Madiun

Mengikuti Blusukan Sejarah ala Komunitas HVM

Komunitas HVM memiliki cara tersendiri untuk mengenalkan warga tempat-tempat bersejarah di Madiun. Beberapa hari lalu mereka menggelar acara blusukan sejarah dengan mengunjungi sejumlah bangunan historis di Kota Karismatik.

—————

DILA RAHMATIKA, Madiun

JARUM jam menunjukkan pukul 08.00. Satu persatu peserta blusukan sejarah berkumpul di sekitar patung Kolonel Marhadi kawasan alun-alun Kota Madiun. Setelah semuanya datang, seorang di antaranya memberikan pengarahan sebelum akhirnya rombongan diberangkatkan.

Tujuan mereka hari itu adalah rumah Kapiten China Njoo Swie Lian di seberang alun-alun. Sembari menjelaskan aturan-aturan yang wajib ditaati, panitia membagikan peta kawasan alun-alun Kota Madiun di masa lampau.

Rumah berasitektur Indische empire dengan ciri khas tiang-tiang menjulang di pelataran rumah Kapiten China pun menyambut kedatangan para tamunya. Di atas pintu utama terukir simbol salib. Sedangkan dinding dan lantai berhiaskan ornamen khas Tiongkok.

‘’Kapiten China itu istilah untuk koordinator warga Tionghoa di kampung pecinan pada masa lalu. Jadi, bukan kapten yang artinya pangkat,’’ jelas Janus Indar Puguh Susetyo, guide dari Komunitas Historian Van Madioen (HVM).

Menginjakkan kaki ke ruang tamu, mereka disuguhi pemandangan sejumlah perabotan. Mulai meja, kursi, lemari, sampai meja hias berbahan kayu jati yang terlihat kokoh. Menegaskan sosok Njoo Swie Lian yang pada masa itu merupakan seorang exploitan hutan. ‘’Ukiran dari perabot rumah ini perpaduan gaya Eropa, China, dan Jepara,’’ tuturnya.

Uniknya, lantai setiap ruangan memiliki motif berbeda-beda. Pun, tersirat filosofi yang melambangkan keberuntungan. Desain ruangan juga dibuat dengan mempertimbangkan fengshui. ‘’Rasanya dingin kan?. Ini karena atap dibuat lebih tinggi. Saat cuaca dingin terasa hangat, saat panas terasa sejuk,” papar Puguh kepada rombongan saat berada di sebuah kamar berjendela dua pintu.

Dari kamar, rombongan lantas menyusuri ruang keluarga. Sudut ruang tersebut tedapat laci yang dulu konon digunakan sebagai altar peribadatan. Menuju teras belakang rumah terdapat taman yang luas dan bangunan memanjang. ‘’Teras rumah ini biasa untuk bersantai keluarga kapiten,’’ ungkapnya.

Menyusuri jalanan setapak membelah taman, sampailah di kamar mandi. Tiga sekat ruangan terbagi menjadi beberapa area yang berbeda fungsinya. Paling ujung adalah kamar mandi khusus untuk karyawan kapiten, penampungan air, kloset duduk, dan kamar mandi yang lebih luas.

Kondisi bangunan di area itu mayoritas rusak berat dengan plafon yang berlubang. Pun, rombongan sempat dibuat gumun  saat mengetahui kamar mandi tuan rumah yang sudah terpasang shower. ‘’Dulu tahun 1900-an sudah ada shower, airnya dari tandon,’’ imbuh Puguh.

Setelah hampir satu jam napak tilas rumah Kapiten China Njoo Swie Lian, acara blusukan sejarah berlanjut ke Pendapa Kabupaten Madiun. Kemudian, SDN 01 Pangongangan, dan kantor polisi kehutanan yang dulunya merupakan asrama kepangeranan.

Setelah itu, rombongan diajak mengunjungi gedung bioskop pertama di Madiun yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Pada era kemerdekaan, bangunan itu sempat berganti nama menjadi Gedung Apollo sebelum akhirnya menjadi Arjuna. ‘’Selain untuk memutar film, dulu bangunan ini dipakai pertunjukan wayang orang,’’ timpal Sulung, ketua HVM.

Hari beranjak siang, rombongan melanjutkan perjalanan ke gedung BRI Jalan Alun-Alun Timur. Data sejarah yang dihimpun HVM, bangunan itu dulu bernama Landbouw Creedit Bank yang disebut-sebut sebagai bank pertama di Madiun.

Terakhir, blusukan sejarah singgah di Toko Sinar Harapan yang dulu bernama Toko Roti Liem. ‘’Ini bagian dari acara peringatan Hari Jadi ke-101 Kota Madiun,’’ ujarnya. ‘’Sebenarnya peserta kami batasi  30 orang, tapi yang datang 40 orang,’’ imbuhnya. ***(isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button