Bupati Menulis

Menulis di Media

ADA pertanyaan ke saya, kapan mulai menulis? Kalau sekadar menulis di catatan sudah lama sekali. Sejak SMP suka mencatat peristiwa penting dalam kehidupan saya. Sehingga tidak kesulitan ketika menulis autobiografi.

Tapi, kalau menulis di media massa baru saya lakukan ketika bekerja di Surabaya. Tulisan pertama itu opini yang dimuat di Jawa Pos pada 10 Agustus 1989. Meski tidak rutin, aktivitas menulis terus berlanjut untuk beberapa harian di Surabaya. Senang rasanya. Sebagai pegawai yang relatif masih muda, tapi tulisannya terpampang di koran. Apalagi nama dan tempat bekerja tertulis jelas. Honor bukan tujuan saya.

Aktivitas menulis beriringan dengan budaya membaca. Kalau tidak membaca, tentu tulisan akan terasa kering. Mengingat pengalaman belum banyak. Sementara keinginan untuk bisa mengalahkan keraguan dan biasa dialami penulis pemula.

Role model saya adalah Anton Tabah. Saya membaca tulisannya ketika masih mahasiswa dulu. Saking kagumnya, saya punya kumpulan tulisannya. Anton Tabah seorang perwira polisi. Bukan didikan akademi kepolisian, melainkan wajib militer. Meski begitu, kariernya cemerlang. Bahkan pernah menjadi Kapolres Klaten. Cukup langka karena biasanya penjabatnya adalah lulusan akademi.

Karier yang dicapai itu sedikit banyak karena pengaruh kebiasaannya menulis. Tulisannya sering menghiasi halaman opini harian nasional di Jakarta. Para petinggi di kepolisian pasti membacanya. Yang membuat kagum, tulisannya mengenai pembelaan terhadap polisi terasa masuk akal. Padahal, kinerja kepolisian kala itu tengah disorot masyarakat.

Sementara keberanian saya menulis karena petuah Dahlan Iskan. Pada sebuah seminar, beliau menyampaikan bahwa menulis tak ubahnya belajar naik sepeda. Ketika di awal sering jatuh. Itu biasa. Seiring berjalannya waktu akan lancar. Malah bisa cul setang (lepas setir).

Hal yang wajar kalau awalnya tulisan saya pernah ditolak. Namun, penolakan itu tidak menyurutkan hasrat menulis. Saya menyadari tidak punya siapa-siapa dalam berkarier. Harus berjuang dan berdiri di atas kaki sendiri. Mengasah kemampuan melalui tulisan salah satu upaya memberi nilai tambah pada diri saya. Saya meyakini tulisan di media akan menembus ruang dan waktu.

Kebiasaan menulis memudahkan saya membuat makalah, konsep pekerjaan, dan perubahan. Beban pekerjaan yang berkaitan tulis-menulis pasti diberikan ke saya. Bahkan untuk hal membuat kertas kerja pimpinan atau presentasi.

Bagi saya, tugas tersebut sebuah kehormatan. Sama sekali bukan beban. Berbagai peluang pun terbuka. Salah satunya kesempatan menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi swasta Surabaya, Malang, dan Jakarta. Jaringan semakin luas dan rezeki halal mengikutinya.

Skill menulis dan kumpulan tulisan sangat membantu saya kuliah magister ilmu sosial dan politik pascasarjana Universitas Airlangga pada 1994. Salah satu syarat masuknya adalah menyertakan beberapa tulisan yang pernah tayang di media massa.

Pada 1998–2002, saya diminta menjadi direktur Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya. Sekolah yang alumninya banyak berkecimpung di jurnalistik, baik pusat maupun daerah. Hingga kini masih menjadi Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur.

Kumpulan tulisan saya juga berguna ketika hendak masuk program doktor di pascasarjana administrasi publik Universitas Brawijaya, Malang, pada 2002. Kebiasaan menulis memperlancar penulisan tesis atau disertasi. Semuanya saya lakukan sendiri. Kalau ada yang membantu, hanya ketika proses riset dan pengumpulan data.

Banyak yang bertanya, kapan waktu menulisnya? Apakah menjadi bupati tidak menyita banyak waktu? Biasanya saya jarang menjawab pertanyaan tersebut. Dalam hati, saya justru malu dengan Dahlan Iskan ketika menjabat menteri BUMN. Tanggung jawabnya jauh lebih besar dan lebih sibuk, tapi masih punya waktu menulis secara rutin. Masa saya pejabat di bawahnya tidak menulis dengan alasan tidak punya waktu.

Saya hanya menjawab “Oke, saya coba” ketika redaktur Jawa Pos Radar Madiun meminta saya mengawali mengisi rubrik Bupati Menulis di akhir 2018. Sebab, saya rutin menulis di media berbahasa Jawa dan telah menelurkan beberapa judul buku. Saya juga heran kok keterusan sampai sekarang. Apakah jadi beban? Sama sekali tidak. Menulis semakin meneguhkan keyakinan bahwa itu bentuk pertanggungan jawaban atas takdir yang membawa saya sampai ke titik ini. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button