Madiun

Menjaga Resapan, Pengembangan Pulau Jalan Imbangi Pembangunan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Di Desa Mantar, Kecamatan Poto Tani, Sumbawa Barat, terdapat sebuah pohon raksasa berusia ratusan tahun. Pohon itu diberi nama pohon cita-cita karena anak-anak desa setempat punya kebiasaan unik. Yakni, menuliskan cita-cita di kertas, dimasukkan botol, lalu digantung di ranting pohon tua itu.

Pohon cita-cita berbentuk raksasa itu terkisah dalam film Serdadu Kumbang besutan Ari Sihasale yang dirilis 16 Juni 2011 lalu. Entah hingga kini belum terungkap pohon jenis apa yang dikeramatkan dalam film itu.

Di Kota Madiun, 12 pohon raksasa juga bakal ditanam. Saat ini lima pohon telah tertanam. Di pertigaan Jalan Parikesit-Mastrip, depan SMKN 4 Madiun, pojok utara Pasar Spoor, serta perempatan Jalan Bali-Kenari dan pertigaan Jalan dr Sutomo-Pangsud. Yang disebutkan terakhir, paling menarik perhatian. Pohon pule berbobot 20 ton itu usianya kurang dari 100 tahun. Harganya mencapai Rp 85 juta. Tidak hanya menarik perhatian, tapi juga menjadi bahan perbincangan.

Dalam program Warga Bicara Radar Madiun TV, Listiana berpendapat justru akar pohon itu dalam jangka panjang bakal merusak aspal jalan. Dia juga khawatir sewaktu-waktu tumbang menimpa pengendara. Sebab, angin menyapu kencang sejak beberapa hari terakhir. ‘’Pas hari libur dan weekend sering macet di daerah sini. Ditambahi pohon itu juga,’’ kata warga Kota Madiun itu.

Tidak sedikit pula yang mengapresiasi langkah pemkot. Seperti yang disampaikan Nisa dan Ardi. Keduanya beranggapan pohon itu mempercantik kawasan perkotaan. Kehadirannya bisa menjadi jujukan warga. Apalagi di titik tersebut biasanya menjadi tempat ngopi kaum milenial. ‘’Kalau dibangun tentunya sudah diperhitungkan matang dampaknya,’’ kata Nisa.

Wali Kota Madiun Maidi mengungkapkan, pembangunan pulau jalan (pohon pule) itu merupakan implementasi dari pembangunan ramah lingkungan. Selain menjadi pemasok oksigen keberadaan pohon itu dapat menjadi resapan air. ‘’Hampir di semua daerah banjir saat penghujan dan kekeringan saat kemarau,’’ kata Maidi.

Bagi Maidi, penanaman pohon itu mengimbangi pembangunan modern yang juga tengah digencarkan pemerintah. Di titik tersebut jalan digunakan sepanjang tiga meter. Digali satu meter untuk menanam pohon tersebut. Sehingga dapat menjadi resapan air yang baik di tengah kota. ‘’Jika ada 100 saja, maka dijamin hujan tidak akan banjir dan kemarau sumur tidak kering,’’ jelasnya.

Pembangunan pulau jalan itu mewujudkan pembangunan maju tapi indah. Maidi mengibaratkan sekali melangkah lima pulau terlampaui. Menurutnya, itulah pola pikir pembangunan modern dengan menawarkan solusi dari dampak bencana. ‘’Untuk masa depan, siapa yang akan menikmati nantinya,’’ ucapnya.

Maidi menuturkan, pemilihan pohon pule itu melalui berbagai pertimbangan dan kajian. Dari segi manfaat memiliki khasiat positif bagi kesehatan. Maidi sengaja tidak membeberkan terlalu jauh agar publik penasaran. ‘’Ada kelanjutannya nanti, disimpan dulu. Apa alasan dan manfaat dari pohon pule ini,’’ tuturnya.

Untuk mendatangkan pohon pule dari daerah asalnya tidak dapat dilakukan sembarangan. Pohon bernama latin Alstonia scholaris itu sudah melalui masa karantina di lokasi asal hingga empat bulan. Selanjutnya dikirim dan harus dikarantina kembali kurang lebih satu bulan di kota setempat. Sebelum akhirnya ditanam. ‘’Untuk lokasi yang kami pilih merupakan titik mati. Baik pertigaan maupun persimpangan. Sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas,’’ jelasnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close