Ponorogo

Mengudar Kisah Grup Kasidah Nada Utama 99

Musikalitas Semakin Kaya, Tak Pernah Bedakan Acara

Meski gemar membawakan karya kontemporer, grup kasidah Nada Utama 99 punya satu kekhasan yang tak bisa ditinggalkan. Ke mana-mana selalu membawa beduk peninggalan KH Mujab Tohir dari Ponpes Al-Idris.

========================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

PUNCAK ketenaran kasidah awal 90-an silam masih dikenang Hendrik Mutriawan. Pria 34 tahun itu ingat betul ketika itu begitu banyak acara kasidahan di Bumi Reyog. Fenomena itu pula yang melatari lahirnya grup lokal. Satu di antaranya Nada Utama 99. ‘’Ada angka 99 karena berdiri tahun 1999,’’ kata Hendrik, vokalis sekaligus ketua grup musik tersebut.

Hendrik rupanya generasi kedua. Sebagian pendiri Nada Utama 99 sudah meninggalkan grup lantaran memilih fokus pada banyak hal lainnya. Sedangkan Hendrik baru bergabung sekitar 2002. Nada Utama 99 pun tetap setia membawakan musik kasidah. ‘’Saya ingat betul, di tahun 1999 itu pemkab bikin acara musik kasidah di panggung utama alun-alun. Penontonnya luar biasa,’’ kenangnya menceritakan awal mula ketertarikannya.

Saat ini Nada Utama 99 diperkuat 15 personel. Hendrik merupakan satu dari empat vokalisnya. Selain kompang (rebana) dan alat musik tradisional lainnya, grup ini juga diperkuat gitar, bas, hingga biola. Itu membuat musikalitas Nada Utama 99 semakin kaya. Tak hanya lagu-lagu tradisional, mereka juga terbiasa membawakan lagu kontemporer atau bahkan dangdut. ‘’Satu instrumen yang menjadi ikon adalah beduk. Ke mana-mana selalu dibawa. Ini warisannya Mbah KH Mujab Tohir dari Ponpes Al-Idris,’’ sebut Hendrik.

Sejak dulu Nada Utama 99 tidak pernah membeda-bedakan acara. Mendapat tawaran manggung di mana saja, selalu dihadiri. Mereka pun tak pernah membatasi jumlah lagu yang dibawakan dalam setiap kali manggung. Karena tidak suka menolak, banyak pengalaman unik yang dialami. Misalnya, tawaran manggung di Trenggalek. ‘’Lokasinya di pelosok desa. Pakai mobil pun tidak bisa. Jadi harus dijemput di desa karena saking terpencil,’’ cerita pria yang sehari-hari bekerja sebagai penyuluh agama itu.

Nada Utama 99 tetap mampu bertahan kendati jadwal pentas tak sesering dulu. Sebelum 2010, dalam sebulan Nada Utama 99 bisa tampil lebih dari 20 kali. Belakangan, tinggal 10 atau 15 kali dalam sebulan. Meski demikian, tawaran datang tidak hanya dari Ponorogo. Juga dari kota-kota besar seperti Malang atau bahkan Jakarta. ‘’Terakhir ada tawaran dari Jakarta, tapi masih dipertimbangkan karena biaya,’’ sebutnya.

Turunnya frekuensi manggung salah satunya disebabkan selera musik masyarakat yang terus berkembang. Mau tidak mau harus kreatif untuk bisa menjawab tuntutan pasar. Saat ini grup kasidah yang terjun ke musik kontemporer bukan hanya Nada Utama 99. Ada sejumah grup musik lain di Bumi Reyog. ‘’Tantangannya bagaimana supaya kasidah tetap diterima di masyarakat yang seleranya sudah semakin beragam ini,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close