas saat pulang kulakan mainan di Pasar Sri Jaya. HP miliknya juga pernah diambil orang saat nongkrong di sebuah warung angkringan. ”Kalau ejekan sudah tak terhitung lagi,” ungkapnya.

Orang tua Elsan sering mengkhawatirkannya saat berjualan hingga petang hari. Tak jarang keduanya berkeliling mencarinya, menyuruh sang anak segera kembali ke rumah. ”Dia nggak mau diam di rumah dan pengin punya banyak teman,” kata Endang Sulasmi, ibu Elsan. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close